Banggai: Surga Kecil bagi Traveller, Burung Maleo dan Pecinta Literasi


Assalamu'alaikum wr.wb.
Hola Halo!

Apa yang teman-teman pikirkan setelah membaca data-data di bawah ini:
  1. Tingkat  literasi Indonesia menempati tempat ke-60 dari 61 negara yang disurvey oleh The World's Most Literate Nations. Sedangkan di Asia Tenggara sendiri, Indonesia menempati peringkat ketiga dari bawah sebelum Kamboja dan Laos.
  2. Indeks tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001 (UNESCO, 2012). Itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Dengan rasio ini, berarti di antara 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250.000 yang punya minat baca. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 88,1 juta pada 2014. Waduh!
  3. Anak-anak Indonesia membaca hanya 27 halaman buku dalam satu tahun (UNESCO, 2014).
  4. Hanya 17,66% anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki minat menonton mencapai 91,67 (Survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS), 2012).
Kesimpulannya: Indonesia darurat literasi!

Tingkat literasi suatu negara dapat menggambarkan seberapa maju negara tersebut. Lebih dari itu, produk literasi adalah warisan peradaban yang harus dijaga dan dilestarikan. Tanggung jawab bersama semua generasi negeri ini.


Dari permasalahan di atas diperlukan adanya edukasi dan pengenalan lebih intim mengenai literasi pada masyarakat kita terutama untuk generasi muda. Sarana edukasi dan pengenalan ini bisa ditransformasikan ke dalam bentuk dan salah satunya adalah dengan festival sastra. Ya, Indonesia membutuhkan lebih banyak festival sastra yang diadakan di banyak tempat terutama di daerah-daerah yang jauh dari pusat pembangunan agar melek literasi dapat dirasakan oleh semua masyarakat Indonesia.

Terkait dengan ini, saya mendapatkan kabar baik yang mengejutkan! Kabar baik ini berupa kabar bahwa akan diadakannya festival sastra perdana yang harapannya dapat membumikan sastra dan memberikan identitas baru pada daerah penyelenggara. Mengejutkan, karena kabar ini datang dari kabupaten kecil di Sulawesi Tengah yang bernama Banggai.

Ah, teman, apakah kalian pernah mendengar tentang Banggai? Jika belum, izinkan saya memperkenalkan setitik surga di bumi Allah ini kepada kalian, ya.. :)

Banggai sendiri sangat akrab di telinga saat saya bekerja di salah satu bank syariah swasta di negara ini. Saat itu saya adalah staf di Learning Center dan bertugas untuk mengurus segala hal tentang keuangan peserta pelatihan dari seluruh Indonesia, termasuk Banggai. Kantor kami memiliki cabang di Luwuk dan beberapa kali pula saya berkomunikasi dengan teman-teman di sana perihal pelatihan.

Saat itu, yang saya tahu tentang Luwuk, Banggai adalah hanya sebatas kota kecil di Sulawesi Tengah yang memiliki potensi luar biasa. Kota kecil dengan fasilitas top. Di sana, Garuda Indonesia sudah hilir mudik mengantarkan penumpang, hotel berbintang tersedia di sana, alat-alat transportasi terbaik dan masih banyak lagi.

Ibukota Kabupaten Banggai, Luwuk
Sumber: banggaikab.go.id

Kabupaten Banggai yang beribukota di Luwuk adalah salah satu daerah yang termasuk dalam Provinsi Sulawesi Tengah. Wilayah Kabupaten Banggai berbatasan dengan Teluk Tomini di sebelah utara, Laut Maluku dan Kabupaten Banggai Kepulauan di sebelah timur, Selat Peling dan Kabupaten Banggai Kepulauan di sebelah selatan serta Kabupaten Tojo Una-una dan Kabupaten Morowali Utara di sebelah barat. Luas wilayah daratan Kabupaten Banggai adalah sekitar 14,22 % dari luas keseluruhan Sulawesi Tengah.

Kabupaten Banggai "bertetangga" dengan dua kabupaten lain yaitu Kabupaten Banggai Kepulauan dan Kabupaten Banggai Laut. Kabupaten Banggai Kepulauan ini sering disebut sebagai "Kabupaten Maritim" karena terdiri dari 5 pulau sedang (Pulau Peling, Pulau Banggai, Pulau Bangkurung, Pulau Salue Besar dan Pulau Labobo) dan 337 pulau-pulau kecil. Wah, seperti miniatur Indonesia, bukan?

Sementara itu, Kabupaten Banggai Laut adalah kabupaten termuda, hasil pemekaran dari Kabupaten Banggai Kepulauan. Kabupaten ini terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil nan indah. Di kabupaten ini pula konon pernah berdiri dengan megahnya Kerajaan Banggai yang peninggalannya masih masih terjaga hingga kini.

Lebih jauh lagi tentang Banggai, setidaknya ada 4 hal yang membuat kita, Indonesia, harus bangga memiliki Banggai!

1. Memiliki destinasi wisata super lengkap dalam satu kawasan


Jika kita ingin berlibur ke banyak destinasi dengan waktu yang terbatas, katakanlah tiga hari, maka Banggai dapat dijadikan tujuan. Dengan luas 72,82 kilomenter persegi, Banggai memiliki kekayaan alam yang memiliki potensi amat besar di bidang pariwisata.

Saat menjelajahi Banggai, kita akan menemukan kepulauan nan indah, laut nan kaya akan organisasi hidup, pantai nan menawan, perbukitan nan sejuk, padang savana nan luas, air terjun nan unik sampai danau nan jernih airnya. Lengkap, bukan?

Ah, supaya teman menjadi ingin berkunjung ke Banggai, rasanya saya harus menunjukkan berbagai wajah Banggai yang saya ambil dari beberapa akun Instagram dan blog yang sebelumnya sudah lebih dulu merekam keindahan Banggai. Silahkan menikmati!

Pulau

Pulau Dua, Balantak, Kabupaten Banggai.
Pulau Dua adalah andalan dan icon wisata Sulawesi Tengah. Pulai ini memiliki keindahan pantai yang sangat memukai dan kekayaan bawah laut yang memesona.

Kekayaan bawah laut di Pulau Dua.
Laut Pulau Dua akan memanjakan pengunjung yang ingin melakukan snorkeling atau diving. Laut ini adalah tempat tinggal bagi spesies ikan hias laut yang amat lucu dan unik.

Pulau Tinalapu, Lupuk, Kabupaten Banggai.
Tinalapu adalah pulau kecil yang memiliki pasir putih nan lembut dan pesona alam yang dapat dibandingkan dengan Bunaken.

Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di Pulau Tinalapu dan menjadi rumah bagi ikan kecil warna-warni.
Jangan sampai dilewatkan ketika snorkeling, ya!

Snorkeling di Pulau Bakakan.
Pulau ini adalah pulau tak berpenghuni yang jaraknya cukup dekat dari Kota Banggai.
Sumber: kitaina.id

Jika beruntung, kita akan menemui pasir timbul dalam perjalanan menuju Pulau Bakakan.
Cantik, ya?
Sumber: kitaina.id

Laut

Banggai Cardinal Fish.
Adalah jenis ikan yang hanya bisa ditemukan di perairan Banggai.

Kekayaan laut dari Banggai Laut yang membuat siapapun jatuh cinta bahkan jika hanya melihat dari foto.

Jangan lupa untuk menuntaskan kewajiban snorkeing dan diving di Taman Laut Kima di perairan Desa Mbuang-mbuang

Pantai

Pantai Kelapa Lima.
Salah satu surga tersembunyi yang belum terjamah di Banggai Laut.
Sumber: kitaina.id

Pantai Kilo Lima.
Pantai nan indah ini masih berada di kawasan Kota Luwuk.
Sumber: indonesia-tourism.com

Bukit

Menikmati alam di Bukit Keles.

Panorama alam dari atas Bukit Keles

Banggai juga memiliki Bukit Teletubies yang sangat indah dan instagramable!

Padang Savana

Banggai rasa New Zealand.
Ya, kita juga dapat menikmati pemandangan padang savana di Luwuk, Banggai, tepatnya di Desa Lenyek.
Sumber: mahendradhani.blogspot.com

Air Terjun

Air terjun Piala.
Kawasan wisata yang baru populer setahun belakangan ini tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Banggai.
Pengunjung bisa terjun ke dalam aliran air atau berfoto berlatar belakang air terjun berwarna hijau. Indah!

Air terjun Salodik.
Air terjun ini memiliki kontur bertingkat dengan air yang segar.
Sumber: kitainda.co.id

Air terjun Hanga-Hanga.
Kesan yang saya dapatkan saat melihat foto ini adalah: Masya Allah, indah!

2. Rumah bagi Burung Maleo


Burung maleo sekawor (Macrocephalon maleo) atau yang biasa disebut burung maleo adalah burung endemik khas Sulawesi. Dikatakan endemik karena memang burung ini hanya bisa berkembang biak dengan baik di Sulawesi. Namun, tidak semua tempat di Sulawesi yang memiliki populasi burung maleo. Hanya ada beberapa tempat yang memiliki penangkaran burung maleo dan salah satunya adalah Banggai.

Burung maleo.
Sumber: wikipedia.org

Penangkaran ini sangat dibutuhkan karena kini burung maleo berstatus sebagai binatang yang terancam punah. Status tersebut diperkuat melalui PP No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan masuk ke dalam burung dengan kategori endangered oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) serta daftar Appendix 1 dari Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Herman Sasia, "pahlawan maleo" adalah pejuang yang peduli akan burung maleo.
Ia pernah menerima penghargaan Kalpataru tahun 2014 dari Wakil Presiden Boediono.
Sumber: mongabay.com
Pantai Taima, Kabupaten Banggai, sebagai salah satu pantai penangkaran burung maleo
Sumber: http://dinnysrikandi.blogspot.co.id

Pelepasan burung maleo di Suaka Margasatwa Bakiriang oleh perusahaan BUMN
Sumber: pep.pertamina.com

Telur burung maleo memang diminati oleh para predator. Predator-predator ini beragam, mulai dari binatang hingga manusia. Mulai dari yang terkecil yaitu semut, hingga ego manusia yang menjual telur maleo di pasar gelap.

Telur maleo yang memiliki besar 5 kali lipat dari telur ayam
Sumber: logku.blogspot.com

Beruntunglah Banggai karena nampaknya burung maleo telah menambatkan hati di Banggai. Menurut telusuran sejarah, diketahui sejak tahun 1200-an burung maleo telah berkembang biak di Banggai. Jadi, tidak heran jika burung maleo pun amat lekat dengan kebudayaan masyarakat Banggai.

Telur burung maleo yang dikumpulkan di rumah adat untuk ritual Tumpe.
Sumber: travel.detik.com

Pengantaran telur maleo.
Sumber: Konawe Institut Banggai

Bukan hanya sebagai satwa endemik khas Banggai, namun burung maleo sudah menjadi kebanggaan dan mendarah daging dalam adat istiadat Banggai. Ada banyak sekali pengaruh burung maleo terhadap keragaman budaya dan kearifan lokal Banggai, seperti dalam logo Kabupaten Banggai, tarian, simbol adat, ritual, cerita rakyat dan selebrasi lainnya. Sehingga tidak salah jika Amin Abdullah dalam artikelnya menyebutkan bahwa Banggai dapat menjual wilayahnya dengan merek "Tanah Burung".

3. Kebudayaan yang masih terjaga


Jika ada satu hal yang membuat saya bangga akan bangsa Indonesia, hal itu adalah kekayaan budaya yang dimiliki bangsa besar ini. Bukan hanya beberapa budaya yang dimiliki bangsa ini, tapi ada jutaan budaya yang lahir dan berkembang di sini. Uniknya, budaya-budaya ini bukan menjadi pemecah namun justru menjadi pemersatu. Bhinneka Tunggal Ika.

Namun, di tengah roda zaman yang berputar terlalu kencang, rasanya kebudayaan menjadi hal yang terasa jauh dari genggaman. Di tengah dunia yang sudah dikuasai teknologi ini itu, rasanya jiwa ini rindu akan ramahnya kebudayaan. Maka, pulanglah ke Banggai, karena Banggai masih menjaga kebudayaannya untukmu, Indonesia.

Secara keseluruhan, terdapat tiga suku di Banggai, yaitu Suku Banggai, Balantak atau Saluan yang biasa disingkat dengan Babasal. Adapun suku asli di daerah Banggai adalah Suku Banggai yang terdiri dari Suku Banggai Kepulauan dan Sea-sea (yang bermukim di pegunungan Kabupaten Banggai). Bahasa yang digunakan adalah bahasa Banggai yang merupakan perpaduan antara bahasa Malayo dan Polinesia.

Ada banyak produk kebudayaan Banggai yang hingga kini masih bisa kita amati dan nikmati. Sebut saja tarian, nyanyian, berbagai selebrasi adat dan banyak lagi. 


4. Festival Sastra Banggai


Jika dalam waktu dekat teman memutuskan untuk pergi ke Banggai, poin keempat ini adalah alasan utama mengapa kita harus ke Banggai. Oh, menuliskannya saja sudah membuat saya begitu bergairah. Ya, ada Festival Sastra di Banggai!

Sumber: facebook.com/babasalmombasa

Dengan fakta bahwa Indonesia sudah darurat literasi, rasanya para Babasal Mombasa (gabungan komunitas literasi di Banggai) menjadi pahlawan yang datang di saat yang tepat. Tidak kepagian ataupun kesiangan. Festival Sastra Banggai hadir di saat masyarakat Indonesia haus akan pesta kata-kata. Jadi, marilah berpesta kata, teman!




Berpesta kata dengan para penulis hebat!
Sumber: facebook.com/babasalmombasa

Jika Makassar memiliki Makassar International Writer Festival (MIWF) dan Bali dengan Ubud Writers Readers Festival (UWRF)-nya, maka Indonesia memiliki satu lagi festival sastra. Festival Sastra Banggai. Festival ini akan diadakan pada 20-23 April 2017 di Kota Luwuk, Banggai. Tahun ini menjadi tahun kelahiran Festival Sastra Banggai (FSB) sekaligus mendobrak keinginan menuju Banggai yang nantinya ingin dikenal sebagai kawasan berbudaya literasi. Ah, selamat datang atmosfer budaya literasi di Banggai.

Jadi, rasanya tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa Banggai adalah surga kecil untuk para traveller, burung maleo dan juga pecinta literasi, bukan? Karena kami bangga di Banggai. Dan ingin sekali rasanya raga ini menginjakkan kaki ke sana!

Mari kita ke Banggai, berkunjung ke salah satu surga di bumi Allah dan berpesta kata! "Rayakan Kata, Bumikan Ilmu!"

Tabik,
-Si Ibu Jerapah-

Referensi:
http://www.banggaikab.go.id/
http://www.bangkepkab.go.id/
http://telukpalu.com/2016/02/kabupaten-banggai-laut/
http://www.telusurindonesia.com/pulau-dua.html#
https://kitaina.id/banggai-laut-surga-tersembunyi-di-sulawesi-tengah/
https://kitaina.id/luwuk-ngana-memang-balekos/
http://travel.detik.com/readfoto/2015/11/30/173100/3077160/1026/1/aneka-pulau-cantik-di-banggai-laut-sulteng
http://www.indonesia-tourism.com/forum/showthread.php?49765-Kilo-Lima-Beach-Luwuk-Central-Sulawesi
http://mahendradhani.blogspot.co.id/2015/01/mengejar-matahari-di-lenyek.html
https://travel.detik.com/read/2014/01/12/162000/2392524/1025/tinalapu-pulau-dengan-perairan-sebening-kaca
https://pep.pertamina.com/Artikel/Melestarikan-Maleo-sebagai-wujud-kecintaan-pada-budaya
http://dinnysrikandi.blogspot.co.id/2016/07/maleo-upaya-penyelamatannya-di-taima.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Maleo_senkawor
http://www.mongabay.co.id/2014/09/13/maleo-burung-endemik-sulawesi-yang-masih-menyisakan-teka-teki/
https://travel.detik.com/read/2016/12/02/082500/3360540/1519/mengenal-tumpe-ritual-telur-pertama-burung-maleo
http://wisatadanbudaya.blogspot.co.id/2009/08/catatan-dari-festival-banggai.html
http://www.festivalsastrabanggai.com/2017/02/01/tentang-festival-sastra-banggai/
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1246/suku-banggai-sulawesi-tengah
http://purnomolamala.blogspot.co.id/2014/08/budaya-yang-ada-di-bangkep.html
http://www.ibujerapah.com/2016/12/mengenalkan-bayi-pada-buku-mengapa-tidak.html?m=1

Comments

  1. Sama mbak, menuliskannya aja bikin bergairah, apalagi mengunjungi langsung ya, bener2 bangga ada banggai di bumi Indonesia!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbaa.. nulis artikel ini aja aku udah semangat!
      Semoga FSB 2017 menjadi awal untuk lahirnya festival-festival literasi di daerah lain yaa aamiin

      Delete
  2. Wah aku baru tahu tentang Banggai. Teryata banyak sekali pemandangan alam yang luar biasa indah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyo mba.. nggak nyangka ternyata cantik banget tempatnya :') masya Allah..

      Delete
  3. Wow! Beneran kualitas memang lomba. Daku yang baru tau ada tempat namanya Banggai dari blog ini jadi pengen ke sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teh shaann.. jadi geer 😂
      Iya kaan, jadi pengen ke sana ya..
      Indahnya masya Allah 😘

      Delete
  4. Masya Allah Banggai cantik.
    Angkut aku kesana, please.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cantik ya mbaa.. dan belum dikenal banyak orang..
      Hayuk ke sana yuuuk..

      Delete
  5. Salam buat Banggai ya, lihat fotonya keren-keren euy!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah disampaikan teh, kalau saya nggak lupa ya tapinya 😅
      Keren banget, indah banget 😘

      Delete
  6. Terbius Banggai melalui tulisan Desy.

    Indahnya Indonesia.

    Harusnya makin banyak orang yang mengangkat keindahan Indonesia yang lain seperti ini.
    Agar berlibur, tak harus keluar negeri.

    Kita punya surga di sini.
    Di tanah air kita, Indonesia tercinta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuhuuu sepakat mba!
      Nggak usah ke luar negeri karena Indonesia ini punya banyaaaakkk banget kekayaan alam yg bisa dieksplor 😘

      Delete
  7. Sebelumnya selamat y mba Desi menjadi juara ^^
    dan aku termasuk orang kudet yang baru tau ttg Banggai masyaAlloh indah banget :) Indonesia punya bnyk destinasi wisata yang indah salah satunya Banggai :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbaaa 😘
      Iya mba, aku juga selama ini hanya tau Luwuknya aja. Ternyata indaaah sekali.. masya Allah..

      Delete
  8. Hai...hai...
    Terimakasih ya Te Dessy atas partisipasinya pada event FSB2017 di Luwuk Banggai. Maaf saya baru membaca tulisan ini, karena selama teteh di Luwuk kita hanya sibuk dengan para narasumber, terimakasih juga sudah menulis dengan sangat apik tentang daerah kami.... pertemuan kita bukan kali ini saja ya..... semoga ada even-even beikutnya yang bisa mempertemukan kita. Saya masih punya utang janji sama teteh.....
    Salam sayang dari kami emak dan putrinya.....Madam n Indy.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts

Institut Ibu Profesional