Akibat dari Berlebihan dalam Melarang Anak (Kisah Nyata)


Assalamu'alaikum wr.wb.
Hola Halo!

Kedatangan kami di Belgia bertepatan dengan dibukanya Kawasan Binatang Asia di Planckendael, Kebun Binatang Brussel. Dalam rangka menyemarakkan pembukaan kawasan tersebut, KBRI Brussel diundang untuk mengisi panggung di acara pembukaan tersebut. Akhirnya, pada suatu hari yang cerah di awal musim panas, kelompok angklung kami berkesempatan untuk perform di panggung Asia tersebut. Senang? Waw, senang sekali! Apalagi kesempatan bertemu warga lokal yang biasanya banyak berkumpul di taman saat musim panas. Uhuy!

Kemungkinan akan adanya banyak penonton ini juga mempengaruhi rencana penampilan kami. Karena sifatnya informal, maka ketua kelompok menyarankan untuk kami turun panggung dan menari dengan pengunjung. Menari apa? Tentu saja Poco-Poco yang danceable itu!

Karena rencana ini, maka kelompok dibagi dua. Kelompok pertama tetap bermain angklung, memainkan irama Poco-Poco. Kelompok kedua bertugas mengajak penonton berdansa sekaligus mengajari gerakan Poco-Poco nan fenomenal.


Saat itu (bahkan sampai sekarang), saya dikenal sebagai pribadi yang sembrono, kaku dan ah pokoknya nggak berbakat jadi penari. Haha, ngenes. Jadi, walaupun saya pengeeeen buanget terpilih menjadi kelompok kedua, saya sadar diri, nggak mungkin lah saya terpilih. Dan benar saja, saat sampai giliran saya dipilihkan kelompok oleh Mamel (pelatih sekaligus dirigen kami), tanpa pikir panjang Mamel berkata, “Ah, Dessy mah main angklung aja ya..” sambil memasang wajah “do you know the reason, kan?”. Sudah diduga, haha.. -.-


     Catatan: Mau majang video pas di Planckendael tapi ternyata udah nggak ada. Video ini aja lah, ya! Bahahaha

Kejadian yang terjadi belasan tahun yang lalu tersebut memang remeh temeh dan saya tahu kalau Mamel hanya bercanda dan saya sadar diri bahwa saya memang kaku, tapi ternyata itu menjadi labelling yang amat kuat untuk kepribadian saya. Saya menjadi amat tidak percaya diri saat harus tes senam aerobik, terlalu takut mencoba UKM menari saat kuliah, malas mencoba Zumba dan segala macam olahraga yang berirama dan lain sebagainya.

Tapi ya sudahlah, nggak bikin dunia berhenti toh? Hoho..

Sampai akhirnya saya melakukan tes sidik jari dan menemukan hasil yang amat mengejutkan untuk saya. Sampai nggak percaya kalau “Ini kamu, lho! Iyaaa.. Kamu, dece, ya ampuuunn..” -.-

Jadi ini hasil tes sidik jari yang bikin saya geleng-geleng kepala:
  • Kinestetik menjadi learning style dominan kedua setelah visual.


Saya nggak begitu kaget ketika tahu bahwa learning style saya didominasi oleh visual. Itulah alasan mengapa saya begitu menikmati membaca buku dan menulis. Selain hobi, kedua hal tersebut terbukti ampuh sebagai stress release dan tentunya me time yang efektif.
Namun, betapa kagetnya saya ketika kinestetik menjadi dominan kedua. Apa? Saya? Kinestetik? Padahal ya, tau sendiri lah, saya orangnya gimana. Nggak kebayang kalau saya itu kinestetik yang notabene belajar melalui gerakan tubuh. Lah, bergerak aja nggak pernah, kok! Wahahaha..
  • Seni olah tubuh saya punya potensi yang amat besar untuk dikembangkan!

Nah, bisa dilihat yaa di grafik ini, kalau ternyata potensi terbesar yang saya punya adalah SENI GERAKAN! Seni gerakan adalah potensi responsif bawaan untuk mengendalikan sistem peraba dan olah tubuh yang bersifat artistik. Dan, lihat nggak daerah berwarna abu-abunya? Itu adalah potensi yang belum digunakan alias masih nganggur, bobo nyenyak dalam tubuh. Sedih nggak sih, gais? Huhu.. Ternyata aku berbakat jadi penari profesional. Eaaa.. Nggak gitu juga sih -.-

Kenapa ya, kira-kira bisa kayak gitu? Maksudnya, kok bisa sih potensi bawaan hadiah dari Sang Pencipta nggak terdeteksi sejak dini dan malah disangka jadi kelemahan?

Setelah flashback dan menggali kenangan, akhirnya saya sampai ke suatu titik asal, di mana semua bermula. Sejak kecil sampai SMA, saya dididik oleh Oma dan Papa yang gualak buanget. Hahaha.. Di saat anak lain keluar rumah main, saya hanya memandang dari jendela. Baru bisa main kalau hari libur dan itu pun benar-benar dibatasi, harus pulang sesuai waktu yang ditentukan. Kalau nggak? Ya dimarahin, serem lah pokoknya. Gertakan seperti, “Jangan itu! Jangan ini! Bahaya! Nanti gini! Nanti gitu!” sudah biasa banget dan jadi makanan sehari-hari.

Sejak itu, dece kecil jarang main, jarang keluar rumah. Nilai 6 di mata pelajaran olahraga adalah kebahagiaan hakiki alias dapet segitu aja udah baik banget gurunya, wahaha. Intiny, saya jarang banget beraktivitas fisik. Sukanya apa? Baca, baca dan baca. Karena itu adalah satu-satunya kegiatan yang nggak menuai huru-hara di rumah. Padahal, adek saya atlet lho. Pun kakak saya. Tanya kenapa? Bahaha..

Nyambung nggak sih ini semua dengan kenapa potensi yang saya punya nggak teroptimalkan? Saya rasa nyambung ya, gimana menurut kamu, maks?

Nah, karena itulah, saya nggak pernah larang-larang ini itu sama Ahza. Main pisau? Sok aja, sambil ibu liatin. Nyobain obat mencret? Sok aja, kan itu pait, wek! Manjat-manjat pohon? Sok aja, ibu tungguin di bawah. Ikut nyemplungin sosis ke minyak panas? Sok aja, tapi pelan-pelan, kalau muncrat kena tangan Ahza lho. Hampir jarang lah saya bilang, “Jangan ini itu!”. Dan kemudian Enin stres. Hahaha..

Karena saya tahu, saya sadar. Efek pelarangan ini itu hanya bikin anak jadi penakut dan apatis. Pelarangan hanya bikin anak takut mencoba hal yang baru. Pelarangan hanya membuat anak.. KAKU?

Mau anaknya kayak saya, maks? Yang sebenarnya berbakat jadi penari profesional (ealah dibahas lagi, bahaha) tapi malah takut nyoba nari karena males dibilangin ini itu? Yang hanya karena labelling bertahun-tahun sebagai ‘anak kaku’ bikin saya pesimis duluan kalau tes olahraga dan nilainya butut terus? Mau mau mau?

Kalau nggak, please stop larang-larang, lah! Stop labelling “Anak nakal! Anak males! Anak tukang ompol!” dan lain-lain lah!

Kalau memang takut anaknya kenapa-kenapa, temenin anaknya main. Temenin anak eksplorasi! Jangan anak dibiarin main, tapi ibunya asyik sendiri main handphone. Anaknya udah di ujung kompleks, baru kebingungan nyariin. Jangan kayak gitu ya, maks!


Haha, jadi marah-marah, bu? Ini hanya curahan hati aja kok, maks! Supaya sama-sama kita berjuang jadi ibu yang baik untuk anak-anak. Ibu yang selalu support hal-hal yang disukai anak. Ibu yang nggak pernah bosen mengeksplor bakat anaknya. Menjadi ibu dari anak-anaknya yang bakatnya dihidupkan bukan dimatikan.

Ah, jadi ingat kata-kata Abah Ihsan di PSPA tahun lalu, 
“Anak-anak itu pertama kali dipecundangi di dalam rumah, oleh orangtuanya sendiri!”

Dan juga kata-kata Pak Munif Chatib yang begitu menyengat kalbu, 
“Jangan sampai bakat anak-anak kita dimatikan di tangan orangtuanya sendiri! Di tangan gurunya sendiri!”

Mulai sekarang, hayuk temenin anak-anak kita main, maks! Yuk, main, yuk!

Semoga kita selalu jadi ibu yang membersamai anak, bukan hanya ibu yang hanya ada di dekat anak. Btw, tahu bedanya kan, maks?

Saya juga masih terus berproses jadi ibu yang baik. Bahkan, masih jauuuuh banget buat jadi ibu yang baik buat Ahza. Masih marah-marah, masih suka males nemenin main, masih suka tidur duluan. Heuu..

Maafin ya kalau ada yang kesal baca postingan ini. Peace, love!

Salam sayang,

-Ibu Jerapah-

Comments

  1. Saya jarang banget larang Marwah jangan ini jangan itu, tapi salahnya saya itu suka nyuruh dia mengalah, dan akhirnya? Dia selalu mengalah, mengajarkan anak untuk mengalah juga ga bagus, huhuhu. Sekarang lagi fight biar Marwah ga selalu mengalah, mengalah pada kondisi tertentu saja. Lah kok saya jadi curhat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, iya ya teh.. Memang anak itu akan menjadi seperti apa yg orangtuanya arahkan. Duh, musti hati2 banget ya, pilah pilih apa yg harus diajarkan sama anak.
      PR besar jadi orangtua.
      Makasih udah sharing ya teh :*

      Delete
  2. masih suka bilang jangan tapi pake alesannya kenapa dilarang, haks.. tapi ga terlalu ketat sih.

    tapi salut lho diriku sama dirimu dc.. dg berbagai ujian yg ada, bs tetep oke dimana2.. redup 1 potensi tp kece dipotensi lainnya

    jd pengen tes sidik jadi juga deh. diriku merasa jd orang rata2 aja hiks, ga ada yang wah hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dc juga sula bilang jangan kalau memabg bahaya atau dc lagi nggak bisa ngawasin, un.. wahaha..

      Potensi apa atuh, un.. Puguhan ini masih bingung juga 😂

      Hayuk tes sidik jari di DF, bawa anak2 juga un 😉

      Delete
    2. bisa ke luar negri meski bukan nari tp mainin angklung euh kece pisaan..

      bisa S2 di usia muda, jadi dosen, tulisan2nya oke, apalagi coba, hiyaa

      Delete
  3. Berkaca pada diri sendiri, saya itu waktu kecil banyak dilarang, terutama oleh Mbah Putri ( waktu itu kami serumah). Saya menjadi sosok kurang percaya diri dan lebih senang 'ngumpet' di rumah. Dan sekarang punya anak bawaane suka parno, takut berlebihan. Tapi mulai saya kurangi, anak saya juga butuh bersosialisasi kan? 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba.. ditemenin aja mainnya supaya kitanya juga tenang.. atau bisa juga diliatin dari jauh supaya anak tau kalau ibunya kasih kepercayaan buat mereka.
      Makasih udah jalan2 ke sini ya mbaaa :*

      Delete
  4. Jarang2 bilang jangan sama anak, karena biasanya kalau dilarang anaknya malah penarasan. Kenapa kok ndak boleh? Kenapa begini? Kenapa begitu?. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahza belum sampai tahap tanya macem2 sih mba.. wahaha 😂
      Tapi memang semakin dilarang semakin penasaran.. 😂

      Delete
  5. Aseg, dpet ilmu lg di sini, tengkiu loh mbk desy, udh berbagi ilmu sekece ini, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sekedar curhat pikiran bertahun-tahun ini mba.. 😂
      Alhamdulillah kalau ada yg bisa diambil hikmahnya.. unchunch.. :*

      Delete
  6. Ijin share ya bujer 😀
    Harus banyak belajar lagi nih jadi ibu yg baik jangan kebanyakan pegang hp 😊

    ReplyDelete
  7. “Anak-anak itu pertama kali dipecundangi di dalam rumah, oleh orangtuanya sendiri!” Kalimat itu daleeemm bgt ya mba.. Trimakasiii bgt udah nulis ini, aku jd diingetin lg.. :) Jd pingin tes sidik jari juga mba, jgn2 sebenarnya aku jg punya bakat terpendam Hihi.. :D

    ReplyDelete
  8. Huaa.. aku kadang masih suka melarang kok, kalau gak sempet nemenin karena lagi ada kerjaan yang deadline. Hihihi :D

    ReplyDelete
  9. Wah, ini dia. Saya sering dilarang-larang, efeknya sampai sekarang. Baru berani bikin novel pun tahun ini setelah bergulat lama dengan perasaan takut sama pikiran-pikiran orang. Tapi, Alhamd banyak teman-teman disekeliling yang juga mempengaruhi pola fikir saya jadi lebih berani. Termasuk yang banyak mengubah rasa takut (ga pedean) saya ini suami saya, saya belajar banyak dari dia.

    ReplyDelete
  10. aku jarang banget ngelarang, tapi kalau udah kelewatan kayak naik meja gitu yaa aku peringatkan sih

    ReplyDelete
  11. Wah jadi penasaran pengen test sidik jari juga nih mba, makasih banyak sharingnya mba, curhatannya menginspirasi banget ini mah hehe

    ReplyDelete
  12. Aku dulu dibebasin bangt ngapa ngapain, adiku engga

    ReplyDelete
  13. Jarang bilang sama anak, karena biasanya kalau dilarang anaknya malah penarasan. mending harus punya aturan

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts

Institut Ibu Profesional