Kekerasan Seksual dalam Rumah Tangga: Bayang-bayang di Gelap Malam


Assalamu'alaikum wr.wb.
Hola Halo!

#BeBoldForChange, dipilih menjadi tema International Women's Day (IWD) 2017 pada 8 Maret 2017 yang lalu. Melalui tema ini, perempuan di seluruh dunia diajak untuk bisa aktif berbicara dan melakukan perubahan untuk membuat dunia lebih terbuka terhadap kesetaraan gender.

Untuk isu kesetaraan gender saya nggak akan banyak beropini karena bukan ranah saya, ya. Tentang LGBT? Kalau ini mah jelas NO BANGET ya.. Nggak tahu deh kalau Mas Anang. Hehe.. :) Lebih jelas tentang apa yang diperjuangkan dalam IWD 2017 ini bisa dibaca di sini yaa.

Yang akan sedikit saya bahas dan tulis di sini adalah tentang salah satu kampanye pada IWD 2017 ini yaitu gerakan #MulaiBicara. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk tidak tabu lagi membicarakan kekerasan seksual. Jangan sampai kebisuan menjadi alasan bagi kejahatan ini terus berulang!

     Baca kisah saya: Tentang Status Perempuan

Berbicara tentang kekerasan seksual dalam rumah tangga, saya selalu teringat pada malam-malam kelabu yang pernah saya lewati. Ketika hak-hak tubuh dirampas secara paksa oleh seseorang yang paling saya sayangi. Dan saya sadar bahwa saya harus melakukan sesuatu, sekecil apapun, agar kejahatan serupa nggak terus berulang. Yang bisa saya lakukan hari ini adalah mengedukasi lebih banyak rekan perempuan akan adanya kekerasan seksual dalam rumah tangga melalui tulisan. Kekerasan jenis ini seperti bayangan di gelap malam. Nyata adanya namun sulit disadari.

Kita kupas satu per satu yuk!


Kekerasan Seksual dalam Rumah Tangga: Apa dan Bagaimana?


Menurut Komnas Perempuan, 60% kasus kekerasan seksual dilakukan di rumah oleh orang-orang yang terdekat dari korban. Ayah, suami, paman dan saudara laki-laki. Jadi, bisa dikatakan sebagian besar kekerasan seksual ini bisa dikategorikan sebagai KDRT, ya?

Yups, berdasarkan Pasal 1 UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga,
"Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga."

Sedangkan berdasarkan Pasal 8 pada UU yang sama,
"Kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c meliputi: (1) Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut; (2) Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu."

Kekerasan seksual bisa digolongkan sebagai kategori berat dan ringan. Jika kekerasan berupa pemaksaan hubungan, aktivitas-aktivitas yang merendahkan dan menyakitkan bagian tubuh atau pemaksaan hubungan dengan tujuan pelacuran, maka dapat digolongkan sebagai kategori berat.

Sedangkan kategori ringan adalah kekerasan berupa pelecehan verbal dan sejenisnya yang membuat korban merasa direndahkan. Namun, jika kategori ringan ini terus berulang-ulang, bisa dikategorikan menjadi berat juga, lho.

Oh ya, dan berdasarkan data yang juga saya dapatkan dari Komnas Perempuan, hampir 100% pelaku kekerasan seksual adalah laki-laki. Walaupun bisa saja justru laki-laki yang menjadi korban, namun fakta mengatakan bahwa laki-laki memiliki kecenderungan jauh lebih besar dibandingkan perempuan. Mengapa? Lanjut lagi, yuk!


Mengapa Kejahatan Ini Terus Berulang?


Pada tahun 2014, terdapat 2.183 kasus atau 56% dari 3.860 kasus kekerasan pada perempuan adalah kasus kekerasan seksual berupa perkosaan, pelecehan seksual dan paksaan berhubungan badan.

Kok iso ngeri gitu ya angkanya? Fyi, ini yang ketahuan alias dilaporkan ya. Yang nggak dilaporkan? Masih banyak banget nget nget -.-

Jadi, apa sih penyebab kasus kekerasan seksual dalam rumah tangga ini bisa begitu besar jumlahnya? Setidaknya ada beberapa alasan yang menyebabkan tingginya angka kekerasan seksual terutama dalam rumah tangga:


1. Penyelewengan budaya patriarki



Kata Om Wiki,
"Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial."

Berdasarkan sistem ini, ayah punya otoritas terhadap perempuan, anak-anak dan harta benda. Sayangnya,  banyak oknum yang menyelewengkan budaya ini. Terlalu banyak.

Menurut Bu Yohana, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, penyelewengan budaya patriarki ini juga menjadi alasan mengapa tingkat kekerasan perempuan dan anak, bahkan perdagangan manusia menjadi sangat sering terjadi di Indonesia bagian timur seperti Papua, Maluku dan NTT.

Para bapak-bapak ini merasa bahwa mereka adalah "pemilik" para perempuan dan anak-anak. Perempuan dan anak adalah sebagai objek dan kewenangan mereka lah nasib dari perempuan dan anak mereka. Miris? Banget, tapi itulah faktanya.

Tapi kan dalam Islam memang diatur seperti itu? Ish, kata siapaaa?

Justru Islam itu SANGAT MEMULIAKAN PEREMPUAN. Coba, mana ada surat di dalam Al Qur'an yang diberi nama laki-laki? Allah sayang banget dengan kaum perempuan sampai-sampai menurunkan surat Annisa.

Lalu, kata Rasulullah, siapa yang harus dimuliakan oleh kita? Bukankah ibu, ibu, ibu, lalu ayah? Sampai disebut tiga kali lho, saking mulianya. Dan masih banyak lagi bukti bahwa Islam memuliakan perempuan.



Rasulullah pun pernah berkata,
"Masing-masing kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Jadi, please, bagi kalian wahai bapak-bapak yang masih atau punya rencana untuk menyelewengkan budaya patriarki ini, ingat bahwasanya dalam agama pun kita harus memuliakan perempuan. Nggak ada ceritanya perempuan itu "halal" untuk diinjak-injak. Camkan!


2. Kebisuan dari para korban


Kebisuan ini terjadi karena korban yang nggak merasa jadi korban. Masa sih nggak merasa jadi korban? Gimana ceritanya?
Jadi begini, jika kekerasan seksual terjadi di luar rumah tangga, katakanlah, pemerkosaan atau pencabulan di tempat publik, korban akan melaporkan kejahatan ini pada pihak berwajib. Ya walaupun nggak sampai polisi, at least biasanya mereka akan bercerita pada orang terdekat, misalnya keluarga.
Setelah itu, biasanya terjadi beberapa kemungkinan: korban melapor ke polisi atau korban atau keluarga sepakat menutupi hal tersebut dan menganggapnya sebagai aib atau pelaku bertanggung jawab dan menikahi korbannya (duh). Intinya, korban merasa bahwa dirinya korban karena terasa kerugian fisik, psikis atau materilnya.
Akan sangat jauh berbeda jika kekerasan seksual terjadi dalam rumah tangga.
Jika korbannya istri, boro-boro merasa jadi korban, mereka malah menilai bahwa kekerasan tersebut adalah hal yang wajar. Hak suami.
Coba deh, barapak suami dipikirkan lagi. Apakah suami tetap berhak menuntuk hak kalian ketika istri: kelelahan, sakit, sedang datang bulan, masih dalam masa pemulihan setelah melahirkan atau alasan-alasan lain yang bisa dianggap udzur? Coba bayangkan. Jawab ya di hati masing-masing!
Jika dikaitkan dengan Pasal 8 UU Penghapusan KDRT di atas, pemaksaan hubungan seksual bisa dikategorikan sebagai KDRT apalagi sampai menyakiti istri. Dan pasti sakit sih -.-
Terus, kalau istri merasa jadi korban, apakah bisa melaporkan suaminya atas tuntutan memperkosa? BISA BANGET! Sejauh ini sudah dua orang suami yang dihukum penjara karena memperkosa istri. Bapak X (lupa namanya, males juga ditulis di sini) dihukum 5 bulan penjara karena memperkosa istrinya yang sedang sakit parah. Dan Bapak Y dihukum 1 tahun sekian bulan karena memperkosa istrinya di hutan. Iyaaa DI HUTAN! Astaghfirullah.. -.-
Tapi sayangnya, hanya 1 dari 1.000 kasus kekerasan seksual dalam rumah tangga berakhir di meja hijau (kira-kira begitu). Kenapa? Ya seperti yang sudah saya sampaikan di atas, saya dan ribuan penyintas lain tidak merasa menjadi korban. Yang ada di benak kami adalah bagaimana menjadi istri yang baik, yang melayani suami kapanpun dibutuhkan. Dan itu hak mereka.



Ternyata nggak kayak gitu ya, sis. Even kamu adalah istri seseorang, badan kamu tetap hak kamu. Badan kamu adalah titipan Allah yang wajib kamu jaga dan pertanggungjawabkan nanti. Jangan biarkan seorang pun melecehkan kamu, apapun bentuknya! Jangan biarkan seorang pun menyakiti kamu! Kamu punya hak! Tubuh kamu punya hak! Dan lindungi hak-hak itu. Be strong, sis. Kamu pasti bisa! *Langsung cirambay

Dan mari #MulaiBicara, karena kebisuan dari korban hanya akan membuat para pelaku ini merasa bahwa perbuatannya halal dan wajar. Bagi para istri, yuk pelan-pelan obrolin bareng pak suami. Dan bagi para penyintas, mari #MulaiBicara agar banyak yang lebih aware tentang hal ini.

3. Lemahnya sistem hukum di Indonesia


Heloooo Pak Presiden, Pak Menteri, Pak Dewan, atau siapapun..

Berdasarkan data dari Komnas Perempuan, setiap DUA JAM ada TIGA PEREMPUAN yang mengalami kekerasan seksual. Ini fakta yang sangat menakutkan bagi saya. Jangan biarkan Indonesia jadi negara di mana perempuan dan anak selalu hidup dalam ketakutan, Pak, Bu!

Bayangkan kalau hal yang sama menimpa istri, anak perempuan, saudara, keluarga, atau kerabat Bapak/Ibu. Bayangkan! 

Dan tahukah Anda? Kejahatan ini akan terus berulang jika nggak ada regulasi yang secara ketat mengatur akan hal ini. 

Adanya UU Penghapusan KDRT nggak serta merta membuat korban melapor dan meminta perlindungan. Mengapa? Karena regulasinya masih lemah Pak/Bu. 

Sudah saatnya kekerasan seksual ditingkatkan statusnya menjadi kejahatan luar biasa. Supaya apa? Supaya pelakunya kapok dan kejahatan ini nggak terus berulang dan mewabah. Sudah saatnya ada peraturan yang bisa mencegah segala bentuk kekerasan seksual, melindungi korban kekerasan seksual, menindak pelaku kekerasan seksual dan memulihkan korban.

Mari kita dukung dan kawal bersama disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual di Indonesia!

Kekerasan seksual bukan semata kerusakan fisik, Pak/Bu. Lebih dari itu. Ia merusak psikis seorang perempuan yang dampaknya jangka panjang dan merugikan banyak pihak terutama anak-anaknya. Jadi jelas ya, betapa pentingnya isu kekerasan seksual ini jika dihubungkan dengan pembangunan nasional terkait perkembangan generasi penerus bangsa.

Sudah saatnya kita nggak tabu lagi bicara tentang kekerasan seksual. Sudah saatnya kita memecah "kebisuan" ini dengan #MulaiBicara. Saya harap dengan tulisan ini akan banyak yang terbuka matanya mengenai kekerasan seksual terutama yang terjadi dalam rumah tangga.

Walaupun dalam membuat tulisan ini saya memerlukan waktu yang panjang karena harus berjibaku melawan ketakutan, setidaknya saya sudah #MulaiBicara. Kamu?



Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Referensi:
https://www.change.org/p/anggota-dpr-ri-tetapkan-ruu-tentang-penghapusan-kekerasan-seksual-masuk-dalam-prolegnas-2016
https://www.google.com/amp/www.dakwatuna.com/2015/04/10/67074/kesetaraan-gender-kungkungan-budaya-patriarki-dalam-sistem-kapitalisme/amp/
http://m.liputan6.com/news/read/2237544/menteri-yohana-budaya-patriarki-rentan-kekerasan-perempuan-anak
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/11/151125_indonesia_kekerasan_seksual_inferioritas

Comments

  1. Iya, kekerasan seksual ini masih dianggap tabu bwt diomongkan, bahkan, cerita dr tmn wcc, women center, itu ada yg ndak mau dibantu utk melaporkan kekerasan seksual yg dialami loh mbk, gara2 takut sm pihak keluarga suami, hiks, sedih,
    Semoga, soal kampanye mulai bicara ini sukses dan trs berlanjut y mbk, amiinn,

    ReplyDelete
  2. Banyak perempuan yang pertimbangannya terlalu banyak, sampai-sampai nggak mikirkan dirinya. Padahal sebenernya kalau nggak 'bicara', kasihan juga anak-anaknya. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, bener mba. Psikologis anak2nya ini lhooo yang jadi korban.. huhu

      Delete
  3. Perasaan memang kadang mengalahkan logika.... :( Dan perempuan didominasi emosi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul teh. Kadang perasaan ini suka bikin susah sendiri ya :(
      *Pengalaman 😂

      Delete
  4. PR besar untuk kita semua ya DC ��, karena masih banyak di luar sana teman2 yang tidak berani berbuat apapun atas kekerasan yang dilakukan suaminya (dan juga keluarganya).
    Anak selalu jadi alasan, padahal anak justru menjadi korban dlm kasus2 seperti itu. Minimal, secara psikologis.

    Thanks for writing about this DC, stay strong ya dear! ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget teh..
      Kadang ibu bertahan demi anak. Padahal anaknya?
      Kapan-kapan dc nulis dari sisi anaknya ya teh.
      Semoga dikuatkan :)

      Delete
  5. Ih ya Allah, Astaghfirullah.. Untung sekarang pemerintah udh menyediakan badan yg menaungi kegundahan perempuan ya Mba 😑😑😑😑

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba. Semoga benar2 berfungsi dengan baik ya mba :)

      Delete
  6. heu makin takut sama lelaki...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naaayy.. tidak semuaaa laki-lakiiii..
      Wowowowo..
      *Jadi nyanyi
      Jangan takut ah! Kiss..

      Delete
  7. Terima kasih mb sudah mengingatkan kami kaum perempuan utk berani bicara. Moga2 nggak ada lagi kekerasan. Sedih bgt soalnya wanita selalu jadi korban

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mba..
      Semoga negara bisa lebih melindungi kita ya mba :)

      Delete
  8. Makasi sharingnya mbk, bgs bgt, semoga para istri lebih berani utk mengemukakan haknya sbg istri, dan para suami jgn seenaknya mmperlakukan istri mntang2 itu istrinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sami2 mba..
      Iya mba, tubuh kita masih hak kita.
      Jangan sampai ada yg melecehkan ya mba :)

      Delete
  9. Sayangnya kekerasan seksual ini, meski dialami oleh wanita, justru wanita itu pulalah yang sering dituduh sebagai 'playing victim' oleh wanita lain. Ironi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup begitulah mba.
      Belum lagi dapet pasangan NPD. Beuh. Sudahlah -.-

      Delete
  10. Ah, pernah dapet curhatan temen ttg hal ini. Istri seringnya serba salah ya, bingung menentukan sikap karena terlalu banyak main perasaan :(

    TQ for sharing des..kamu hebat :*

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts