Rahasia Menikmati Persalinan ala Ibu Jerapah


Assalamu'alaikum wr.wb.,
Hola Halo!

Bicara tentang sabar, hari-hari tersabar di hidup saya adalah ketika menghadapi persalinan. Hari-hari menjelang pertemuan pertama dengan Ahza.

Kalau dipikir-pikir, kok bisa ya saya sesabar itu? Menahan nyeri, sakit, perih dan apapun itu, selama 3 hari 2 malam. Lama? Ah, masih banyak ibu-ibu hebat yang mengalami persalinan sampai berminggu-minggu. Masya Allah..

Hari Minggu itu kandungan saya berusia 37 minggu lebih beberapa hari. Berdasarkan Hari Perhitungan Lahir (HPL), kami masih memiliki waktu sekitar 3 minggu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Yuhuuu, memang dasar deadliners, persiapan kelahiran pun saya mepet, menunggu detik-detik terakhir. Hihihi..

Nggak disangka, sekitar jam 9 pagi saya mengalami kontraksi. Saya langsung yakin bahwa ini bukan kontraksi palsu karena lama dan interval kontraksi yang sesuai dengan ciri-ciri kontraksi palsu pada berbagai referensi kehamilan yang rajin saya baca selama 9 bulan terakhir, hehe..

Siangnya, kami langsung menuju bidan terdekat dan ternyata saya sudah Pembukaan 1. Wah, ternyata hari lahir maju tiga minggu!

Awalnya saya pikir saya akan melahirkan hari itu juga. Tidak ada keluarga yang dihubungi, kecuali keluarga ayahnya Ahza yang masih satu kecamatan. Ternyata, Allah memberi saya rezeki lebih. Saya diberi kesempatan untuk merasakan indahnya persalinan selama 3 hari 2 malam. Alhamdulillah..

Selasa pagi, pembukaan stuck di angka 4. Dengan pertimbangan medis, akhirnya saya diberi induksi melalui infus. Apakah lantas persalinan menjadi lancar? Tentu tidak, hihi.. Mules dan nyeri memang bertambah, tapi subhanallah, pembukaan saya nggak jalan-jalan, masih betah di angka 4.

Indahnya diinduksi
Sumber: bidanandalan.com
Setelah Dzuhur, akhirnya intensitas induksi dinaikkan. Saya yang sebelumnya masih bisa mondar-mandir di lorong rumah sakit, hanya bisa menekuk badan di atas ranjang di kamar persalinan. Atur nafas, simpan tenaga. Nyeri yang terasa bisa dibilang sudah naik 5-10 kali lipat dibandingkan tadi pagi. Luar biasa..

Sampai akhirnya ba'da Ashar, pukul 16.20, lahirlah Ahza yang keluar tanpa bantuan dokter. Dokternya ke mana? Mungkin terjebak macet di pasar, zzz..

Kalau ditanya sakitnya kayak gimana, jujur saya lupa-lupa ingat rincinya, karena setelah melihat Ahza dan melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), kontan rasa sakit selama 3 hari itu hilang, digantikan dengan rasa bahagia dan takjub. Iyaa, takjub, kok bisa makhluk kecil ini ada di perut saya selama 9 bulan terakhir, Masya Allah..

Dan kekaguman saya yang lain adalah bagaimana Allah menganugerahi setiap ibu kesempatan untuk berjuang dalam persalinan. Melewati Pembukaan 1 sampai 10 yang luar biasa nikmatnya. Seriusan nikmat, Mak? Seriuan, nikmat banget, kalau dinimati, hihi..


Kali ini, saya akan mencoba berbagi bagaimana cara menikmati persalinan ala si Ibu Jerapah. Boleh setuju, boleh tidak, toh ini hanya sekedar berbagi pengalaman, kan? Hihi..

Menimati Persalinan ala Ibu Jerapah

Yap, menurut saya pribadi, menjalani persalinan itu salah satu anugerah Allah untuk wanita. Bagaimana tidak? Ganjarannya surga lho, Mak! Setara jihad, berjuang di jalan Allah.

Kalau bisa melewati dengan selamat, kita dianugerahi titipan Allah yang super menakjubkan: si bayi. Kalau harus meregang nyawa, insya Allah kita dianugerahi surga, itu janji Allah. Karena itulah, menurut saya persalinan itu ladang amal yang wah wah wah banget untuk wanita.

Namun, karena perih dan nyerinya, terkadang ibu-ibu jadi takut untuk melahirkan. Padahal kita bisa kok menikmati persalinan dengan persiapan yang matang. Jadi, ini dia cara menikmati persalinan ala Ibu Jerapah:

Cari tahu ilmunya


Mak, memangnya ada ilmu melahirkan? Jangankan melahirkan, ilmu menanam jagung, memperbaiki listrik atau menerbangkan pesawat aja ada ilmunya, apalagi hal sepenting melahirkan.

Belajar! Belajar! Belajar!

Orang yang belajar itu pasti berbeda dengan orang yang nggak belajar. Orang yang tahu ilmu pasti akan jauh berbeda dengan yang nggak tahu ilmunya.

Jadi, bekal pertama untuk menikmati persalinan adalah tahu ilmunya. Nggak usah yang beribet macam pembukaan itu berapa senti, dll. Tapi coba kita pahami, bagaimana proses melahirkan, proses pembukaan, apa yang menyebabkan persalinan sakit, dan lain-lain.

Dengan tahu ilmunya, bukan berarti kita bebas dari rasa sakit, nggak mungkin atuh hihi, kecuali disuntik epidural. Minimal, dengan tahu apa yang akan terjadi pada tubuh kita, kita akan lebih siap dan nggak parnoan.


Ketika kita sudah tahu apa yang terjadi pada Pembukaan 1, 2 dan seterusnya, kita akan lebih siap mengantisipasi apa yang akan terjadi dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Beda halnya jika kita nggak tahu apa yang akan terjadi selama persalinan. Ya, nggak beda jauh dengan nyari alamat dosen yang rumahnya jauh banget dan kita nggak pernah main ke daerah sana, padahal deadline pengumpulan tugas tinggal satu jam lagi. Bhay..

Dari mana sumber ilmunya? Di zaman serba canggih ini, sumber ilmu itu banyaaaak sekali, tapi pastikan mendapat sumber yang akurat dan terpercaya. Kita bisa belajar dari buku yang dijual bebas di toko buku, website parenting, aplikasi di handphone (saya rekomendasikan BabyPlus), sampai video di Youtube. Aselinya, banyaaak sekali ilmu yang bisa kita dapatkan.

Semakin tahu ilmunya, semakin tenang persalinannya, insya Allah.

     Baca juga tulisan Teh Armita tentang Melahirkan dengan BPJS

Latihan Pernapasan


Mak, berdasarkan pengalaman saya yang mengalami persalinan dalam waktu yang cukup panjang, satu-satunya cara menghemat energi adalah dengan belajar mengatur napas. 

Salah satu teknik yang bisa dipraktekkan adalah dengan metode hypnobirthing, gabungan antara metode pernapasan dan afirmasi positif. Saya pribadi memilih membaca buku Mbak Evariny Andriana yang berjudul "Melahirkan Tanpa Rasa Sakit". Tidak ada alasan khusus mengapa memillih buku ini. Cukup membaca judulnya saja sudah membuat saya penasaran, hihi..


Hal yang harus diperhatikan adalah kita harus konsisten berlatih metode ini dari jauh-jauh hari sebelum persalinan. Maksimal di bulan ketujuh, kita harus sudah konsisten berlatih metode ini. Kenapa? Karena, jika kita baru berlatih mendekati hari-H, katakanlah di bulan ke-9, niscaya kita akan sulit untuk mempraktekkannya karena belum terbiasa. Yang ada hanyalah panik dan menambah rasa sakit. Jadi, yuk latihan dan latihan.

Melakukan metode pernapasan ini nggak serta merta bikin persalinan saya bebas rasa sakit. Diinduksi, cuy, hihi.. At least, saya bisa benar-benar menyimpan tenaga untuk 2-3 jam terakhir sebelum melahirkan. Dan seingat saya, tenaga saya masih ekstra pooool saya Ahza brojol. Hihihi.. :P

Selain itu, dengan metode ini, kita akan berdamai dengan rasa sakit dan malah menikmati rasa sakit itu. Beneran, deh! Selamat mencoba! :)

Selain kedua hal di atas, ada hal yang jauh lebih penting, melebihi segalanya. Hal itu adalah berdoa dan mengikhlaskan semua pada Allah. Jangan berhenti berdoa karena semua ini adalah rencanaNya, minta, minta, minta yang terbaik untuk persalinan kita.

Kemudian, ibu kudu wajib ikhlas. Mengikhlaskan segala sesuatunya. Berdasarkan pengalaman, jauh-jauhin deh kalimat-kalimat di bawah ini (walaupun niatnya hanya bercanda):
"Pokoknya waktu lahiran, aku harus ditemenin suami, mama, papa, eyang, teteh, aa, dll, dsb"
"Aku nggak mau lahira dulu ah kalo belum beli boks bayi kayak punya Rafathar" -_-
"Jangan sampai dioperasi ah, pokoknya mau normal!"

Mak, ikhlaskan.. Ikhlaskan semuanya. Jangan sampai ketika omongan kita menjadi doa dan dikabulkan, malah akan menghalangi proses kelahiran kita. Misalnya, dulu saya bilang, "Pokoknya baju bayi kudu lengkap dulu sebelum anaknya lahir". Eh, bener aja, sebelum baju kering, si anak nggak lahir-lahir. Dan banyak sekali cerita-cerita seperti ini. Uuh, sedih.. Yuk, ah, ikhlaskan..


Untuk ibu-ibu yang sedang hamil dan menunggu proses persalinan, selamat berjuang yaa.. Semoga selalu dilancarkan, aamiin :)

     Baca juga tulisan lain tentang Menyusui

Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan,
Salam sayang selalu,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

  1. dulu... ketika hamil, saya jadi lebih sering salat sunah, mba dan baca Alquran :) Lebih dekat pada Allah, supaya bisa dimudahkan dalam persalinan, bayi yg saya lahirkan sehat dan selamat.

    ReplyDelete
  2. Terus yang nolongin Ahza lahir siapa? Bidan di RSnya ya?
    Dokternya tinggal bersihin aja kah?
    Hihihi penasaran aku mah...
    Bener ya cerita hamil dan melahirkan itu beda-beda, dulu Akmal pembukaan 2 selama 2 minggu, terus pas Azril tau-tau pas sampai di klinik bersalin udah pembukaan 10. Naik ke bed langsung brojol.

    ReplyDelete
  3. aku dinduksi...sakitnya minta ampun... karena gak banyak pembukaannnya akhirnya di sc :(

    ReplyDelete
  4. menanti anak ketiga insya Alloh 5 bulan lagi. tp tetep deg degan. ga ada bedanya 'pengalaman' sama enggak mbak hehe... sakitnya beda-beda soalnya.

    ReplyDelete
  5. Bener banget Teh, knowledge is power! Semoga saya juga bisa melahirkan normal alami aamiin

    ReplyDelete
  6. dan aku belajar dari postingan temen-temen blogger

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts