Mengenalkan Bayi pada Buku, Mengapa Tidak?


Assalamu'alaikum wr.wb.
HolaHalo!

Akhir tahun ini, saya dan teman-teman Tim RW mengadakan kuliah online via Whatsapp atau lebih dikenal sebagai Kulwap. Kulwap kali ini bertajuk "Mengenalkan Bayi pada Buku, Mengapa Tidak?". Yup, mengapa tidak? :)

Keidean bikin Kulwap ini karena saya mendapatkan bahan bacaan yang bagus tentang mengenalkan buku pada bayi. Jujur, saya baru mengenalkan buku pada Ahza di usianya ke-6 bulan. Dan ternyata, dari umur 0 bulan pun sebenarnya bayi sudah bisa diajak berinteraksi dengan buku, lho. Masya Allah, nggak habis-habis kekaguman saya akan keajaibanNya.. :)


Karena kayaknya masih banyak orangtua yang belum tau dengan fakta ini, akhirnya keidean lah bikin Kulwap. Awalnya iseng, hanya untuk teman-teman di Facebook pribadi saya aja, tapi lama-lama yang ikutan pun saya nggak kenal lho, wkwk..

Dan akhirnya, saya diajak Busup untuk mengadakan Kulwap ini atas nama Tim RW dan digunakan untuk mengedukasi lebih banyak orangtua akan hal ini. Yang melebihi ekspektasi saya, dalam waktu yang singkat, pendaftaran Kulwap ini membludak jadi 5 gelombang. Dengan masing-masing kuota gelombang menggunakan kuota Grup Whatsapp yaitu 256 orang, maka jumlah total pendaftar untuk 5 gelombang adalah seribu sekian (males ngitung, haha).

Tapi sayang banget ya, ada beberapa teman-teman saya yang malah ketinggalan info atau kelewatan nggak saya masukin grup, aduh maaf ya, sis! :( Jadi, materinya saya share di blog aja ya supaya lebih enak dibaca dan harapannya bisa menginspirasi ibu-ibu lainnya.

Jadi ini dia materi Kulwap tempo hari:

"Mengenalkan Bayi pada Buku, Mengapa Tidak?"

Assalamu’alaikum wr.wb.
HolaHalo!

Selamat datang di Sharing Seru “Mengenalkan Bayi pada Buku, Mengapa Tidak?” :)

Bismillah.. Yuk kita mulai materi Kulwap “Mengenalkan Bayi pada Buku, Mengapa Tidak?” Semoga bermanfaat ya, Moms! :)

Izinkanlah saya membuka materi kali ini dengan beberapa fakta menyedihkan tentang dunia literasi Indonesia yang membuat saya menghelas napas panjang:
  1. Tingkat  literasi Indonesia menempati tempat ke-60 dari 61 negara yang disurvey oleh The World's Most Literate Nations. Sedangkan di Asia Tenggara sendiri, Indonesia menempati peringkat ketiga dari bawah sebelum Kamboja dan Laos.
  2. Indeks tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001 (UNESCO, 2012). Itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Dengan rasio ini, berarti di antara 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250.000 yang punya minat baca. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 88,1 juta pada 2014. Waduh!
  3. Anak-anak Indonesia membaca hanya 27 halaman buku dalam satu tahun (UNESCO, 2014).
  4. Hanya 17,66% anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki minat menonton mencapai 91,67 (Survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS), 2012).



Jika itu semua terasa sangat jauh dari jangkauan kita, coba simak cerita berikut ini:

“Ibu A mengeluhkan bahwa guru-guru di Sekolah XYZ tidak bisa mengajar anaknya. Ia berani berkata seperti ini karena anaknya belum juga bisa membaca di usianya yang ke-8 alias kelas 2 SD. Si N, anaknya, seakan menganggap huruf-huruf itu seperti musuh, sulit sekali mengajarkannya membaca. Segala macam cara sudah dilakukan Ibu A, namun progress membaca si N berjalan sangat lambat.”

Pernah dengar cerita ini di kehidupan sehari-hari?

Jika ingin dirunut lebih jauh, semua masalah di atas berujung pada satu hal: tidak diperkenalkannya buku sejak dini oleh orangtua. Jangan salahkan anak belum bisa membaca saat kelas 2 SD, jika 8 tahun sebelumnya ia sama sekali belum pernah dibacakan buku.

Lalu, apakah kita harus mengajarkan anak membaca sebelum masuk SD? Bukannya tidak baik, ya?

Yup, Rasulullah saja memerintahkan untuk mengajarkan shalat pada anak di usia 7 tahun, maka tidak semua yang lebih cepat itu lebih baik. Sesungguhnya, usia di bawah 7 tahun belum memiliki kesiapan untuk belajar membaca. Namun, kita bisa mempersiapkan anak untuk belajar membaca dengan proses pre-reading atau pra-membaca.

Pakar parenting mengatakan bahwa diperlukan sekitar 3-4 tahun untuk menciptakan kebiasaan baik pada anak. Misalnya, jika kita ingin anak siap untuk belajar membaca pada usia 7 tahun, maka proses pra-membaca harus sudah dimulai sejak anak berusia 3 tahun. Semakin cepat dikenalkan tentu semakin baik kesiapan anak untuk membaca, dan yang lebih penting lagi, bisa menciptakan minat membaca pada anak. Ingat, bisa membaca belum tentu punya minat membaca :)

Bagaimana cara kita membacakan buku untuk bayi?

Moms, mari kita bedakan definisi membaca pada bayi dan membaca pada umumnya. Yang dimaksud membaca pada bayi adalah memberikan pengalaman membaca kepada bayi. Kita, sebagai orangtua, membacakan buku atau media bergambar lainnya untuk memberikan pengalaman membaca ini. Metode membacakan buku pada bayi yang cukup populer dan mudah dilakukan adalah reading aloud alias membacakan buku keras-keras pada bayi atau mendongeng :)

Sebentar, memangnya selain membentuk kesiapan membaca, apakah ada manfaat lain dari membaca untuk anak?

Setidaknya, ada 12 manfaat membaca buku untuk anak, yaitu:

  1. Menumbuhkan minat baca
  2. Membentuk pola perilaku dan nilai sosial
  3. Melatih kemampuan berpikir logis
  4. Membangun hubungan erat orangtua dan anak
  5. Mengenalkan konsep baru
  6. Membuka cakrawala
  7. Meningkatkan prestasi akademik
  8. Siap menghadapi kehidupan nyata
  9. Melatih konsentrasi
  10. Meningkatkan keterampilan komunikasi
  11. Mengembangkan imajinasi dan kreativitas
  12. Menambah kosakata anak
Selain itu, membaca buku juga terbukti dapat meningkatkan IQ anak berkebutuhan khusus (ABK), misalnya pada para penderita Down Syndrome. Buku juga bisa mengenalkan anak pada konsep bersosialisasi dan membentuk kepribadian positif pada anak.

Yang sudah saya rasakan pada anak saya, buku sudah menjadi salah satu kesayangannya selain mainan. Jadi, bisa dipastikan kalau buku akan selalu ada dan berserakan di lantai saat saya membereskan tempat bermainnya. Dari buku pula saya bisa memasukkan value-value positif yang ingin saya berikan kepadanya. Dan melebihi segalanya, sungguh nikmat ketika anak meminta bantuan untuk dibacakan buku kepada saya atau nenek-kakek-nya. Semoga kita diberikan kemampuan menjadi ibu terbaik untuk anak-anak ya, Moms, aamiin :)

Lantas, kapankah sebaiknya memperkenalkan buku pada bayi?

Adalah sebagian kecil dari surat Al-Alaq ayat 1 yang berbunyi: Iqra! Bacalah! Seperti yang kita tahu, perintah pertama Allah kepada Rasulullah adalah untuk membaca. Dari sini, bisa kita simpulkan jika membaca adalah kewajiban yang harus kita lakukan dan pada hakikatnya, mencari dan memiliki ilmu adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh manusia.

Proses panjang belajar membaca dimulai sejak ayah mengadzani si kecil yang baru saja datang ke dunia. Ini artinya, proses belajar membaca memang sudah dimulai sejak kelahiran bayi. Nah, semoga ini bisa menjawab pertanyaan di atas ya :)

Seperti halnya mengajarkan anak bicara, kita tidak lantas menunggu si anak berusia 6 bulan kemudian baru mengajaknya bicara, bukan? Kita sudah mulai berbicara pada bayi sejak ia dilahirkan, bahkan jauh sebelumnya, saat ia masih ada di dalam perut  Intinya, memperkenalkan buku pada bayi itu bisa dimulai sedini mungkin, tidak perlu menunggu waktu-waktu khusus. Jadi, sudah siapkan kita memperkenalkan buku pada bayi? :)

Seperti yang dikutip dari buku “Membuat Anak Gila Membaca” karya Mohammad Fauzil Adhim, berikut adalah proses ketertarikan bayi pada buku yang dibacakannya untuknya:

  1. Sejak minggu-minggu pertama usianya, bayi sudah bisa mengomunikasikan ketertarikannya kepada buku. Tetapi, biasanya kita baru bisa menangkap isyarat komunikasi bayi pada usia sekitar 2 atau 3 bulan.
  2. Di akhir bulan kedua, bayi menunjukkan ketertarikannya dengan mengeluarkan bunyi seperti gumam, “e-khe.. ek-khe.. e-the.. e..” Pada saat yang sama, ketka sedang dibacakan buku dengan suara yang keras, bayi akan berusaha mencari sumber bunyi dengan menggunakan gerakan matanya.
  3. Akhir bulan ketiga, bayi mengomunikasikan ketertarikannya dengan isyarat yang lebih jelas. Selain dengan suara, bayi juga akan menggerakkan tangan ke arah buku. Pandangan bayi pun lebih terarah.
  4. Di akhir bulan keempat, bayi mulai menunjukkan ketertarikannya dengan menggigit buku yang kita bacakan dan mengamati buku yang dipegangnya. Saat dibacakan buku, mata anak juga lebih berbinar-binar.
  5. Akhir bulan kelima, bayi berusaha memegang atau menyentuh buku. Pada usia ini, bayi masih suka “menggigit” buku yang dibacanya.
  6. Pada akhir bulan keenam atau ketujuh, bayi mulai aktif meraih buku yang ada di hadapannya. Ia berinisiatif mengambil buku sebagai mainan yang menyenangkan. Pada usia ini, bayi sudah mulai senang mengoceh, terutama ketika ia sangat tertarik dengan buku yang kita bacakan padanya.
Pertanyaan selanjutnya, buku yang seperti apa yang cocok untuk bayi?

Yeay! Sekarang kita sudah sampai ke bagian yang menyenangkan dan membuat Moms lapar mata: memilih buku untuk bayi, hehe :)


Sebelum memilih buku untuk bayi, setidaknya ada 5 kriteria yang harus dimiliki oleh sebuah buku bayi:

  1. Berbentuk boardbook. Boardbook itu apa? Boardbook adalah buku yang terbuat dari karton tebal. Mengapa harus tebal? Karenaa..
  2. Tahan robekan, air dan sebagainya. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, sudah fitrahnya lah bayi mengigit, mengemut atau berusaha merobek buku yang ada di hadapannya. Moms tidak perlu sedih dan mengira bayi tidak suka membaca, justru kita harus senang karena bayi sedang menunjukkan ketertarikannya pada buku. Sebaliknya, Moms harus memfasilitasi kesenangannya ini dengan menyediakan buku bacaan yang tahan robek, tahan basah dan awet. Buku-buku seperti ini memang memiliki harga yang lebih tinggi, tapi di mana ada harga, di situ ada kualitas, bukan? :)
  3. Lulus uji kelayakan Mama. Maksudnya seperti apa? Di luar sana begitu banyak buku bayi yang tersedia di toko buku. Saking banyaknya, ada beberapa di antaranya yang ternyata memiliki hidden message yang buruk, baik tidak disengaja atau disengaja (na’udzubillahimindzalik) oleh penulisnya. Tidak ada cara lain untuk mengantisipasi hal ini selain pemeriksaan seluruh isi dan hidden message yang dimiliki buku oleh ibu sebelum membacakannya pada si kecil.
  4. Wordless. Selain boardbooks, buku bayi juga dikenal sebagai Wordless Picture Book (WPB). WPB adalah buku cerita bergambar dengan sedikit kata. Lalu, bagaimana bisa bercerita jika di bukunya saja hanya terdapat sedikit kata? Improvisasi. Untuk jelasnya, nanti kita bahas di bagian akhir ya,  Moms :)
  5. Mengandung value positif. Mendongeng adalah cara termudah dan termenyenangkan untuk memasukkan value pada anak. Membacakan buku pada bayi bukan saja untuk memperkaya bahasa dan kemampuannya membaca, tapi inti sesungguhnya adalah untuk menanamkan value pada bayi. Maka, pilihlah buku bayi yang memiliki value positif, seperti kemandirian, nilai-nilai kebaikan dan nilai spiritual. Jadi, selain memperkuat bonding, orangtua juga bisa mengajarkan segala macam kebaikan selama proses membaca. Subhanallah :)
Nah, sampailah kita ke bagian akhir dari materi kali ini.

Bagian akhir ini saya mulai dengan sedikit oleh-oleh dari berjualan buku bayi di Gedung Sate pekan lalu:

Ibu X: Bukunya bagus ya, Teh.. Ini dapet berapa buku? *antusias
Saya: *blablabla *menjelaskan panjang lebar
Ibu X: Wah, bagus ya. Berapa, Teh? *makin antusias
Saya: *blublublu
Ibu X: Oh iya, ya. Saya tanya suami dulu ya, Teh..
Saya: Silahkan, Teh.. *senang
Ibu Y (teman Ibu X): Tapi itu mah ibunya yang kudu rajin. Lah kita?
Ibu X: Oh, iya yah. Gimana atuh? *jadi ragu
Saya: Iya, Bu. Memang bukunya harus dibacain sama ibunya.. 
(dalam hati: Ya kali anak bayi langsung anteng bisa baca buku sendiri)
Jadi yah, adalah hal yang impossible kalau berharap anak-anak langsung suka buku kalau ibunya diem aja nggak pernah ngebacain buku.. 
Semua juga berproses, bu.. 

Hehe, itu hanya sedikit intermezzo saja ya :)

Intinya, perlu perjuangan panjang yang dilakukan oleh orangtua jika menginginkan anak yang ‘bersahabat’ dengan buku. Saya pun pernah mengalami masa-masa perjuangan saat anak saya ‘pemilih’ dalam membaca buku. Saya mulai memperkenalkannya pada buku saat usianya 6 bulan. Karena dia suka binatang, ia hanya memilih buku-buku bergambar binatang saja yang ingin dibacanya, sisanya ia tolak. Sedihnya, buku yang susah payah saya beli dengan harga -yang untuk saya- sangat tinggi, malah tidak mau dibaca, masuk dalam daftar buku yang ia tolak.

Lantas, apakah saya menyerah? Tentu tidak (sayang-sayang bukunya mahal, hihi). Selama 3 bulan, saya tetap membacakan buku-buku binatang kesukaannya, namun di akhir sesi saya coba perkenalkan dengan buku lain. Ditolak? Pastinya. Tapi, kalau ia selalu sabar menolak, mengapa kita tidak sabar untuk berusaha? :)

Di akhir bulan ke-3, akhirnya anak saya menunjukkan ketertarikkannya pada buku yang saya tawarkan. Itu pun karena di bagian belakang buku tersebut terdapat bagian flip-flap-nya yang membuat dia asyik membuka dan menutup bagian buku tersebut. Ah, ternyata saya baru ingat kalau anak saya adalah anak kinestetik, anak yang gaya belajarnya cenderung memakai gerakan  tubuh dan tangan atau mempraktekkan apa yang dipelajarinya. Hmm, ternyata benar ya, gaya belajar itu sangat mempengaruhi metode kita mengajari si kecil.

Sejak saat itu, saya ganti metode membacanya dengan mengajak anak bermain membuka dan menutup bagian flip-flap sambil menceritakan isi buku. Alhamdulillah, tidak membutuhkan waktu yang lama sampai dia tertarik untuk dibacakan halaman-halaman lain pada buku-buku tersebut. Bahkan kini, buku-buku ini sudah menjadi teman baik anak dan sangat bermanfaat untuk menanamkan value positif pada anak :)

Intinya apa? Intinya, buatlah anak merasa membaca buku itu seasyik bermain. Kondisikan anak dalam keadaan hati yang senang gembira sebelum mengajaknya membaca buku. Ingat, jangan pernah paksakan anak untuk membaca buku. Pemaksaan hanya akan membuat anak mengasosiasikan buku sebagai hal yang tidak menyenangkan :)


Berikut adalah beberapa tips untuk memperkenalkan bayi pada buku:

  1. Bangun suasanya menyenangkan saat bersama bayi. Ajak bayi bermain, bicara atau membuatnya tertawa. Suasana yang kondusif akan mempermudah orangtua saat mengajak bayi membaca buku.
  2. Komunikasikan niatan kita untuk mengajaknya membaca buku. Sebaiknya, orangtua tidak ‘ujug-ujug’ membawakan buku dan mendudukkan anak untuk membaca. Sebaliknya, orangtua sebaiknya mengajak bayi untuk membaca bersama. Jika diitolak? Yaa coba lagi di lain kesempatan :)
  3. Membaca bersama bayi. Libatkan bayi saat membaca. Bayi semuda apapun akan senang jika dilibatkan saat membaca buku. Misalnya, “Nak, ini Sali bawa apa, ya?” – tunggu reaksi bayi – “Wah, Sali bawa tong sampah, ya? Menurut kamu, tong sampahnya lucu, nggak?” – tunggu reaksi bayi – “Iya, lucu, ya. Bentuknya kodok, ya.. Bunyi kodok gimana sih?” – dst.
  4. Improvisasi mendongeng. Bukan hanya menyanyi saja yang jika diberikan improvisasi akan terdengar semakin bagus, mendongeng pun demikian. Ibu wajib menggunakan intonasi dan irama yang berubah-ubah saat mendongeng. Tujuannya, agar bayi tahu apa yang terjadi pada dongeng tersebut: sedih, senang, marah, menangis, suara angin, deru ombak, nyanyian nina bobo, dll. Lantas, bagaimana jika yang dipakai adalah WPB alias kata-katanya hanya sedikit? Silahkan kembangkan cerita sesuka ibu. Bahkan, bukan hal yang tidak mungkin jika satu lembar WPB bisa menghasilkan cerita yang setara dengan berlembar-lembar buku novel. Hehehe..
  5. Ciptakan pola membaca. Kunci utama dalam mengenalkan bayi pada buku adalah KONSISTEN. Orangtua harus bisa konsisten untuk menciptakan pola baca dengan bayi. Apakah membaca buku setiap saat, setiap habis mandi, atau sebelum tidur? Bebas. Yang penting konsisten. Dengan kekonsistenan, diharapkan bayi menyadari bahwa membaca adalah salah satu rutinitas harian yang sangat menyenangkan. Jika sudah terbentuk image seperti ini, bukan hal yang tidak mungkin jika ia tumbuh menjadi seseorang yang cinta membaca, bukan? :)
Lalu, bagaimana jika anak saya yang sudah 2 tahun belum pernah saya ajak membaca? Apakah sudah terlambat? Bagaimana memulainya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, akan dibahas pada materi Kulwap yang berbeda ya, Moms. Untuk materi kali ini kita batasi untuk mengenalkan bayi pada buku saja dulu, ya :) Tapi, tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Mulai dari sekarang, mulai dari diri kita. Yuk, praktekkan! :)

Alhamdulillah, selesai sudah materi Kulwap “Mengenalkan Bayi pada Buku”. Semoga bermanfaat ya Moms :)

----

Semoga bermanfaat!
Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

  1. Saya membacakan buku cerita sebelum tidur pada MArwah sejak MArwah berusia 3 bulan, sampai sekarang juga masih diceritakan, sekarang Marwah yang baca tapi ibu yang mendengarkan

    ReplyDelete
  2. Udah kenyang ditolak anak pas ngajak baca dulu, mungkin karena belum ngerti kali ya :)
    Eh, sekarang malah anakku yang lagi suka banget sama buku, dia yang gantian cerita (meskipun masih bahasa planet bayi sih) sambil nunjuk-nunjuk buku ceritanya, membaca bersama anak memang menyenangkan ya mba :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts

Institut Ibu Profesional