Ini Dia 4 Alasan Mengapa Orangtua Harus Terus Belajar


Assalamu'alaikum wr.wb.

HolaHalo!

Bulan lalu, tepatnya 19-20 November 2016, saya berkesempatan untuk menghadiri Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) Abah Ihsan. Apa? Pengasuhan anak ada sekolahnya? Seriusan?

Seriuuss.. Hehe..

Tapi jangan dibayangkan sekolah di sini dengan duduk di ruangan kelas, meja kursi kaku, dingin dan keras serta harus melewati bertahun-tahun masa sekolah, ya! PSPA hanya berlangsung selama 2 hari, dari pukul 08.00 sampai 18.00. Yup, belajar seharian. Asyik, ya?

Awal mula mengenal Abah Ihsan adalah saat membaca bukunya di rumah saudara. Judul buku yang waktu itu saya baca adalah "Yuk, Jadi Orangtua Shalih! Sebelum Meminta Anak yang Shalih". Coba ya, judulnya aja udah jleb banget, gimana isinya? Hiks..

Buku yang wajiiiib dibaca :)
Mulanya saya kira kalau buku ini pasti berisi ceramah, nasihat, endebra seputar pengasuhan anak yang jauh dari jangkauan saya alias nggak aplikatif. Tapi semua dugaan saya salah. Di bukunya ini, Abah Ihsan membawakan materi dengan sangat asyik, jauh dari kesan menggurui atau menasehati. Semua yang disampaikan Abah di buku sifatnya aplikatif dan praktikal alias bisa kita lakukan tanpa harus babibu.

Begitu jatuh cintanya saya dengan buku si Abah, sehingga saya bertekad jika nanti ada PSPA di Bandung, saya WAJIB ikutan! Hehe..

     Baca juga tulisan Teh Tian: Jangan Takut Menjadi Tua

Sampai akhirnya saya mendapat informasi tentang PSPA dari instagram @temanmain.bdg asuhan Teh Bubu Wiwik. Saya pun langsung menghubungi kontak yang tertera di publikasi. Apa nyana, ternyata peserta sudah full dan saya masuk ke dalam waiting list. Etapi, qadarullah, menjelang beberapa hari sebelum acara, admin acara menginformasikan bahwa saya bisa masuk menjadi peserta karena ada beberapa peserta yang mengundurkan diri. Alhamdulillah, senang bukan main rasanya.. :)

Apa? Sudah jadi orangtua tapi masih belajar???

Adakah di antara temans yang suka keheranan dengan orangtua yang masih suka ikut seminar ina inu? Orangtua yang bisa dibilang nggak muda lagi, tapi masih semangat belajar ke sana ke sini. Belajarnya 'nggak penting' pula, masalah parenting, masalah pengasuhan anak. Mengapa nggak belajar yang lain saja yang lebih bermanfaat, seperti kursus menjahit, mungkin? Ehem..

Ada juga orang-orang yang selalu 'nyinyir' dengan orang yang suka belajar. Biasanya yang keluar dari mulut mereka adalah, "Ah, ngapain sih belajar! Kan cuma teori! Teori beda, sis, dari kenyataan. Bedaa!" atau mungkin "Ah, buang-buang waktu aja, saya nggak belajar juga bisa sukses, kok!" dan lain sebagainya.

Nah, sebagai pembuka PSPA, Abah Ihsan menyampaikan empat alasan mengapa kita sebagai orangtua tetap harus belajar, terutama tentang seputar pengasuhan anak atau parenting. Ini dia alasannya:

Karena belajar adalah perintah Allah

Pasti sudah tahu ya tentang perintah pertama yang Allah berikan pada Muhammad dan umatnya? Yup, perintahnya adalah, "Iqro! Bacalah!". Membaca di sini tentu erat kaitannya dengan belajar.

Maka, bagi umat Islam, belajar adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Berhenti belajar berarti berhenti menjadi orang baik. Lho, apa hubungannya? Karena, orang yang berhenti belajar berarti orang tersebut sudah menjadi orang yang sombong dan takabur. Duh, naudzubillahimindzalik..

Karena zaman sudah berubah

Yuk, jadi orangtua adaptif!
Coba ingat-ingat lagi kondisi pertelevisian di tahun 90-an. Apakah konten di televisi relatif aman ditonton anak? Saya rasa iya. Lalu ingat-ingat lagi, apakah dulu kita sudah sibuk foto-foto makanan, selfie dan lain-lain kemudian mengunggahnya di Facebook, Instagram, Twitter dan banyak lagi? Rasanya nggak ya?

Hari ini, anak-anak kita sudah kebanjiran informasi. Informasi datang bak air bah dari kanan, kiri, depan, belakang, atas dan bawah! Dari televisi, gadget, teman-teman dan banyak lagi. Belum lagi, anak-anak zaman sekarang jauh lebih cepat belajar daripada waktu kita kecil dulu. Jadi, bagaimana mengatasinya?

Solusi paling jitu untuk menghadapi masalah ini adalah menjadi orangtua yang adaptif. Lebih tepatnya, orangtua yang mau terus belajar agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Jangan sampai ah ketinggalan dari anak. Anak sudah lihai main Youtube, eh orangtuanya malah belum pernah dengar tentang ini. Hmm..

Agar orangtua tidak tersesat

Jangan sampai tersesat, ya! :(

Ada seorang nenek yang sudah sangat sepuh. Katakanlah usianya sudah mendekati 80 tahun. Setiap hari, si nenek berkeliling kota untuk mengemis dari satu lampu merah ke lampu merah yang lain. Lalu, ada seorang bapak yang penasaran dan bertanya, "Bu, kenapa nggak istirahat saja di rumah? Biar anak ibu saja yang bekerja..". Dan dijawab oleh si nenek, "Kasian anak saya, Pak. Sudah setahun di-PHK, sampai sekarang belum dapat kerja lagi, jadi terpaksa saya yang cari uang."

Pernah dengar cerita seperti ini? Subhanallah, di umurnya yang sudah sepuh, nenek itu masih harus mencari uang untuk menghidupi anaknya! :(

Sedihnya, ini adalah contoh orangtua yang membayar di akhir. Lalu, orangtua yang membayar di awal itu seperti apa? Mereka lah orangtua yang mengajarkan kedisiplinan dan kemandirian pada anak-anaknya sejak dini. Menjelang dewasa, anak-anak diberi ultimatum bahwa mereka hanya berhak hidup di dalam rumah sampai usia 25 tahun (untuk laki-laki) atau sampai mereka menikah (untuk perempuan), setelah itu, mereka wajib meninggalkan rumah.

Dengan ultimatum ini, anak akan berpikir bagaimana cara bertahan hidup dan bisa keluar dari rumah sebelum batas waktu yang ditentukan. Mereka tidak akan terus bergantung dengan orangtua seperti anak si nenek pada cerita di atas. Naudzubillahimindzalik..

Agar menjadi orangtua yang bahagia


Psst, tahu nggak salah satu rahasia terbesar saya? Sampai setahun yang lalu, saya adalah anak yang benci dengan hari merah! Benci sekali! Apalagi kalau sudah mendekati Lebaran dan ada cuti bersama. Waah, horor!

Kok,, gitu? Yup, karena saya malas pulang ke rumah. Saya malas bertemu dengan orangtua saya. Ini saya rasakan dari sejak SD hingga tahun lalu. Iyaa.. Awalnya saya pikir, saya anak kualat. Tapi, setelah mengikuti PSPA, saya jadi tau penyebabnya.

Jadi, ada beberapa orangtua yang tidak bisa membuat anak-anaknya nyaman dengan mereka. Ada anak-anak yang lebih merasa aman dan nyaman ketika berjauhan dengan orangtua. Alhamdulillah, berarti saya nggak aneh, ternyata kasus saya ini ada penjelasannya.

Pertanyaannya, mau kah kita menjadi jenis orangtua seperti ini? Kalau saya, jelas tidak! Nggak kebayang deh, Ahza nggak mau deket-deket saya lagi, huhu..

Oleh karena itu, orangtua wajib belajar bagaimana menjadi orangtua yang baik untuk menghasilkan orangtua dan anak yang bahagia. Keluarga yang bahagia. Insya Allah.. Aamiin..

Nah, dari keempat alasan di atas, rasanya sudah jelas ya, mengapa kita harus terus belajar? Jadi, yuk sama-sama kita belajar, saling mengingatkan dan saling menasehati dalam kesabaran dan kebaikan..

     Baca juga artikel lain tentang menyusui 

Salam cinta belajar,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

  1. Hai mba. Udah lama nggak mampir ke sini :)
    Aku setuju banget kalau orangtua harus belajar karena sekarang informasi sangat cepat dan tugas orangtua untuk mengarahkan ke yang lebih baik. Semua itu diperoleh dengan belajar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba. Blognya baru aktif lagi hihi..
      Bener banget mba. Jangan sampai kalah maju dengan anak2 ya.. huhu

      Delete
  2. Mbaaa.. akupun pengen trs berilmu sbg ortu.. jd pengen bukunya. Bocoran harga plis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berapa yaa.. lupa.. tapi kayanya under 100k mba ruli..
      Baguuus bgt bukunya :*

      Delete
  3. Karena jadi orang tua harus terus belajar dan belajar :*

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts

Institut Ibu Profesional