Potret Implementasi Kebijakan Pemerintah terkait Pemberian ASI Eksklusif di Mata Ibu Menyusui


Dunia menyusui di Indonesia seakan mendapatkan angin segar ketika Gubernur Aceh menerbitkan Peraturan Gubernur No. 49 Tahun 2016 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. Pada Peraturan Gubernur (Pergub) ini, pemerintah Aceh memberikan cuti melahirkan selama enam bulan, lebih lama tiga bulan dari rata-rata nasional yaitu selama tiga bulan. Bayangkan, enam bulan!

Peraturan ini dibuat dengan alasan untuk memberikan kesempatan yang lebih besar bagi ibu untuk memberikan pengasuhan, perhatian dan kasih sayang, terutama dalam pemberian ASI Eksklusif tanpa halangan. Dengan adanya Pergub ini, pemerintah Aceh berharap agar pertumbuhan anak dapat tercapai secara optimal, demi tercapainya tujuan untuk menciptakan generasi Aceh yang berkualitas di masa depan. 

Sumber: liputan6.com


Peran Pemerintah dalam Mendukung Pemberian ASI Eksklusif


Pemerintah pusat pun rasanya harus diacungi jempol karena telah berhasil menyusun berbagai peraturan dan program yang sangat mendukung keberhasilan ASI Eksklusif.  Ada beberapa undang-undang dan peraturan pemerintah yang tercatat sangat mendukung pemberian ASI, di antaranya adalah:
  1. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia, Pasal 49 Ayat 2
  2. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 82-83
  3. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Pasal 128-129 dan Pasal 200-201
  4. Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif
  5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 39 Tahun 2013 tentang Susu Formula Bayi dan Produk Bayi Lainnya
Bukan hanya mendukung pemberian ASI Eksklusif, undang-undang dan peraturan tersebut juga melindungi hak anak dan ibu dalam menyusui, mendapatkan perlindungan hukum saat menyusui dan mendapatkan fasilitas menyusui di ruang publik. Hal-hal mendetail yang dibahas pada undang-undang dan peraturan di atas adalah tentang kewajiban perusahaan untuk memfasilitasi pegawainya dengan ruang menyusui, pelarangan tenaga kesehatan untuk menerima dan memberikan susu formula pada ibu dan bayi tanpa ada kondisi khusus dan ketentuan penjualan serta promosi yang dilakukan oleh produsen susu formula.

Di samping mendukung ibu dengan berbagai peraturan dan perundang-undangan, pemerintah juga secara berkala menampilkan iklan layanan masyarakat terkait ASI dan menyusui di media elektronik nasional yang harapannya dapat mengedukasi dan melindungi proses pemberian ASI Eksklusif kepada bayi. Dukungan pemerintah pun terlihat dari penyediaan ruang laktasi pada beberapa pemerintahan. Hal ini tentunya sangat mendukung kesuksesan ibu untuk tetap memberikan ASI Eksklusif untuk si kecil walaupun bekerja di luar rumah.

Sumber: bppk.depkeu.go.id
Yang tak kalah penting, pemerintah juga secara kontinu dan berkala memberikan edukasi mengenai pentingnya ASI dan menyusui kepada masyarakat melalui Posyandu yang tersebar dan mampu menjangkau lapisan masyarakat terkecil. Semua peraturan dan pemerintah ini tentunya harus diapresiasi oleh semua kalangan terutama oleh kami, para ibu menyusui.


Implementasi Kebijakan Pemerintah di Mata Ibu Menyusui


Lalu, bagaimana implementasi kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut di mata ibu menyusui? Nyatanya, yang dihadapi ibu menyusui di lapangan tidaklah seindah yang tertulis di perundang-undangan dan peraturan pemerintah. Masih banyak hambatan yang dihadapi para ibu menyusui dalam memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya.

Beberapa waktu yang lalu saya membuat survey kecil-kecilan di media sosial untuk mengetahui bagaimana kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh ibu menyusui. Hasilnya, beberapa ibu yang sedang atau pernah menyusui menyuarakan kegelisahan yang selama ini dirasakan selama memberikan ASI Eksklusif kepada si kecil. Beberapa kondisi di lapangan yang dihadapi oleh ibu menyusui di antaranya adalah sebagai berikut:

Akses Menyusui di Tempat Umum

Kurangnya akses untuk menyusui di tempat umum. Kurangnya akses ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti tidak adanya ruang khusus menyusui, ruang menyusui yang tidak layak pakai atau ruang menyusui yang disalahfungsikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


Berdasarkan data di lapangan, masih banyak kantor pemerintahan, kantor swasta dan fasilitas publik (seperti tempat pembelanjaan, stasiun, terminal, dan lain-lain) yang belum memiliki ruang menyusui. Lalu, ada juga ruang menyusui yang dinilai tidak layak pakai karena alasan kebersihan atau ukuran yang sangat kecil, sedangkan banyak orang yang membutuhkan ruangan tersebut.


Ada lagi orang-orang yang menyalahgunakan ruang menyusui di tempat umum untuk keperluan pribadinya. Hal-hal ini sangat disayangkan mengingat ibu menyusui dituntut untuk dapat menyusui kapanpun dan di manapun, tergantung permintaan si kecil. Tidak adanya akses untuk menyusui di tempat umum ini sedikit banyak menjadi faktor penyebab ketidakberhasilan pemberian ASI Eksklusif dari ibu kepada bayi.


Pemberian Susu Formula oleh Tenaga Kesehatan

Seperti yang tercantum pada Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 39 Tahun 2013 tentang Susu Formula Bayi dan Produk Bayi Lainnya, bahwasanya tenaga kesehatan dan produsen susu formula dilarang memberikan susu formula pada ibu dan bayi tanpa kondisi tertentu yang telah diatur dalam undang-undang. Faktanya, masih banyak ditemukan kasus penawaran susu formula pada bayi tanpa indikasi medis atau kondisi gawat lainnya oleh tenaga kesehatan.



Selain itu, saya dan beberapa teman juga sempat mendapatkan pembagian susu formula secara cuma-cuma saat keluar dari rumah sakit setelah melahirkan. Fenomena ini tentunya tidak sesuai dengan apa yang tertulis pada kedua peraturan pemerintah di atas. Dan yang paling penting, hal ini dapat mengganggu program pemberian ASI Ekslusif kepada bayi.

Promosi dan Penjualan Susu Formula

Masih berhubungan dengan susu formula, pelanggaran terhadap Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 39 Tahun 2013 tentang Susu Formula Bayi dan Produk Bayi Lainnya juga ditemukan pada penawaran susu formula yang dilakukan oleh sales marketing  di tempat-tempat perbelanjaan. Belum lagi, sales marketing memberikan iming-iming bahwa bayi akan menjadi lebih sehat jika mengonsumsi produk tersebut. 

Sumber: rajasusu.com

Sumber: bukapalak.com
Selain itu, mengacu pada Pasal 21 dalam peraturan yang sama, terdapat beberapa larangan bagi produsen atau distributor susu formula, salah satunya adalah dilarang memberikan potongan harga. Namun, seperti yang terlihat pada gambar di atas, masih banyak distributor susu formula yang memberikan potongan harga kepada konsumen dan kemudahan dalam pembelian. Hal ini pun kiranya merupakan salah satu faktor penghambat bagi usaha ibu untuk memberikan ASI Esklusif pada anak.

Inisiasi Menyusui Dini

Proses menyusui seyogyanya dapat langsung dimulai sejak bayi baru lahir melalui proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Pada IMD, bayi akan diletakkan di perut ibu dan diberi kesempatan selama satu jam untuk mencari puting dan menyusui. Proses ini akan sangat membantu keberlangsungan pemberian ASI Ekslusif pada bayi.

Sumber: bidanku.com
Peran penting dari IMD ini pula yang menjadi alasan Kementerian Kesehatan untuk menuangkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 15 Tahun 2014 yang memuat pasal tentang anjuran IMD. Pada Pasal 2 peraturan tersebut, tenaga kesehatan diwajibkan untuk melaksanakan IMD terhadap bayi baru lahir pada ibunya paling singkat satu jam dengan catatan tidak ada kontradiksi medis yang terjadi. Faktanya, masih banyak tenaga kesehatan yang mengindahkan aturan tersebut. Menurut saya, bisa disebut bahwa mereka telah merenggut hak seorang bayi untuk menyusui pertama kalinya. 

Sesaat setelah melahirkan, saya pun sempat merasakan IMD walaupun tidak sampai satu jam tapi hanya beberapa belas menit saja dengan alasan bayi kedinginan. Padahal, menurut dr. Stella, konselor laktasi, selama kondisi ibu dan bayi stabil dan sehat, IMD tetap bisa dilakukan selama sejam, bahkan untuk ibu yang mengalami operasi caesar.

Rawat Gabung Ibu dan Bayi

Masih menyambung pasal tentang IMD, ayat lain menyebutkan bahwa tenaga kesehatan wajib menempatkan ibu dan bayi dalam satu ruangan atau rawat gabung kecuali atas indikasi medis yang ditetapkan dokter. Penempatan dalam satu ruangan ini dimaksudkan untuk memudahkan ibu agar dapat memberikan ASI setiap saat.

Sumber: kesehatananakku.com
Lagi-lagi, yang terjadi di lapangan adalah sebagian besar tenaga kesehatan langsung menempatkan ibu dan bayi dalam ruangan terpisah tanpa menanyakan keinginan dari ibu dan keluarganya. Tentunya hal ini sangat disayangkan mengingat hari-hari pertama pemberian ASI adalah periode yang sangat penting yang mempengaruhi kesuksesan pemberian ASI Ekslusif selama 6 bulan ke depan.

Sebenarnya masih banyak fakta di lapangan yang belum sesuai dengan perundang-undangan dan peraturan pemerintah tentang ASI dan menyusui. Masih ada masalah bantuan susu formula di daerah rencana yang tidak sesuai dengan kode WHO, masih banyaknya ibu menyusui yang mengalami malgizi, edukasi ASI dan menyusui yang dinilai masih jauh dari baik dan masih banyak lagi.


Keberhasilan ASI Eksklusif adalah Tanggung Jawab Semua Pihak


Seperti yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif, bahwasanya bukan pemerintah saja yang wajib mendukung pemberian ASI Eksklusif, melainkan butuh komitmen dan dukungan dari semua pihak. Ya, semua pihak, mulai dari rumah sakit, tenaga kesehatan, masyarakat secara umum, perusahaan tempat ibu bekerja, penyedia fasilitas publik, hingga produsen susu formula. Sederhananya, dibutuhkan keseluruhan NKRI untuk mendukung pemberian ASI Eksklusif kepada bayi.

Sepenting itukah menyusui? Sebesar itukah peran ASI? Apa yang menyebabkan hal domestik ini menjadi penting untuk didukung oleh keseluruhan negara?

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 1-7 Agustus 2016, dunia merayakan World Breastfeeding Week (WBW) 2016. WBW adalah acara tahunan yang diselenggarakan di hampir seluruh negara di dunia yang diselenggarakan oleh World Alliance for Breastfeeding Action (WABA), yaitu sebuah jaringan global yang memiliki perhatian pada perlindungan, promosi dan dukungan pada kegiatan menyusui di dunia.

Tahun ini, WBW mengusung tema “Menyusui sebagai Kunci menuju Pembangunan Berkelanjutan”. Dengan tema ini, diharapkan agar masyarakat mengetahui bahwa menyusui merupakan komponen kunci dari pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan di sini ditransformasikan sebagai Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan tindak lanjut dari Millenium Development Goals (MDGs) yang telah berjalan selama 15 tahun terakhir. SDGs sendiri adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi. Dari sini bisa terlihat bahwa menyusui memiliki peranan sangat penting terhadap pembangunan dan harus didukung oleh semua elemen negara.

Demi alasan itulah, kami, para ibu menyusui membutuhkan dukungan dari semua pihak untuk menyukseskan program pemberian ASI Eksklusif. Selama ini, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) telah banyak berkontribusi dalam dunia menyusui Indonesia. AIMI berperan dalam mengedukasi, memberi pelatihan serta konseling untuk ibu menyusui. Namun, tetap kepada pemerintah lah harapan terbesar kami tujukan. Kami percaya bahwa pemerintah bisa lebih mengawasi implementasi perundang-undangan dan peraturan yang telah dibuat serta menggulirkan lebih banyak lagi program-program yang bermanfaat untuk keberlangsungan proses menyusui di Indonesia.


Harapan Ibu Menyusui untuk Pemerintah


Sedikitnya, inilah masukan dan solusi yang dapat kami sampaikan kepada pemerintah dan pihak yang terkait akan hal ini:
  1. Besar harapan kami agar pemerintah dapat lebih menekankan kepada semua pihak agar dapat memfasilitasi ibu menyusui dengan ruangan khusus menyusui. Tak perlu mewah, yang penting higienis dan layak untuk digunakan oleh ibu menyusui dan bayi.
  2. Pemantauan terhadap promosi dan penjualan susu formula juga menjadi salah satu PR besar bagi pemerintah dan dinas terkait untuk menyukseskan program ASI Eksklusif. Semua pihak, baik itu tenaga kesehatan dan produsen susu formula, yang masih diketahui melanggar peraturan pemerintah seyogyanya harus diberikan sanksi sesuai dengan yang telah ditetapkan pemerintah. Hal ini menjadi penting karena sangat mempengaruhi keberhasilan ibu dalam menyusui.
  3. Penting pula bagi pemerintah untuk menegaskan betapa pentingnya IMD dan rawat gabung kepada rumah sakit dan tenaga kesehatan. Karena, seperti yang telah dijabarkan di atas, walaupun sudah tercantum jelas dalam perundang-undangan, masih banyak rumah sakit dan tenaga kesehatan yang tidak mengindahkan peraturan tersebut dan sangat merugikan bagi bayi dan ibu.
  4. Masukan yang lain adalah pemberian subsidi kepada ibu menyusui yang kurang mampu sehingga ia bisa tetap mempertahankan gizi dalam tubuhnya agar bisa memberikan makanan terbaik kepada bayi yaitu ASI Eksklusif.
  5. Hal lain yang kami harapkan dari pemerintah adalah pemberlakuan perpanjangan waktu cuti melahirkan seperti yang telah diterapkan di Aceh agar dapat terlaksananya pemberian ASI Eksklusif tanpa hambatan yang disebabkan oleh pekerjaan atau peraturan perusahaan yang tidak fleksibel terhadap ibu menyusui.
  6. Terakhir, sangat penting bagi pemerintah untuk mengkomunikasikan pentingnya ASI dan menyusui kepada masyarakat luas dengan berbagai cara secara konsisten. Hal ini diharapkan dapat membangun opini publik yang positif tentang ASI dan menyusui. Jika semua pihak sudah teredukasi akan pentingnya ASI dan menyusui, niscaya dukungan yang diperoleh ibu menyusui pun akan meningkat dan sangat berpengaruh pada keberhasilan ibu dalam menyusui.

Pada akhirnya, menyusui adalah langkah pertama bagi manusia untuk mendapatkan kehidupan yang sehat dan sejahtera. Menyusui adalah hak pertama yang dimiliki bayi setelah dilahirkan.

Di Indonesia, terdapat 9 dari 10 ibu pernah memberikan ASI. Angka yang besar? Tunggu dulu.. Penelitian Ikatan Dokter Anak Indonesia pada tahun 2015 menyatakan bahwa hanya 49,8% ibu yang memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan. Adapun rendahnya cakupan pemberian ASI ini akan berdampak pada kualitas generasi penerus bangsa dan juga pada perekonomian nasional.

Jadi, apa yang bisa kita perbuat untuk mendukung pemenuhan ASI Eksklusif di Indonesia?

Tabik.

-Si Ibu Jerapah-

Referensi:
http://aceh.tribunnews.com/2016/08/16/doto-zaini-pns-dapat-cuti-melahirkan-6-bulan
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/dampak-dari-tidak-menyusui-di-indonesia
http://www.ibujerapah.com/2016/08/world-breastfeeding-week-2016-menyusui.html
https://m.tempo.co/read/news/2014/03/01/060558464/dukungan-pemberian-asi-belum-maksimal
http://www.depkes.go.id/article/view/15092900003/menerjemahkan-tujuan-pembangunan-berkelanjutan-sdg-s-dalam-agenda-pembangunan-nasional.html
http://worldbreastfeedingweek.org/
http://apiycna.org/wp-content/uploads/2014/01/Indonesia_Government-Regulation-no-33-year-2012.pdf
http://menyusui.info/regulasi/undang-undang-dan-peraturan-tentang-menyusui-dan-bekerja/
http://www.gizi.depkes.go.id/download/Kebijakan%20Gizi/Pokok-Pokok%20PP%20Nmr%2033%20Thn%202012%20Ttg%20Pemberian%20ASI%20Eksklusif.pdf

Comments

  1. Setuju banget bahwa memang di ruang publik belum banyak ruang laktasi. Di stasiun misalnya, masih belum ramah ibu menyusui. Padahal itu hak menurut saya. Sepakat juga soal ruang rawat ibu dan anak yang disatukan, dulu saya waswas pas anak kedua karena anak terpisah sementara kan kebutuhan akan ASI masih sangat tinggi.
    Saya mendukung banget usulan agar cuti melahirkan diperpanjang. Ibu harus rileks saat cuti merawat sang bayi. Ini kan investasi masa depan. Jangan sampai pemerintah lalai dengan membiarkan sufor lebih mendominasi. Harus ada edukasi dan advokasi, betul. Makasih sharingnya mbak desi.

    ReplyDelete
  2. Tolong dilengkapi bahwa pernyataan saya pernah di kasih susu formula oleh RSIA itu adalah kejadian tahun 2007. Peraturan itu ternyata baru ada tahun 2013. Saya kira sekarang sudah tidak lagi. Mohon maaf kemarin lupa melengkapi dengan tahunnya. Semoga tidak jadi fitnah.

    ReplyDelete
  3. Rawat gabung memang cara efektif buat bonding ibu dan anak sekaligus mancing asi cpt keluar hehehe..

    ReplyDelete
  4. Iya bener banget mba. Menyusui memang bagian dari proses pembangunan yang berkelanjutan ya mba

    ReplyDelete
  5. Kalau di kampung, mau nyusuin ya nyusu aja sih, gak pake ngumpet

    ReplyDelete
  6. ini bagus bangeeeet....persis ama bayanganku dc.....kereeeen....

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan aku lupa bilang....mama Amira :)

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts

Institut Ibu Profesional