Kepiting Chef Epi yang Tak Terlupakan


"Cie, ayo dong, anterin Mama makan kepiting..", ajak Mama di suatu sore.
"Kepiting? Makan di mana?", tanya saya.
"Itu, lho. Ada restoran kepiting di Bandung yang kemarin masuk tivi. Mama pengen banget ke sana..", jelas Mama.
"Kok bisa masuk tivi? Enak banget?", tanya saya lagi.
"Katanya sih gitu. Tapi Mama penasaran banget karena liat cara penyajiannya. Kepitingnya dimakan di meja lho, Cie..", jelas Mama lagi.
"Lha iya di meja, atuh. Masa di kursi?", balas saya tak sabar.
"Hmm, maksudnya, kepiting disajikan langsung di atas meja, nggak pakai piring gitu. Unik banget, pokoknya..", jawab Mama.
"Ooooh, seru juga ya? Kapan kita ke sana? Sekarang?", tanya saya lagi, sudah mulai bersemangat.
"Nanti aja kapan-kapan ya, nunggu Engking pulang aja supaya dia yang traktir..", jawab Mama sambil berlalu ke dapur meninggalkan saya yang terlanjur penasaran dengan cara baru makan kepiting ini.


Bukan saya namanya kalau nggak langsung googling untuk mencari tahu restoran yang Mama maksud. Dari hasil googling, saya langsung tergiur dengan foto menu-menu kepiting yang disajikan. Belum lagi, ekspresi dan keseruan pengunjung saat makan kepiting langsung di atas meja.

Namun semangat saya langsung melempem saat tahu harganya. Budget untuk makan di sana bisa mencapai 6 digit Rupiah. Mak, hanya untuk makan kepiting? Sayang banget..

Akhirnya saya googling restoran kepiting lain di Bandung yang menawarkan konsep yang sama. Dan voila! Saya menemukan nama Kepiting Chef Epi di mesin pencarian tersebut. Kemudian, saya pun membaca beberapa pengalaman food blogger dan rekomendasi dari situs kuliner tentang Kepiting Chef Epi. Kesimpulannya : menu kepiting di sana wajib dicoba dan harganya masih terjangkau. Yeaayy!

Berhubung harus menunggu Engking demi alasan solidaritas, rencana makan kepiting tersebut tertunda berbulan-bulan. Maklum, kami semua pelupa dan tidak ingat sama sekali dengan rencana tersebut. Haha..

Sampai suatu sore, saya, Mama dan Ahza menjemput Engking yang baru tiba di Bandara Husein Sastranegara. Selepas meninggalkan bandara, Engking langsung mengajak kami untuk makan. Sepertinya ia lapar setelah menempuh perjalanan cukup panjang dari pelosok Kalimantan.

Seperti biasa, menentukan tempat makan adalah hal yang rumit di keluarga kami. Hidup di Bandung memang membuat kami disuguhi banyak sekali pilihan kuliner terbaik di muka bumi. Beneran, saya nggak bohong. Hehe..

Dari semua tempat yang kami sebutkan, sepertinya tidak ada tempat baru yang bisa kami coba. Pengen juga dong sesekali menjajal makanan baru di luar rumah. Jarang-jarang, bukan?

Lalu saya teringat dengan Kepiting Chef Epi dan Mama pun langsung bersemangat mendengar ide tersebut. "Hayuk, cepet ngebuuut!" perintah Mama. Haha, dasar Mama.


Tidak sulit menemukan Kepiting Chef Epi. Restorannya terletak di area yang sama dengan Hotel Sheo. Jika tidak familiar dengan nama hotel ini, itu karena pergantian nama dari Hotel Arjuna. Hotel Arjuna sendiri adalah salah satu hotel favorit di Bandung untuk berenang karena kolam renangnya yang cukup luas dan nyaman. Oia, restoran ini terletak di Jalan Ciumbuleuit nomor 154, Bandung.

Konsep dari restorannya sendiri cukup sederhana namun unik. Dari susunan meja dan kursi, restoran ini bisa menampung cukup banyak orang. Sangat cocok untuk dijadikan tujuan makan keluarga besar atau teman-teman.


Kami tiba di Kepiting Chef Epi tepat sebelum Maghrib dan hujan baru saja berhenti turun di Kota Bandung. Saat kami datang, belum ada satu pengunjung pun di sana. Hati saya sempat ragu, “Duh, kok sepi ya? Jangan-jangan nggak enak?” dan pikiran negatif lainnya. Hehehe..

Sesuai dengan hasil survey saya beberapa bulan yang lalu, kami langsung memesan menu terfavorit di restoran ini: Butter Crab. Untuk teman makan kepiting, sebenarnya sangat disarankan untuk memakannya dengan roti mantau. Namun, karena kami belum merasa makan jika belum menyentuh nasi, maka kami memilih nasi putih untuk teman makan kepiting.



Sambil menunggu pesanan, kami shalat Maghrib dan Ahza memesan es krim stroberi. Rasa es krimnya standar karena menggunakan es krim yang beredar di pasaran, bukan homemade.

Setelah tak sabar menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga: Butter Crab.

Hmmm, sebentar, nampaknya saya harus bersiap dulu untuk menceritakan pengalaman memakan Butter Crab ini *lap iler*

Sebelum menyuguhkan kepiting, pramusaji terlebih dahulu melapisi meja kami dengan plastik. Lalu, ia langsung menyajikan kepiting di atas meja. Begitu sampai meja, langsung tercium aroma yang bisa membuat siapapun tergoda untuk mencicipi. Hmm, wangi bangeeet!

Satu porsi Butter Crab ini terdiri dari dua kepiting yang beratnya saya kurang tahu pasti. Kepiting dilengkapi dengan saus butter dan bawang putih utuh. Oia, Chef Epi juga menambahkan irisan lemon untuk memperkaya cita rasa. Rasanya?


Duh, duuuh.. Gimana ya, susah menjelaskan rasa Butter Crab ini tanpa ngiler. Slrrpp..

Rasanya? Mantap. Sempurna.

Bumbu dari Butter Crab ini meresap sampai ke dalam daging kepiting. Daging kepitingnya pun lembut dan aah, nyummy. Lalu, saus butter yang dicampur dengan air lemon membuat selera makan kamu akan meningkat tajam. Walaupun kepitingnya sudah habis, kita masih bisa menggunakan roti mantau atau nasi untuk menikmati sausnya. Untuk penyuka rasa asin dan gurih, rasa Butter Crab ini sempurna. Asyiiin-asyin asyik. Hehe.. Dan, aroma butter-nya membuat masakan ini semakin kaya rasa dan aroma. Bawang putihnya? I’m loving it. Enak banget!

Nikmatnya Butter Crab pun dimeriahkan dengan sensasi makan langsung di atas meja. Jadi, tidak usah ragu untuk kotor-kotoran. Semua aman! Hehe..

Ada lagi nih keseruan makan kepitingnya Chef Epi! Chef Epi, sang pemilik restoran, mengklaim bahwa semua menu di restorannya halal dan No-MSG. Seriusan segini gurih nggak pakai MSG? Huaaa, aman untuk anak-anak dong pastinya? Yup, yup! Nikmat tapi sehat!

Eits, beneran makan kepiting sehat? Yuk kita intip nilai gizi dari ting ting si kepiting!

Sumber: artyakinanthi.wordpress.com

Bersyukur banget ya hidup di Indonesia. Untuk saya, Indonesia itu surganya dunia. Ada hal-hal yang nggak akan kita temukan di negara-negara hebat di dunia, yang hanya ada di Indonesia. Termasuk di antaranya adalah kekayaan alam dan kulinernya.

Alam Indonesia itu kayaaaa sekali. Bayangkan, jika di luaran sana untuk mengonsumsi seafood aja harus impor sana-sini, kita bisa menemukan banyak kekayaan laut dengan mudahnya. Termasuk si kepiting ini. Walaupun Bandung jauh dari laut, tapi tetap saja bisa dipasok dari berbagai tempat, salah satu Jakarta.

Dan untuk masalah kuliner, jangan tanya lagi! Lidah saya paling cocok dengan masakan Indonesia, terutama yang asin dan spicy. Saya jatuh cinta pada masakan Indonesia. Rasanya, walaupun ada ratusan kilometer dari rumah, kalau sudah menyantap masakan Indonesia, waaah feels like home. Selalu bikin nyaman.

Nah, kalau kamu, kreasi olahan laut apa yang jadi favorit di kotamu? :)




Salam sayang,
Si Ibu Jerapah

Referensi: artyakinanthi.wordpress.com
Foto: dokumen pribadi

Comments

  1. kesukaan akuuuuu tuuuh kepiting, enyak enyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak teeh, tapi suka riweuh makannya haghag

      Delete
  2. seafood fav aku tongkol asam padeh

    ReplyDelete
  3. Uuu kepiting ... Aku suka juga seafood ..
    Favorit aku cumi-cumiiiii

    ReplyDelete
  4. Paling bingung makan kepiting teh da. Wkwkwk. Ndeso yak. Itu bingung ngageprek cangkangna.

    Kepiting butter ... Kalau lihat penampilannya sih endang banget kayaknya yak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang mba.. biasanya aku nggak pernah ngabisin dagingnya da nggak bisa.
      Endeus bangettt hayooo :*

      Delete
  5. ga suka kepiting, tapi liat orang makan meni resep banget yaa otak atiknya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. *otak-atik

      Iya teh.. seru makannya hihi

      Delete
  6. Ini kepitingnya bikin nagih deh pastinya mb... cobain ah kapan2 :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts

Institut Ibu Profesional