Cara Mudah Membangun Home Library ala Ibu Jerapah


Ahza dan saya memiliki super mini home library di kamar kami. Mengapa super mini? Karena memang super duper kecil dan mungil jika dibandingkan dengan deretan koleksi buku di perpustakaan yang sering kami kunjungi. Ini dia penampakannya:

Home Library Duo Denali

Super duper mini, bukan? Hihi..


Walaupun begitu, super mini home library ini adalah salah satu kebanggaan saya sekaligus tempat favorit saya dan Ahza di kamar. Boleh saja koleksi kami masih sangat sedikit, tapi perlu perjuangan panjang dan komitmen kuat untuk mewujudkan home library ini. Etapi, kalau boleh jujur, perjuangan dan komitmen ini sebenarnya nggak pernah terasa jadi beban, lho. Mengapa? Karena memang dari kecil saya suka membaca buku dan sangat paham akan manfaat dari membaca.

Jika ibu-ibu lain keranjingan belanja (baik offline dan online) baju, tas, sepatu, lipstik, parfum, dan banyak lagi, saya keranjingan belanja buku. Yup, saya adalah anggota dari Komunitas Penimbun Buku (jangan dicari komunitasnya karena ini hanyalah khayalan saya semata, wkwk). Bagi saya, buku itu candu. Nggak lengkap rasanya jika sehari saja belum membaca buku.

Berangkat dari kecintaan saya pada buku itulah akhirnya saya nggak sadar kalau koleksi buku kami berdua sudah numpuk di meja belajar, meja makan, meja tv, ruang tamu, meja rias dan di mana-mana. Sampai akhirnya semua ini membuat Enin-nya Ahza aral. Wahaha..

Untuk merapihkan tumpukan-tumpukan buku ini, akhirnya kami sepakat untuk membeli rak buku di Hyp***art. Cukup yang murah meriah, yang penting kuat menopang buku dan muat masuk ke kamar kami yang hanya sepetak. Hehe..

Hasilnya? Ya seperti terpampang nyata di atas tadi, hehe..

Hari ini, sudah tidak ada space kosong lagi di rak buku kami. Artinya apa? Bisa berarti: pertama, saya harus stop membeli buku; kedua, buku-buku yang sudah lama tidak dibaca bisa dijual; ketiga, membeli rak buku baru. Huaa, yang mana yang harus dipilih ya.. Hmm..

Nah, berikut adalah tips untuk ibu-ibu yang memiliki rencana untuk membangun home library. Ala ala Ibu Jerapah yang insya Allah praktikal. Selamat mencoba!

Things first things

Buku Ahza menjadi prioritas saya

Buatlah prioritas. Siapa yang paling membutuhkan buku? Buku yang seperti apa yang dibutuhkan? Ingat, utamakan kebutuhan daripada keinginan. 

Pada kasus saya, saya lebih mengutamakan kebutuhan Ahza. Buku yang dibutuhkan Ahza adalah buku balita yang bentuknya aman untuk anak dan mengandung value positif yang bermanfaat untuk anak. Untuk alasan itulah saya puasa membeli novel sejak kelahiran Ahza. Terhitung hanya 1-2 kali saya membeli novel: Black Beauty dan Critical Eleven. Itupun karena sedang didiskon di Gramedia. Qadarullah, saya punya beberapa koleksi novel yang didapatkan dari hasil lomba blog atau giveaway yang jika dihitung-hitung lumayan banyak juga, alhamdulillah!

Masukkan buku ke dalam belanja wajib bulanan

Bisa pinjam buku ke perpustakaan lho!

Jangan lupa tentukan juga budget untuk belanja buku. Buat komitmen akan batasan anggaran tersebut, ya..

Karena saya mengutamakan kebutuhan Ahza, maka rasio anggaran belanja bukunya 80:20. 80 untuk Ahza dan sisanya saya. Setiap akhir bulan, gaji langsung disisihkan untuk membayar iuran arisan buku anak (untuk 3 judul paket buku). Bagaimana dengan buku saya? Yaa, itu mah kalau ada lebih-lebih uang, barulah saya belanja buku. Kalau tidak ada? Masih banyak buku di rumah yang belum dibaca atau bisa meminjam di perpustakaan.

Manfaatkan bazaar buku di toko-toko buku atau belanja di toko buku diskon

Salah satu bazaar buku murah di kota saya

Ini dia yang paling seru. Koleksi buku Ahza juga kebanyakan adalah hasil hunting dari bazaar buku Gramedia. Jika bazaar, buku-buku seharga Rp. 30.000 ke atas dijual dengan harga Rp. 5.000 – 10.000. Asyik, bukan?

Selain itu, kita juga bisa mengoptimalkan belanja di toko buku diskon. Diskon yang ditawarkan berkisar dari 10-30 %. Lumayan banget, kan? :)

Belanja buku bekas, mengapa tidak? 

Alhamdulillah, di Kota Bandung ada beberapa spot penjualan buku bekas yang selalu membuat saya ‘kabita’ setiap melewatinya.

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya dan Ahza iseng jalan-jalan di Asia Afrika, kami mampir di lapak toko buku bekas di sepanjang Ciliwung. Dari sana, Ahza dapat tiga majalah impor bekas tentang kuda. Senangnya bukan main, dan harganya Rp. 35.000 untuk tiga majalah. Hehehe...

Menjadi anggota komunitas pecinta buku untuk menjaga semangat membaca dan membangun home library

Nah, ini yang nggak kalah penting. Ada banyak sekali komunitas pecinta buku di media sosial. Untuk saat ini, saya tergabung dalam Book Advisor Mandira Dian Semesta bersama ribuan ibu lainnya. Di komunitas ini, kami bisa bertukar ide dan pendapat tentang buku, buku anak, metode membaca, membangun home library dan masih banyak lagi. Nggak hanya itu, di sini juga kita bisa mendapat info produk terbaru dari Pelangi Mizan dan mendapat kesempatan pertama untuk memiliki produk baru tersebut.

Yeay! Ahza sudah punya buku ini :)

Sebagai contoh, Ahza sudah punya Seri Telada Rasul yang baru akan dirilis tanggal 15 Desember 2016 nanti. Awesome, bukan? Hehe.. Dan masih banyak keuntungan lainnya :)

     Baca juga: Hijrah ke Dunia Buku

Bagaimana? Tertarik untuk membangun home library juga? Yuk ah dimulai dari sekarang!

Salam cinta buku,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

  1. Waah ... Mbak, idenya boleh juga ituuu. Saya punya beberapa buku di rumah, tapi masih sering dimasukkan ke lemari buku, jarang dibaca, huhu.

    Kalo liat buku pinginnya beliii ajah hehe.

    Oiya, kalau buku lama dijual, ndak sayang tuh? :)

    ReplyDelete
  2. aku lagi puasa beli uku dulu...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts