October 12, 2016

Belajar Merasakan Kopi di 5758 Coffee Lab


Saya dan kopi memiliki hubungan yang cukup rumit. Setelah bertahun-tahun tak ada satu hari pun yang saya lewati tanpa menyesap kopi, saya harus berpisah total dengan kopi selama hampir tiga tahun.

Tiga tahun tanpa kopi adalah waktu yang lama untuk saya. Rasanya ada yang salah saat harus memulai hari tanpa kopi atau beraktivitas di dini hari tanpa berteman secangkir kopi panas.

Saya terpaksa 'cuti' meminum kopi, karena Ahza ternyata sangat sensitif dengan kopi. Pernah suatu kali saya iseng mencicipi Capuccino Cingcau -yang tentu saja kandungan kopinya hanya sedikit- milik adik dan hasilnya Ahza langsung terjaga semalaman. Atau, ia pernah menjadi sangat rewel saat saya nekat meminum kopi hitam setelah semalaman terjaga usai merevisi tesis.

Sampai akhirnya saat air susu saya berhenti keluar, ini lah pertanda saya bisa mulai mengkonsumsi kopi lagi. Kembali menjadi pecinta kopi.

Eh, apa? Pecinta kopi? Rasanya saya belum pantas menyandang gelar ini setelah mengunjungi 5758 Coffee Lab di daerah utara Bandung. Di sana saya bertemu dengan para pecinta kopi yang benar-benar mencintai segala sesuatu tentang kopi.


5758 Coffee Lab

Apa yang terlintas di pikiran saat mendengar Coffee Lab? Laboratorium untuk meneliti kopi?  Kopi yang diperuntukkan untuk pekerja di laboratorium? Atau hanya nama unik untuk sebuah tempat ngopi di Bandung?

5758 (dibaca: maju mapan) Coffee Lab adalah kampus kopi kedua di Indonesia. Ya, Anda tidak salah baca. Kampus kopi. Selayaknya kampus, 5758 Coffee Lab membuka berbagai macam kelas untuk Anda para pecinta kopi, mulai dari kelas 'Coffee for Fun' yang mengajak kita belajar cara menikmati kopi dengan berbagai proses pembuatan kopi sampai kelas untuk para profesional bersertifikat internasional, 'Q Grader Class'.

Laboratorium dan pusat pendidikan kopi ini memiliki instruktur Q Grade yang juga pemilik dari 5758 Coffee Lab, yaitu Mas Adi W. Taroepratjeka. Mas Adi adalah orang Asia Tenggara pertama yang menyandang sertifikasi instruktur Q Grade dari Coffee Quality Institute.

Oya, untuk membuat kampus kopi ini tentunya tidak mudah. 5758 Coffee Lab harus memenuhi seluruh kriteria kampus kopi sesuai dengan standar yang dibuat oleh Specialty Coffee Association of America (SCAA) Campus. Alhamdulillah, pada tanggal 8 September 2016 yang lalu, SCAA secara resmi telah mengesahkan 5758 Coffee Lab sebagai SCAA Campus di Indonesia. Wiih, keren, ya!

Program kelas yang terdapat di 5758 Coffee Lab

27 September 2016 yang lalu, 5758 Coffee Lab mengundang media, termasuk blogger, pada acara Media Gathering 5758 Coffee Lab dengan tema "Benarkah Kopi Indonesia yang Paling Enak?". Pada acara ini, 5758 Coffee Lab mengajak media untuk mengenal lebih jauh tentang kondisi industri dan kualitas kopi Indonesia.

Para pembicara di media gathering 5758 Coffee Lab

Hmm, sebentar-sebentar. Kopi Indonesia itu yang kayak gimana ya? 

Tentang Kopi Indonesia

Di Indonesia, siapa sih yang tidak mengonsumsi kopi? Mulai dari Pak Satpam sampai sosialita tingkat dewa dewi. Mulai dari kopi seharga goceng sampai yang ratusan ribu. Bagi sebagian orang, kopi memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Seperti yang kita tahu, pada umumnya kopi yang dikonsumsi terdiri dari 2 jenis: Robusta dan Arabica. Untuk saat ini, 70% produksi kopi di Indonesia masih didominasi oleh jenis Robusta dan sisanya Arabica. Daerah-daerah penghasil kopi di Indonesia antara lain Lampung, Jambi, Bengkulu, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan masih banyak lagi.

Peta sebaran kopi di Indonesia
Sumber: brilio.net

Sejarah kopi di Indonesia dimulai tahun 1696 saat dibawa dan dibudibayakan oleh Belanda. Pada masa itu, produksi kopi di Indonesia menggeser produsen kopi terbesar di dunia, Yaman. Bahkan, Belanda -yang ketika itu menguasai Indonesia dan seluruh sumber dayanya- menjadi pengekspor kopi terbesar di dunia. Luar biasa.

Namun, sejarah kopi Indonesia yang gilang gemilang itu belum bisa terulang kembali sampai saat ini. Berdasarkan data dari International Coffee Organization, pada tahun 2016 Indonesia menyandang peringkat keempat dari Top Ten Negara Penghasil Kopi di dunia. Peringkat ini menurun setelah Vietnam berhasil menyusul produksi kopi Indonesia menjadi peringkat 3 di dunia.

Sekantung kopi dari petani

Seperti tipikal komoditi agribisnis lainnya di Indonesia, kopi pun menghadapi persoalan-persoalan pelik baik dari hulu maupun hilir. Dari hulu, petani kopi di Indonesia menghadapi persoalan dari mulai administratif sampai teknikal. Kopi yang merupakan tanaman perkebunan ternyata ada di bawah naungan Departemen Kehutanan, sehingga tidak mendapatkan fasilitas-fasilitas yang didapatkan oleh tanaman perkebunan, seperti subsidi pupuk.

Selain itu, Pak Yosef -salah satu petani kopi binaan 5758 Coffee Lab- berkata bahwa dari sisi pendapatan, petani kopi belum bisa merasa sejahtera dengan menanam kopi. Ya, seperti komoditi lainnya, kopi juga memiliki masalah dalam efektivitas tataniaganya. Ada rentang harga yang sangat besar di hulu dan hilir yang saya rasa tidak adil untuk para petani. Bayangkan, kopi yang saat ini sudah dianggap sebagai barang 'mahal' di kafe-kafe ternyata belum bisa memberikan kehidupan yang layak bagi petani. Inilah PR sesungguhnya dari 5758 Coffee Lab dan para generasi muda, IMHO.

Lalu, Pak Yosef juga menambahkan bahwa ia sangat terbantu dengan adanya 5758 Coffee Lab ini yang senantiasa memberikan masukan-masukan terhadap hasil panen petani. Dari hasil evaluasi tersebut petani menjadi tahu rasa enak yang sesuai standar Specialty Coffee Association Indonesia (SCAI) dan konsumen kopi pada umumnya. Selain itu, petani juga menjadi tahu bagaimana cara membuat kopi yang baik dari segi pengolahan.

Ah, kalau begini, sangat besar harapan saya agar 5758 Coffee Lab ini dapat memajukan industri kopi di Indonesia dari hulu sampai hilir. Aamiin. Semangat terus, Mas Adi dan teman-teman lainnya!

Belajar Merasakan Kopi

Usai lunch, sampailah kami di sesi yang paling ditunggu-tunggu: CUPPING! Untuk saya pribadi, ini adalah kali pertama saya menjalani proses cupping

Seperti yang saya kutip dari ottencoffee.com, coffee cuping adalah proses mengobservasi rasa sebelum kopi tiba dalam cangkir para penikmat kopi. Ada 2 indra yang berperan penting dalam proses coffee cupping: hidung dan mulut.

Sebelum memulai proses coffee cupping, Mas Adi menjelaskan bahwa di meja terdapat enam jenis kopi yang berasal dari tiga negara berbeda. Tanpa diberitahukan informasi apapun, peserta coffee cupping nantinya harus memilih dua kopi yang rasanya paling enak -tentunya berdasarkan selera masing-masing peserta-. Sebagai bocoran, ada dua jenis kopi yang berasal dari Indonesia. Nah, saatnya kita mencari tahu, apakah benar kopi Indonesia yang paling enak?

Seperangkan cupping kit siap untuk memanjakan indra dengan aroma dan rasa kopi

Mbak Mia dan kru 5758 Coffee Lab telah menyediakan 2 meja untuk proses coffee cupping ini. Pada masing-masing meja terdapat enam baki yang diisi dengan enam buah gelas. Masing-masing baki tersebut terdiri dari enam jenis kopi yang berbeda dan masing-masing gelas diisi dengan kopi sejenis. Selain itu, disediakan juga tisyu, sendok dan termos berisi air panas untuk menyeduh kopi.

Mesin penghancur biji kopi
Bubuk kopi
Sebelum memulai coffee cupping, kru 5758 Coffee Lab menghaluskan biji kopi dengan mesin canggih di bawah ini. Hasilnya adalah bubuk kopi dengan hanya sedikit ampas.

Mencium aroma bubuk kopi

Saatnya melakukan coffee cupping! Tahap pertama adalah mencium aroma bubuk kopi. Menciumnya pun ada aturannya, lho, nggak boleh sembarangan. Kita harus mencium sesuai dengan urutan gelas, mulai dari gelas pertama hingga keenam. Ini juga berlaku untuk keseluruhan proses, ingat, berurutan.

Pada tahap pertama ini, sungguh jelas terasa perbedaan aroma dari keenam jenis kopi tersebut. Ada yang aromanya manis, ada yang bau-bau tanah dan ada juga yang wanginya 'kalem'. Subhanallah, luar biasa ya..

Menyeduh kopi

Setelah mencium aroma kopi, tahap kedua adalah menyeduh kopi dengan air panas. Air dituangkan hingga ujung gelas alias hingga penuh. Penyeduhan ini dilakukan hati-hati supaya jumlah air yang tertuang sama banyaknya dan tentunya agar air panas tidak tersentuh tangan ya..

Mencium aroma seduhan kopi

Tahap ketiga adalah mencium aroma seduhan kopi. Nah, proses ini juga harus dilakukan dengan hati-hati supaya hidung tidak menyentuh kopi yang panas, hehehe..

Saat tiba di proses ini, lagi-lagi saya takjub. Aroma yang dihasilkan seduhan kopi ternyata memiliki perbedaan dengan bubuk kopi. Ada yang wanginya menjadi lebih lembut atau makin menyengat. Tapi ada juga yang aromanya relatif konsisten. 

Membuang buih

Ketika memulai tahap keempat ini, saya melontarkan pertanyaan konyol: "Oh, buihnya nggak diminum ya, Mbak Mia?". Aduh, payah. Yup, pada tahap keempat, kami membuang buih kopi dengan menggunakan sendok. Kopi pada gelas harus benar-benar bersih dari buih.

Nah, setelah membuang buih, sampailah pada tahap yang paling menentukan. Slurping alias mencicipi kopi dengan satu isapan yang berbunyi: Slllrrpp! Di sini, akhirnya saya agak mabok kopi, karena harus mencicipi sekitar 30 sendok kopi. Haha..

Dari tahap kelima ini, saya jadi tersadar kalau jenis kopi yang berbeda akan menghasilkan rasa yang benar-benar berbeda. Wow, subhanallah, betapa kayanya keragaman kopi di dunia ini. Ada yang rasanya asam, ada yang beraroma fruity dan ada juga yang... Ah, silahkan rasakan sendiri :)


Well, lalu, kopi mana yang menjadi favorit saya? Saat blind test, saya memutuskan bahwa rasa kopi yang paling enak adalah kopi tengah atas dan tengah bawah. Ealah, ternyata.. Keduanya masing-masing berasal dari Sumatera Utara dan Garut. Yeay! Lidah saya lidah Indonesia banget ya. Hehe..

Lalu bagaimana dengan kopi yang lain? Keempat jenis yang lain berasal dari China, Laos dan Vietnam. Dan ternyata, sebagian besar peserta blind test dan coffee cupping masih merasa bahwa kopi luar negeri masih yang terenak dibandingkan dengan kopi Indonesia.

Jadi, apa kesimpulannya? Apa kaitannya dengan tema media gathering kali ini: "Benarkah Kopi Indonesia yang Paling Enak?"

Kesimpulan dari coffee cupping hari ini adalah penikmat kopi di Indonesia masih merasa bahwa kopi Indonesia belum dapat memenuhi kriteria enak. Hal ini tentunya menjadi PR besar bagi semua pihak. Semua pihak di sini termasuk saya dan kita semua. PR petani adalah bagaimana cara membudidayakan kopi yang menghasilkan rasa yang enak sesuai standar pasar. PT pemerintah tentunya adalah dengan memfasilitasi petani kopi dan elemen pendukungnya. PR lembaga-lembaga seperti 5758 Coffee Lab adalah untuk terus meneliti dan mengevaluasi situasi perkopian. Dan PR untuk kita semua adalah mulai mencintai kopi produksi dalam negeri.

Kalau bukan kita, siapa lagi?
Kalau bukan dimulai dari kita, bagaimana kopi Indonesia bisa berjaya di dunia internasional?
Yuk, minum kopi Indonesia!:)

Akhir kata, izinkanlah saya 'pamer' oleh-oleh dari media gathering 5758 Coffee Lab berupa kopi-kopi specialty Indonesia. Huaaa, senangnya :)

Kopi Arabica dari Sapan Toraja
Kopi Opini
Kopi Robusta dari Flores Manggarai

5758 Coffee Lab
Jl. Rusa Pinus Raya E1-D, 
Komplek Pondok Hijau Indah, 
Gegerkalong, Bandung, Jawa Barat 40153

Yuk ngopi bareng!


Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

8 comments :

  1. Aku kok udah nyoba arabika gak ada yg kusuka ya, lebih suka kopi tubruk kiloan.. wkwkwk

    ReplyDelete
  2. Yuk ngopi bareng... tapi aku belum bisa bedain yang mana yang begini, mana yang begitu hehehe
    baru sebatas ngopi yang sachet, botol, dan kemasan gitu aja. hehehe :D

    ReplyDelete
  3. Cupping...belajar 3 bulan masih belom bisa nyeroot nya hahah

    ReplyDelete
  4. Dipi jg suka kopiiii mba :). Itu alamatnya dmn ya? Mereka buka kelas kursus kopi kan ya? Pgn belajar resmi. Sayang sekali kita tergeser oleh Thailand di posisi 3 ya. Tpi dipi ttp cuma cinta kopi asli indonesia dongs... :). Kmarin terakhir habis nyicipin kopi toraja kalosi, lalu sebelumnya kopi organik flores, citarasanya mmg beda2 ya.. Luar biasa kekayaan kopi Indonesia :).
    Salam
    Dipi-Bandung-www.dipiwarawiri.com

    ReplyDelete
  5. Saya baca tulisan ini karena tadi baca tulisan 'enak itu apa' di foto yg nongol di link yg dishare. Emang yah klo ke warkop atau kafe kopi, buat saya semua kopi teh sama. Enak-enak aja. Tapi membedah enak kayak gimana, saya gak ngerti karena gak ngerti dasarnya juga. Makanya klo review kafe kopi saya mah nyoba kopi modern aja yg dicampur2 karamel. Kopi item mana saya ngerti. Kayaknya haru belajar di 5758 ini, menarik euy belajarnya.

    ReplyDelete
  6. Owalah 758 tu dari ma ju ma pan hehe
    kreatif :))
    Jenis2 kopi banyak banget ya mbak herannya kalau barista gtu tau bedanya, kalau sya yg awam ya ngrasa sama aja :))

    ReplyDelete
  7. Wahh wahhh wahhh mantep ini, semakin banyak edukasi tentang kopi semakin mengenal lebih dalam. Dibilnag pecinta kopi kayakbya masih jauh, cuma saya penikmat kopi. hihihihi Ngga harus setiap hari, sesekali kalo betul-betul lagi mau.

    Hebring teh Dc 3 tahun tanpa kopi. Bravoo... hehehehe Ini referensi tempat ngopinya boleh juga. Makasih infonya teh.

    ReplyDelete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...