Belajar dari Senyum Gumilar

“Psst, gue nggak pernah tuh liat Si Gumi senyum lebar kayak gitu. Lucu, ya?”
“Hihi, iya..”
Bisik-bisik ini saya dengar saat Gumilar (yang dipanggil Gumi oleh teman-temannya) menceritakan tentang hal menarik apa yang baru-baru ini ia kerjakan. Konon, ia adalah anak pendiam yang jarang sekali terlihat excited. Boro-boro excited, terbit senyum saja adalah hal yang langka bagi di wajah Gumilar.

Namun, lihatlah senyum sumringahnya saat ia menceritakan passionnya. Ia bercerita bahwa mengerjakan tugas Dream Book adalah hal yang sangat menarik yang ia kerjakan akhir-akhir ini. Menurutnya, gara-gara mengerjakan Dream Book, ia bisa mengerjakan 6 buah gambar hanya dalam waktu 2 minggu. Padahal, biasanya ia hanya bisa menghasilkan 1 buah gambar dalam 1 minggu. 


Oia, Dream Book ini adalah tugas yang saya berikan kepada mahasiswa Mata Kuliah Kewirausahaan agar mereka dapat merinci setiap mimpi dan target kehidupan mereka. Hal ini bermanfaat untuk melatih mereka membuat goal setting dan tentunya merencanakan sejak sekarang tentang langkah apa yang harus mereka lakukan untuk mewujudkan impian-impian mereka.

Kemudian, Gumilar melanjutkan ceritanya tentang hal apa yang sangat mudah ia kerjakan. Jawabannya tentu saja: menggambar. Pun tentang hal apa yang sangat ingin ia kerjakan sekarang. Jawabannya lagi-lagi seputar menggambar: membuat anime. Hehe..

Cerita Gumilar diakhiri dengan harapannya dalam 20-30 tahun ke depan, yaitu impiannya untuk bekerja di Pixar dan menciptakan banyak anime populer. Waw!

Menurut teman-teman, jurusan apa yang cocok untuk Gumilar saat ini? Yup, semua pasti sepakat bahwa Gumilar pasti sangat cocok jika kuliah di jurusan desain grafis atau sejenisnya. Yah, yang nyerempet pada passion menggambarnya lah pokoknya.

Faktanya, Gumilar kini sedang menuntut ilmu di jurusan Administrasi Bisnis. Bukan hal yang salah, namun sepertinya agak jauh melenceng dari bakatnya, bukan?

Lalu, mengapa Gumilar mengambil Administrasi Bisnis sebagai tempatnya bernaung 4 tahun ini? Jawabannya, karena disuruh orangtua. Standar.

Gumilar ini tidak hanya satu. Tapi ada banyak sekali Gumilar-Gumilar lainnya. Begitupun cerita-cerita lain dari mahasiswa-mahasiswa saya. Ada yang ditentang orangtuanya kuliah di jurusan Matematika Murni, ada yang dilarang kuliah di Informatika dan lain-lain, padahal mereka amat menyenangi bidang tersebut.

Melihat cerita Gumilar dan teman-temannya, mungkin tidak bisa diputuskan secara sepihak siapa yang salah. Orangtua tidak dapat 100% disalahkan karena mereka pasti memiliki pertimbangan sendiri saat menyekolahkan anaknya pada jurusan yang mereka kehendaki atau melarang si anak untuk mengambil jurusan tertentu. Anakpun tidak dapat disalahkan karena mereka adalah anak yang fitrahnya harus menuruti perintah orangtua selama tidak melanggar norma agama, betul?

Ah, saya jadi teringat dengan artikel Mbak Inda Chakim tentang “Asyiknya Jadi Asertif”. Eh, asertif itu apa?

Seperti yang saya kutip langsung dari Mbak Inda, menurut KBBI, asertif adalah kemampuan untuk mengomunikasikan apa yang diinginkan dan dipikirkan kepada orang lain, namun tetap menjaga dan menghargai perasaan pihak lain.

Menurut indosdm.com, orang yang memiliki perilaku asertif akan memiliki pikiran percaya dan menghormati diri sendiri serta orang lain. Selain itu, mereka juga selalu menekankan untuk menyelesaikan masalah secara efektif.

Sungguh indah saat sebuah keluarga menerapkan komunikasi asertif di dalam rumah. Jika komunikasi asertif yang dilakukan, tentu tidak ada lagi pemaksaan kehendak baik dari pihak orangtua dan anak. Kedua pihak akan selalu mengambil keputusan dengan duduk bersama dan saling mengomunikasikan apa yang diinginkan oleh masing-masing pihak dengan menghargai keinginan dan pendapat pihak lain.

Jika sudah begini, solusi yang didapat pun pasti win-win solution. Anda senang, saya puas. Semua pihak bahagia. Tidak ada yang tersakiti dan tidak ada yang terpaksa. 

Harapannya, tidak akan ada Gumilar yang selalu murung di kelas karena terpaksa mengikuti mata kuliah yang sebenarnya tidak pernah ia inginkan. Tidak ada lagi mahasiswa yang sengaja tidak masuk kelas Sosiologi karena sibuk mengotak-atik program komputer di kosannya.

Hal ini adalah PR untuk para orangtua, PR saya juga tentunya. Yuk, ah sama-sama belajar menerapkan komunikasi asertif di rumah. Belajar untuk bisa saling mengomunikasikan apa yang diinginkan dan melatih anak untuk mengatakan keinginannya. Kemudian, jangan lupa untuk saling menghargai pendapat dari anggota keluarga yang lain, yang paling berlawanan sekalipun.

Semoga suatu saat, Ahza bisa melakukan segala sesuatu –mulai dari sekolah ataupun pekerjaan- sesuai dengan passionnya tanpa intervensi dari pihak lain. Ya, tapi bukan berarti ibu nggak bisa kasih saran masukan, ya, Nak. Hehehe.. *tetep pengen eksis :p 

Selamat belajar dan berlatih menjadi keluarga asertif!

NB: Gumilar, terima kasih atas pelajaran yang kamu berikan dari senyummu, ya! :)

Salam sayang,
Si Ibu Jerapah

Comments

  1. hai mak Dessy...senangnya gara2 Dream Book bisa membangkitkan semangat seorang Gumilar. Hebat dosennya ini mah, peka akan mhs nya. Semangat terus Mak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, seneng deh liat mahasiswa semangat ngerjain tugas ini :)
      ini sebenarnya tugas saya waktu kuliah dulu, mba. karena efeknya bagus banget, jadi saya coba praktikkan ke mahasiswa. hehe

      Delete
  2. Mbk deasy, kreatif amat sih, boleh ditiru nih ide dream booknya..
    iyup, PR buat kita nih, selaku orangtua, : )

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi ini tugasku waktu kuliah mba, aku adaptasi lagi buat mahasiswa2ku. hihih :)
      iyaa PR kita bersama ya..

      Delete
  3. mbak... dream booknya post disini dong #kepo... hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah di posting di ig mba.. yuk kepoin ig saya.. wkwk #modus

      Delete
  4. mbak... dream booknya post disini dong #kepo... hahaha

    ReplyDelete
  5. Katanya siih.... katanya...

    kalo kita kuliah ngikutin keinginan ortu dengan tujuan utk menyenangkan hati mereka kita akan mendapat pahala dr Allah..Dan insyaAllah dengan ridho ortu.. semoga pintu kesuksesan akan terbuka. Hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin ya Allah..
      iya bener banget mba, asal nggak melanggar perintah agama ya? :)
      tapi lebih baik lagi kalau bakat dan passion anak bisa dikembangkan ya.. :)

      Delete
  6. Jadi tertarik juga bikin dream book :D

    ReplyDelete
  7. Hmmm, bisa ngga ya berjalan berdampingan antara keinginan orang tua dan passion?

    Rata-rata anak jaman dahulu rata-rata "terpaksa" masuk jurusan. Kmrn mendengar curhatan orang, bahwa orang zaman dulu lebih menerima keadaan, walaupun ibaratnya ngga cocok, tetap diterusin dan berjuang untuk berhasil. Karena bagi mereka ngga ada jalan lain (kondisi ekonomi). Kata dia, skrg anaknya malah gampang sekali pindah passion hanya gara-gara udah ga suka lagi. Terus kata dia pula, daya juangnya kurang. Entahlah...mungkin zaman dulu terpaksa kali yak dengan keadaan, jadi ngga ada waktu bermuram durja. Xixixi.

    Tapi saya pun berharap anak-anak mengejar passionnya sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwk iya mba.. dulu mah saya nggak kepaksa, tapi bingung sendiri passion saya apaan yak wkwkw

      Delete
  8. penasaran dream booknya kayak apa. Saya juga mau lho kerja di Pixar (ah, apa-apa mau saya mah)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada di ig aku bujer. hihi..
      iya, seru ya kayaknya. bertemu karakter2 Monster Inc.. *ini apa deh wkwk

      Delete
  9. Sejak kuliah sampai sekarang...aku masih lanjut ngisi dream book

    ReplyDelete
    Replies
    1. oiya yah.. nay pasti bikin juga ya dulu. ihihihi

      Delete
  10. Dream book? udah ku tarok mana yak? Haha maap udah usia jadi lupa.. kayaknya perlu bikin lagi nih, biar bisa semringah kayak Gumi

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts

Institut Ibu Profesional