September 04, 2016

Lebih Dekat dengan Homeschooling bersama Sabumi Bandung


Assalamu'alaikum..
Holahalo!

Timeline Facebook saya selalu dipenuhi oleh ibu-ibu praktisi Homeschooling dengan foto anak-anak unyu yang lagi main-mainan atau belajar di rumah. Pikiran saya cuma satu: duh, itu ibu-ibunya pada rajin banget yaaa, bikin ini itu untuk anak-anaknya. Apalah saya mah. Zzzz..

Tapiii.. Walaupun gitu, saya tertarik banget dengan konsep homeschooling atau homeeducation ini. Homeschooling atau HS, buat saya adalah alternatif lain selain sekolah formal yang sangat baik untuk bisa mengoptimalkan bakat dan minat anak. Selain itu, HS juga fleksibel banget. Fleksibel waktu, tempat sampai anggaran. Tinggal orangtuanya aja yang komitmennya harus kuat dan punya tekad baja untuk ngejalanin HS dengan anak-anaknya. Nah, makanya saya salut banget sama praktisi HS. Anda-anda luar biasa! :)

Karena memang masih banyak yang bikin saya penasaran dengan si HS ini, makanya saya langsung gercep waktu Teh Thasya nawarin tiket Ngobrol Asyik (Ngobras) Sabumi, tanggal 3 September 2016 yang bertema Legalitas Homeschooling. Waaah, kayaknya seru dan bakalan nambah banyak ilmu nih. Alhamdulillah, ada rezeki juga untuk bisa hadir di acara ini. Hihihi.. :)


Nah, karena memang saya sangat amat awam banget dengan per-HS-an ini, jadi sempat bingung juga dengan topik yang dibahas di Ngobras Sabumi ini. Apalagi HS yang dibahas di sini adalah HS untuk usia sekolah, terutama di tahun-tahun menjelang ujian kesetaraan (Paket A, Paket B dan Paket C). Tapi, nggak bakalan rugi juga kan kalau tetap memperhatikan dan membuat catatan-catatan seputar legalitas HS ini. Siapa tau nanti Ahza mau HS juga, jadi saya nggak bingung lagi ngurusin legalitasnya. Hihihi..


Apakah Homeschooling butuh Legalitas?


Sebenarnya pertanyaan ini bisa dijawab oleh keluarga atau praktisi HS masing-masing. Semua kembali ke tujuan awal melakukan HS. Jika memang tidak memerlukan ijazah, HS tidak memerlukan legalitas apapun. Namun, jika orangtua dan anak memerlukan ijazah untuk berbagai keperluan (misalnya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau alasan lain), maka pelaksanaan HS tersebut wajib memiliki legalitas.

Untuk saat ini, HS tunggal tidak diakui oleh pemerintah sehingga praktisi HS WAJIB menginduk atau bergabung dengan komunitas HS. Komunitas HS yang bisa mengurus legalitas pun nggak sembarangan. Komunitas tersebut wajib memiliki minimal 10 anak usia sekolah, khususnya anak-anak yang sedang (atau akan) menjalani persiapan ujian kesetaraan. Selain itu, untuk memiliki legalitas komunitas, diperlukan juga hasil evaluasi dari anak-anak HS sebagai syarat yang ditetapkan pemerintah.

Yup, anak HS wajib memiliki portofolio yang merupakan salah satu syarat legalitas HS. Selain portofolio, karena anak-anak HS akan mengikuti ujian kesetaraan, maka mereka juga wajib memiliki hal-hal yang dimiliki oleh anak-anak di sekolah formal, yaitu:
  1. Daftar hadir.
  2. Tugas-tugas.
  3. UTS.
  4. UAS.
Nah, ternyata nggak main-main yaa HS itu. HS memerlukan orangtua yang benar-benar siap bertanggung jawab penuh pada pendidikan anaknya. Eits, tapi jangan salah! Nggak cuma HS aja yang membutuhkan orangtua sebagai penanggung jawab anak, sebenarnya pada sekolah biasa pun nggak hanya sekolah atau guru saja yang bertanggung jawab pada pendidikan anak. It takes a village to raise a child. Dibutuhkan tanggung jawab dari semua pihak -sekolah, pemerintah, masyarakat dan ORANGTUA- pada pendidikan anak. Toh, pendidik utama dan sebenar-benarnya adalah orangtua bukan? Bahkan, ibu adalah pemegang status madrasah pertama untuk anak-anaknya. Duh, berat banget beban ini.. -___-"

Rapor Homeschooler


Eh, baru tau lho.. Ternyata anak HS juga punya rapor kayak anak sekolah formal. Waaah, keren nih! Terus, siapa yang ngisi rapornya? Mama Papa-nya? Wah, bisa 10 semua lah nilainya. Hihi..

Ternyata, nggak sembarang orang yang bisa membuat rapor untuk anak HS. Rapor untuk anak-anak HS dibuat oleh tenaga pengajar dari dinas pendidikan atau HS yang sudah memiliki izin. Tugas orangtua hanyalah melampirkan portofolio si anak yang kemudian akan dievaluasi oleh pihak berwenang. Ooh, gitu toh. Hmm, jadi subjektif ya, karena yang menilai bukan orangtua sendiri. Hehehe..

Ujian Kesetaraan untuk Homeschooler


Nah, bagian ini sebenarnya sederhana tapi kedengaran ribet oleh telinga saya karena memang baru kali ini saya mendengar proses untuk mengikuti ujian kesetaraan. 

Berdasarkan peraturan pemerintah, HS adalah salah satu bentuk dari lembaga pendidikan informal. Oleh karena itu, anak HS belum bisa mengikuti Ujian Nasional bersama dengan siswa sekolah formal. Tapi jangan khawatir, anak HS tetap bisa mengikuti ujian Paket A, B atau C, yang ijazahnya dianggap setara dengan sekolah formal.

Lalu, bagaimana cara mengikuti ujiannya?

Praktisi HS harus mendaftarkan siswa yang akan mengikuti ujian kesetaraan MINIMAL 1 tahun sebelum ujian. Jadi, misalnya, kalau si anak berencana akan mengikuti ujian Paket A pada Mei 2018,  ia harus mendaftar ke Dinas Pendidikan Kota (masing-masing) minimal bulan Mei 2017.

Kemudian, syarat lain untuk mengikuti ujian Paket A adalah memiliki rapor 5 semester. Cara mendapatkannya adalah dengan mengikuti kelas online yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan legal yang telah disetujui pemerintah. Misalnya nih, kalau kita anggota Sabumi, kita bisa mendaftar anak kita yang HS-nya sudah kelas 4 untuk tanggal ujian di tahun berikutnya. Lalu, selama 5 bulan pertama si anak wajib mengikuti kelas online selama 1,5 jam setiap harinya untuk materi kelas 4, 5 bulan kedua untuk materi kelas 5 dan 5 bulan terakhir materi kelas 6. Setelah itu, mereka wajib mengikuti tryout yang diselenggarakan Sabumi sebelum akhirnya berlaga di ujian sesungguhnya.

Nampak ribet? Ehm, kata ibu-ibu yang udah ngalamin sih nggak ribet-ribet amat kok prosesnya. Asalkan kita rajin follow up ke dinas dan si anak sudah siap mental untuk ujian, insya Allah semua proses akan lancar.

Tentang Sabumi


Dari awal, saya sudah menulis "Sabumi" berkali-kali, tapi belum memperkenalkan komunitas yang satu ini ya? Hihi..

Mungkin teman-teman belum familiar ya dengan Sabumi? Sama, saya juga. Ihik! Sebenarnya sudah beberapa bulan terakhir ini cukup familiar dengan Sabumi karena sering hilir mudik di Facebook, tapi ya belum tau apa sih Sabumi itu?

Jadi, Sabumi adalah salah satu komunitas HS di Bandung. Jadi, Sabumi ini menaungi anggota-anggotanya yang merupakan praktisi HS di kota Bandung. Di Bandung sendiri ada 8 komunitas yang menaungi 600 homeschooler. Kalau di luar Bandung gimana? Biasanya di masing-masing kota memiliki komunitas masing-masing. Selain faktor lokasi, ternyata beda daerah beda kebijakan. Di kota Bandung begini, belum tentu di kota lain sama, bahkan ada beberapa daerah yang masih belum mengakui keberadaan HS. Hiks.. Jadi, harus digarisbawahi kalau yang tertulis di artikel ini mungkin (mungkin lho ya) hanya berlaku di kota Bandung saja ya :) Oia, Bandung pun ternyata adalah kota percontohan HS di Indonesia lho. Wah, keren ya Bandung ihihi..

Praktisi HS bisa mendaftar untuk ujian Paket A melalui Sabumi untuk ujian tahun 2018. Lho kok lama banget? Jadi, ternyata, Sabumi berkomitmen untuk bisa memenuhi semua persyaratan yang diberikan oleh pemerintah dalam pelaksanaan HS dan ujian kesetaraan. Karena ternyata, ada beberapa lembaga yang bisa memberikan 'jalan pintas' agar praktisi HS bisa lebih cepat dalam menjalani ujian.

Hal ini disebabkan karena Sabumi menginginkan keHALALan di setiap proses pendidikan anak, termasuk saat harus menghadapi banyak peraturan dari pemerintah. Jika Halal, insya Allah ke depannya jalan anak akan selalu dilancarkan oleh Allah. Jadi, nggak bisa nyogok-nyogok yaa ke teman-teman Sabumi. Ihik..

Kontak Sabumi di 0812-1435-052 (Teh Shofa)


Kurikulum, Gaya Belajar dan Anggaran Homeschooling ala Bu Ida Nur'Aini


Setelah ngobrolin legalitas HS, acara selanjutnya adalah ngobrol-ngobrol dengan Bu Ida Nur'Aini yang merupakan praktisi HS. Di kesempatan ini, beliau berbagi cerita selama melakukan HS dengan ketiga anaknya yang saat ini berdomisili di Taiwan. Deuh, jauh yaa..

Pertama, tentang kurikulum. Ia memutuskan untuk me'rumah'kan anak sulungnya yang waktu itu sudah menginjak kelas 4 SD. HS untuk anak yang sudah lebih besar sebenarnya justru memudahkan orangtua karena si anak sudah tau apa yang menjadi minatnya. Jadi, untuk kurikulum, Bu Ida lebih membebaskan kepada si anak.

Misalnya, karena si anak sulung suka dengan design, maka HSnya difokuskan pada design. Entah itu membuat proyek atau menjadi freelance designer. Kemudian, anaknya yang kedua suka sekali dengan Kimia, sehingga Bu Ida meminta izin kepada laboratorium universitas setempat agar anaknya sesekali bisa mengikuti percobaan-percobaan yang ada di lab. Tentunya dengan seizin dan pengawasan profesor yaa..

Walaupun dibebaskan, ada beberapa hal yang WAJIB ada di keseharian anak-anak Bu Ida. Hal-hal tersebut adalah:
  1. Kecakapan hidup. Hal ini berhubungan dengan cara melakukan pekerjaan rumah sehari-hari yang bertujuan agar si anak dapat bertahan hidup dalam kondisi apapun. Anak-anak Bu Ida akan mengawali hari mereka dengan melakukan tugas rumah yang menjadi keahlian masing-masing. Misal, si sulung bertugas untuk bebersih dapur dan kamar mandi, sedangkan adiknya bertugas mencuci dan melipat baju.
  2. Membaca buku menjadi hal yang wajib dilakukan.
  3. Tadarus Al Qur'an dan setoran hapalan.
  4. Taklim bersama yang berisi pemaparan tentang analisa dari buku yang dibaca oleh anak-anak. Hal ini bertujuan agar anak bisa mengingat apa yang telah didapatnya dari suatu buku.
Lalu, bagaimana anak HS bersosialisasi dan berorganisasi? Seperti yang kita ketahui, anak HS kan nggak mungkin ikut OSIS ya? Nah, di sini lah peran orangtua dibutuhkan. Orangtua harus mau rajin mencarikan organisasi yang bisa dimasuki si anak dan jangan malas untuk menemani anak. Pengalaman Bu Ida, anak pertamanya adalah salah satu pengurus dari PPI Taiwan di mana anggota lainnya adalah mahasiswa S1 dan S2 yang sedang bersekolah di Taiwan. Wow..

Hal selanjutnya yang dibahas adalah tentang gaya belajar. Menurut Bu Ida, yang paling bisa menjadi penilai terbaik dari gaya belajar anak adalah orangtua. Sebenarnya, tidak udah meminta pendapat ahli atau alat, melainkan hasil pengamatan orangtua adalah jawaban terbaik tentang gaya belajar anak.

Jika sudah terbaca, jangan memaksakan hal yang tidak sejalan dengan gaya belajar anak tersebut. Misalnya, karena si anak suka menggambar, maka Bu Ida tidak memaksa si anak untuk mau menulis. Selain karena si anak akan stres jika dipaksa menulis, ternyata pendapat, ide dan analisa anak tentang suatu kasus bisa tertuang dengan lebih baik dengan cara lisan atau berbicara. 

Yup, setiap anak itu spesial. Unik. Jadi, yuk sama-sama belajar menghargai kemampuan anak dan mengoptimalkannya.. :)

Nah, yang terakhir adalah tentang anggaran. Bu Ida mengakui bahwa saat tahun-tahun pertama HS, beliau dan suami sempat 'kejebolan' lantaran anggaran untuk melakukan HS ternyata lebih besar dibanding sekolah biasa. Lho, kok bisa? Bukannya harusnya justru ngirit ya?

Hal ini terjadi karena di Taiwan sangat sulit untuk menemukan komunitas HS di mana biasanya komunitas-komunitas ini menyediakan berbagai club yang bisa dimanfaatkan untuk melatih bakat anak. Jadi, demi kelancaran HS, akhirnya Bu Ida memasukkan anak-anaknya ke beberapa club di Taipei yang jaraknya jauh dari tempat tinggalnya. Nah, biaya yang dikeluarkan untuk berbagai club (anak-anaknya mengikuti banyak sekali club) ditambah ongkos ke Taipei ternyata membuat dompet keluarga kembang kempis, sehingga akhirnya Bu Ida memutuskan untuk menghentikan aktivitas tersebut dan memilih menginvestasikan uangnya pada buku.

Atas nama anggaran, orangtua juga wajib aktif mencari peluang kerjasama yang bisa melibatkan anak dengan perusahaan. Misalnya, peluang magang atau kesempatan mengikuti kegiatan di lab seperti anak kedua Bu Ida.

'Mondok'nya Anak HS dan HS untuk Anak Berkebutuhan Khusus


Di sesi tanya jawab ini, ada beberapa pertanyaan yang menarik. Di antaranya adalah bagaimana mempersiapkan anak HS untuk 'mondok' di pesantren dan bagaimana HS untuk anak berkebutuhan khusus (ABK).

Untuk pertanyaan seputar anak HS yang akan 'mondok' di pesantren, Bu Ida mencontohkan dengan anaknya sendiri. Si sulung sudah memutuskan untuk mondok pada usianya yang ke-16 setelah mengikuti ujian Paket A.

Bu Ida nggak langsung setuju lho, tapi menghujani si sulung dengan berbagai pertanyaan. Mulai dari bagaimana nasib kuliah desain si anak dan rencana si anak untuk menikah di usia 19 tahun. Ternyata, si sulung bisa menjawab semua pertanyaan dan kekhawatiran si ibu dengan sangat baik, sehingga Bu Ida pun akhirnya menghormati dan mendukung keputusan si anak.

Intinya apa? Intinya, kalau memang si anak sudah paham dengan risiko dari apa yang menjadi pilihan hidupnya, biarlah dia mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Kalau si anak sudah tau dan siap akan risiko mondok dari A sampai Z, ya sudah, biarkan dia mondok dengan keyakinannya itu.

Ini pun bisa dimanfaatkan orangtua untuk mengajarkan anak akan risiko dan pengambilan keputusan. Dan yang jauh lebih penting, mengajarkan untuk berani bertanggung jawab akan apa yang sudah dipilihnya. Beuh, berat!

Untuk pertanyaan seputar HS untuk ABK, Bu Ida menyarankan untuk tidak memaksa ABK untuk mengambil ijazah kesetaraan. Selain hal itu bisa sangat membebani si anak, sebenarnya ABK lebih memerlukan kecakapan hidup daripada ijazah. ABK harus diajarkan bagaimana cara bertahan hidup agar mampu mandiri saat dewasa nanti dan tidak merepotkan orang lain. Tapi tentu saja, hal ini kembali lagi ke kebijaksanaan orangtua dan si anak itu sendiri. Ingat, HS is about family goal and setting.

Sebagai penutup, saya jadi teringat saran Bu Ida untuk merumuskan alasan kita melakukan HS dengan baik. Jangan karena menghindari bullying atau pornografi menjadi alasan kita meng-HS-kan anak kita. Toh, bullying kepada anak HS itu kejam juga lho. Dan nggak satu-dua anak HS yang justru terpapar pornografi saat HS. Nah, lho!

Pikirkan baik-baik apa yang melandasi kita untuk ber-HS. Pada kasus Bu Ida, beliau dan suami memutuskan untuk meng-HS-kan anak-anak mereka agar anak bisa memiliki banyak waktu untuk mengabdi pada orangtua yang sulit dilakukan oleh anak sekolah formal. Misalnya gini, karena alasan banyak PR, anak jadi nggak mencuci piringnya sendiri. Atau mengatasnamakan ujian, anak tidak pernah membantu ibu atau ayahnya di rumah. Hal-hal semacam itu lah yang sesungguhnya dibutuhkan anak saat memasukin dunia nyata di masyarakat. Oleh karena alasan itulah Bu Ida dan suami memutuskan untuk melakukan Homeschooling.


Wow, makin banyak tau tentang HS, makin tertarik dan jadi pengen HS juga. Iya nggak sih?
Tapi ya saya mah sadar diri aja.. Kok kayaknya belum PD yaa kalau untuk HS, walaupun Ahza memang rencananya nggak akan saya masukin PG dulu, biar main sepuasnya dulu aja di rumah. Hihi.. Mudah-mudahan nggak cuma main ya, Nak.. Mudah-mudahan Ibu bisa ngajakin Ahza belajar juga. Aamiin..

Nah, punya pendapat tentang HS juga kah?
Yuk sharing di kolom komentar..

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

5 comments :

  1. Bolehkah saya dapatkan contak person utk Sabumi HS ?
    Banyak hal yg ingin diketahui dari HS. Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola mba lista, makasih yaa sudah berkunjung.
      Kontak Sabumi ke 0812-1435-052 (teh shofa).
      Semoga membantu ;)

      Delete
  2. Mashaallah,
    resume nya baguuus, DC...

    Haturnuhun.

    *saya juga ga pede ber-HS...tapi paling engga HE boleh laah...
    cari-cari ide berkegiatan sama anak saat waktu tidak bersekolah dan weekend.

    ReplyDelete
  3. Pengen anaknya HS, tapi sekolah samping rumah bisa koproool, apa kata orangtuaku sekolah samping rumah tapi anak homeschooling T_T

    ReplyDelete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...