Belajar Berdamai dengan Ketidaksempurnaan


Assalamu'alaikum..
Holahalo!

Saat akad nikah dulu, yang terpikirkan dalam benak saya adalah saya sedang memasuki kehidupan yang benar-benar baru dari sebelumnya. Yang tadinya pacar, berubah menjadi istri. Yang tadinya ngekos sendirian, berubah menjadi berdua dengan suami. Yang tadinya selalu nggak punya tujuan pulang, akhirnya bisa punya tempat yang dinamakan rumah. Dan yang paling saya nanti-nantikan adalah bergantinya status pekerja kantoran menjadi ibu rumah tangga.

Yup, dunia saya semenjak akad nikah itu memang sudah berubah 180 derajat. Cita-cita berkarir setinggi lagit dan melanjutkan studi ke jenjang tertinggi sudah saya ikhlaskan untuk dikubur dalam-dalam sejak Pak (Mantan) Suami menginginkan saya menjadi ibu rumah tangga. Terus, apa saya kesal? Enggak, enggak sama sekali. Justru itu, kayaknya cinta mengubah segalanya. Saat itu impian saya berubah. Cita-cita saya jadi sederhana banget: jadi istri yang sholehah untuk suami dan ibu terbaik untuk anak-anak. Hanya itu. Sederhana, kan?

Qadarullah, Allah hanya mengizinkan saya menjalankan kedua peran tersebut -sebagai istri dan ibu- hanya dalam waktu yang sangat singkat. Di usianya yang masih tiga bulan, Ahza harus menerima kenyataan bahwa mulai sejak itu ia harus melanjutkan hidup tanpa ayahnya. But, it's ok, baby.. Life must go on..


Otomatis saya kalang kabut. Yang tadinya udah rencana untuk mengabdikan hidup di rumah, mau nggak mau harus keluar rumah untuk kerja. Saat itu saya mulai merencanakan apa yang akan saya lakukan ke depannya: bekerja, menjadi ibu sekaligus ayah untuk Ahza, memberi ASI eksklusif, MPASI homemade, nggak ngasih susu sapi ke Ahza, nggak ngasih Youtube, homeschooling usia dini (atau kalau bisa sampai nanti sekolah) dan rencana-rencana brilian lainnya. Yup, saya berencana untuk jadi ORANGTUA YANG SEMPURNA untuk Ahza.

Apa saya bisa?

Kenyataannya nol besar. Bahkan saya sampai pernah merasakan down banget, ngerasa jadi ibu paling payah di seluruh dunia. Alih-alih bekerja, saya malah menuruti perintah orangtua untuk lanjut S2. Boro-boro punya uang, malah ngabisin uang. Jujur, ini jadi beban banget buat saya.

ASI eksklusif? Alhamdulillah, masih dikasih rezeki sama Allah. Tapi ya gitu, penuh drama ASI seret lah, nggak bisa diperah lah, banyak masukan untuk ngasih sufor lah. ASIP di kulkas segunung? Nope. ASI saya susah diperah dan Ahza nggak mau minum ASIP. Zzz..

MPASI homemade? Okelah homemade tapi kadang-kadang seada-adanya aja. Bahkan Ahza udah mulai makan apa yang kita sekeluarga makan di usia 1 tahun. Kalau kita makan tempe sama sayur, ya Ahza makan itu. Kalau kita makan ikan asin, ya Ahza makan itu. Mau rikues masak khusus untuk Ahza ke Mama, tapi kok ya ngerepotin banget. Mau masak sendiri? Huhu, selain dana pas-pasan, saya juga nggak bisa masak enak buat Ahza. Hiks..

Nggak ngasih susu sapi dan Youtube? Aaakkk... Ini PR saya sampai sekarang. Ahza masih 'nyandu' banget sama susu UHT. Bahkan ada hari-hari di mana Ahza sama sekali nggak mau makan dan hanya mau minum susu. Arrghh.. Kalau udah gitu, saya biasanya suka marah-marah sama Ahza. Maaf ya, Nak :(

Youtube? Dalam sehari minimal ada dua sesi nonton Youtube. Nggak bisa dilarang. Kalau dilarang ya nangis.. Hiks.. Untungnya dia nontonnya itu-itu mulu. Kalau nggak kuda, ya delman, ya kuda, ya delman. Muter-muter teros. Wkwkwk..

Homeschooling usia dini? Ya Allah, entah berapa buku tentang aktivitas anak yang teronggok di perpus mini kami. Entah berapa seminar tentang hal ini yang saya ikuti. Dan entah berapa emak yang saya kepoin tentang aktivitas mereka ber-HS. Nyatanya? Saya terlalu sibuk untuk menyembuhkan diri dari luka dalam di hati. Nyatanya? Setiap hari Ahza saya bebaskan main apapun, nggak pernah saya bikinin mainan kayak ibu-ibu keren itu. Ahiiik.. :(

Semua, semua, semua itu sukses bikin saya stres. Saya ingin jadi IBU TERBAIK. Saya ingin jadi ORANGTUA SEMPURNA untuk Ahza. Tapi nyatanya saya nggak bisa ngelakuin itu semua seorang diri. Ternyata saya nggak se-setrong itu.

Lalu, berkenalanlah saya dengan konsep ini:
Hanya ibu-ibu yang bahagia yang bisa menghasilkan anak-anak yang bahagia.
Deg! Tujuan saya dan ide-ide saya yang brilian itu ya memang itu: bikin Ahza bahagia. Terus, kalau sayanya malah stres dan nggak bahagia, boro-boro bisa bahagiain Ahza kan? Jadi, percuma aja saya mati-matian jadi sempurna.

Terus, saya juga berkenalan dengan konsep ini:


Deg (lagi)! Bu, nggak akan ada orangtua yang sempurna, pasti semua orangtua bakal ngerasa dirinya penuh kekurangan. Daripada stres mikirin kapan kita jadi sempurna, lebih baik JUST BE A REAL ONE. Ya Allah, suka banget deh sama quotes ini. Makasih ya, sis Sue Atkins (sok kenal).

Hal ini juga sejalan dengan tulisan Mbak Noni yang akhirnya memilih untuk menjadi ibu yang selalu ceria dan belajar dari ketidaksempurnaan hidup, sepakat?

Jadi, akhirnya saya memutuskan untuk mengubah mindset saya. Saya belajar berdamai dengan ketidaksempurnaan saya. Golnya sekarang adalah MENJADI PRIBADI YANG BAHAGIA SUPAYA BISA MEMBUAT ORANG-ORANG YANG SAYA SAYANGI BAHAGIA. Bu, jadi bahagia itu ternyata nggak mudah ya, tapi lebih sulit lagi menjadi sempurna.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menikmati proses perkuliahan S2 saya. Belajar bersyukur dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang lain. Bersyukur karena cita-cita saya melanjutkan studi akhirnya kesampaian. Menikmati saat-saat begadang mengerjakan tugas, menyiapkan presentasi, belajar untuk ujian, menempuh perjalanan ke kampus sampai hahahihi dengan teman-teman. Saya malah harus banyak-banyak bersyukur karena nggak semua orang bisa berkesempatan untuk melanjutkan studi seperti saya.

Nggak kerja? Bukan berarti nggak punya penghasilan. Justru saya bisa mencoba hal yang selama ini saya jauhi: BERDAGANG. Wiiih, ternyata jualan itu asyik banget! Saya bisa bantu ibu-ibu yang ASInya seret, saya bisa bantu nyediain perlengkapan bayi baru lahir, saya bisa ngasih pilihan hijab bayi unyu-unyu atau legging bayi. Lalu, saya juga bisa jadi book advisor yang sejalan banget dengan kecintaan saya dengan buku. Dengan jualan, saya nggak hanya dapat penghasilan, tapi lebih dari itu, saya dapat banyak teman, pengalaman dan networking  yang kece banget. Dunia mompreneur ini memang asyik banget!

Akhirnya, saya mencoba menerima menu makanan Ahza yang sama dengan kami. Lihat sisi baiknya! Ahza jadi terbiasa makan apapun. Makan oncom mau, ikan peda mau, singkong rebus mau, kangkung saus tiram mau, apapun mau. Nggak selalu harus bikin menu khusus untuk anak juga toh?

Akhirnya, saya mencoba berdamai dengan UHT dan Youtube. Urusan UHT, seringnya Ahza yang mengalah. Saya tetap memberi batasan kapan saja Ahza boleh minum susu. Di luar waktu itu, saya mempersilahkan Ahza menangis meraung-raung karena kesal tidak diberi susu. Wkwk.. *Iya, saya memang si ibu tega*

Untuk Youtube, saya membuat aturan 'lihat dari jauh' dan '5 menit lagi'. Ahza boleh nonton asal jangan dekat-dekat. Minimal 30 cm dari layar handphone, itupun layar Youtube-nya nggak saya full-in, jadi cuma seiprit. Bahahhahaha... *bener kan ibu tega* Dan saya melatih Ahza untuk tau relativitas waktu dengan mengajarkan '5 menit lagi'. Kalau saya bilang, "Ahza, nontonnya 5 menit lagi ya..", biasanya Ahza paham kalau waktu nontonnya sudah mau habis. Biasanya, sebelum habis 5 menit, ia langsung bilang, "Udah, Bu, nontonnya. Yuk main ke kamar.." atau ngajak baca buku. Tapi ya ada juga sih masa-masa 5 menitnya diperpanjang teroooss.. Ish.. Sebel deh ibu..

Masalah HS? Alhamdulillah, minggu-minggu ini saya banyak mendapatkan pencerahan tentang HS ini. Ternyata HS untuk usia dini nggak seribet yang dibayangkan, apalagi saya beruntung! Ahza sudah terlihat minatnya. Dia sukaaa banget sama binatang dan alam. Jadi, dengan ngandelin dua hal itu saya optimalkan di situ aja. 

Misalnya, kayak kemarin sore, waktu main di taman saya kenalkan Ahza pada bagian-bagian pohon: batang, akar, ranting, daun. Saya minta dia memegang bagian pohon yang saya sebut namanya. Sekali, dua kali, tiga kali, lalu Ahza lanjut bermain sepuasnya dengan Ebit si kelinci (memelihara binatang juga termasuk metode pembelajaran tentang binatang dan rasa tanggung jawab). Alhamdulillah, saat kita bermain di taman keesokan harinya, Ahza masih hapal nama bagian pohon yang kemarin saya ajarkan. Oh ya udah, anaknya udah ngerti. Kan, ternyata belajar itu menyenangkan dan sederhana kalau si anak udah ketauan kesukaannya mah. Lain halnya kalau saya ngajarin warna ke Ahza. Duile... Susyahnya minta ampun. Wkwkwkwk..

Beuh, puas deh saya curhat di postingan ini. Hihihi.. :D

Intinya jadi apa, Bu?

Intinya, saya sedang belajar berdamai dengan ketidaksempurnaan saya.
Saya sedang belajar selalu bersyukur dengan apa yang saya punya.
Dan belajar untuk melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang lebih simple dan positif.

Jadi sempurna itu nggak mungkin, yang penting adalah jadi versi terbaik dari diri kita
*itu!*

Sekian curhat saya.
Jangan diambil hati ya..

Salam super,
-Si Ibu Jerapah-

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak