August 25, 2016

Terima Kasih, Ahza..


Dear Ahza,

Masih lekat di ingatan ibu, saat hari pertama ibu kembali ke kampus.

Saat itu usiamu sudah genap 6 bulan. Ibu sebenarnya tidak tega meninggalkanmu, tapi Enin dan Engking memaksa ibu untuk kuliah lagi, untuk masa depanmu, alasan mereka. Dan waktu itu, ibu baru saja berpisah dengan ayahmu, tak ada pilihan lain selain menuruti perintah mereka berdua, kembali ke kampus.

Pagi itu adalah pagi pertama ibu meninggalkanmu. Di kehidupanmu yang baru saja dimulai 6 bulan terakhir, tak pernah sedikit pun ibu meninggalkanmu. Kalau kamu ingat, kamu itu bayi yang kata orang 'nempel' sekali dengan ibu. Kemana-mana tak pernah lepas dari ASI. Dan hampir 15 menit sekali pasti kamu meminta ASI. Tapi, justru itulah yang membuat ibu khawatir.

Di 6 bulan pertama kehidupanmu, ibu berjuang mati-matian untuk memberimu ASI. Hanya ASI. Ibu tidak peduli saat tak ada satu pun orang di rumah yang mendukung keputusan ibu untuk hanya memberi ASI padamu. Ibu menutup telinga rapat-rapat saat semua orang menyuruh ibu memberikan susu formula padamu, katanya supaya kamu lebih 'berisi' dan pintar. Memangnya, mau segemuk apa dan harus sepintar apa? Ah, ibu tak peduli apa kata orang.

Saat ASI ibu seret saat ibu sedang mengalami beban psikis dan psikologi yang berat akibat perpisahan yang harus ibu hadapi, ibu hanya bisa menutup telinga ibu lebih rapat lagi saat Enin dan Engki memaksa ibu memberikan susu formula padamu. Usiamu baru 3 bulan dan saat itu kamu sering menangis kesal karena ASI yang tidak sederas biasanya. Maafkan ibu, ya, Nak..

Tapi, ibu tidak berdiam diri. Masih ingatkah kamu akan buku-buku yang ibu lahap untuk mencari solusi agar ASI ibu kembali deras? Atau masih ingatkah dengan dr. Stella? Tante dokter cantik nan baik hati yang akhirnya ibu temui untuk dimintai pertolongan. Ya, dr. Stella adalah seorang konselor laktasi, orang yang bisa dijadikan tempat 'mengadu' dan dimintai saran ketika ibu menyusui, seperti ibu, menghadapi masalah dengan ASI atau proses menyusui.

Dengan telaten dr. Stella memeriksa cara pelekatan mulutmu saat menyusu payudara ibu. Tidak ada masalah, katanya. Yang bisa ibu lakukan untuk mengembalikan produksi ASI adalah dengan power pumping, yaitu suatu metode untuk meningkatkan produksi ASI dengan cara memerah ASI secara bergantian kiri dan kanan sebanyak beberapa kali dalam jangka waktu tertentu. Namun, kata dr. Stella, yang jauh lebih penting dari itu adalah ibu bisa menciptakan pikiran dan hati yang bahagia, karena itulah bahan bakar sebenarnya dari ASI. Maka, ibu pun mencoba bahagia walau sebenarnya hati ini remuk redam. Kalau bukan karenamu, pasti ibu tidak bisa setegar saat itu.

Dua minggu sebelum mulai perkuliahan, ibu mulai rajin memerah ASI untuk simpanan makanmu saat ibu kuliah. Namun apa daya, ASI ibu hanya sedikit yang bisa diperah. Dalam sehari, mungkin hanya 20-30 ml saja. Jumlah yang sedikit, namun ibu tetap konsisten memerah. Ibu agak tenang karena kamu sudah memulai fase MPASImu, sehingga kata dr. Stella, saat ibu kuliah, kebutuhan ASImu bisa diganti dengan ait putih atau jus buah-buahan. Fyuh, syukurlah.

Ah, kembali lagi ke hari pertama ibu kembali ke kampus, berdekatan dengan Pekan ASI Dunia tahun 2014. Saat itu perkuliahan baru dimulai selama 2 jam. Mata kuliah Manajemen Operasi baru saja usai dan bapak profesor baru saja meninggalkan ruangan. Telepon ibu berdering, di layar tertulis nama Enin. Pikir ibu, pasti Enin mau memberi kabar tentangmu yang baru saja mandi atau makan pagi. Tapi, betapa terkejutnya ibu, yang ibu dengar saat ibu angkat teleponnya adalah suara isak tangin Enin-mu.

Dunia ibu seakan berhenti. Tiba-tiba semua hal buruk mampir di kepala ibu. Apa ada hal yang buruk yang menimpamu? "Ma, kenapa? Kenapa nangis? Ahza nggak apa-apa kan?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut ibu.

"Cie, pulang ya, Mama nggak sanggup, Ahza nangis terus dari tadi. Dikasih makan dan minum juga nggak mau. Mama nggak tau harus gimana lagi," jawab Enin sambil terus terisak. Aduh, bagaimana ini, mengapa kamu tidak mau makan dan minum, Nak? Kamu mau ASI ibu ya, Nak? Maafkan ibu ya, Nak.

Ibu pun langsung membereskan buku-buku dan alat tulis dan pamit pada ibu ketua prodi, Bu Tasya. Awalnya ibu pikir ia tidak akan mengizinkan ibu pulang. Tapi ah, walaupun dilarang, ibu akan tetap pulang. Yang terpenting adalah ibu sudah memberi kabar padanya agar tidak dianggap absen tanpa alasan.

Ternyata, Bu Tasya sangat mengerti alasan ibu. "Wah, hari pertama ditinggal, ya? Pasti penuh banget, ya? (Sambil melirik payudara ibu dengan muka prihatin). Ya sudah, cepat kamu pulang, nanti kita berjumpa minggu depan ya." kata Bu Tasya mengizinkan ibu untuk pulang.

Alhamdulillah, ternyata lingkungan kampus sangat support dan mengerti akan keadaan ibu. Dan keringanan ini pun terus berlanjut saat ibu selalu izin untuk tidak mengikuti acara kampus di luar jam kuliah atau saat ibu harus absen mengikuti acara studi banding ke Thailand. Kampus memberikan keringanan karena ibu harus menyusui kamu, Nak, alhamdulillah.

Setelah itu, ibu langsung berjalan cepat keluar kampus dan menyetop taksi pertama yang lewat. "Ke Metro, Pak. Ngebut ya, Pak." kata ibu pada Pak Supir.

Ternyata tak perlu mengebut untuk sampai ke rumah dengan cepat. Sepertinya alam semesta ini berkonspirasi supaya ibu bisa cepat sampai ke rumah menyusuimu. Jalanan Bandung hari itu cukup lengang, padahal hari Sabtu adalah saatnya para 'tamu' dari luar kota biasanya memenuhi kota kita ini.

Sampainya di rumah, ternyata kamu sudah tertidur, Nak. Kata Enin, kamu tertidur karena capek menangis. ASI perah yang sudah ibu siapkan tak mau kamu minum. Pun makanan dan jus buah. Tak mau. Kamu hanya mau ASI.

Saat ibu memandangimu yang sedang tertidur, ibu baru sadar kalau ada baju ibu basah. Payudara ibu penuh dan ASI sudah meremberes keluar. Ini pertama kali terjadi pada ibu karena sebelumnya payudara ibu selalu lembek akibat selalu disusui olehmu.

Sontak ibu langsung memerah ASI ke dalam botol. Tak masalah jika kamu tidak mau meminum ASI perah ini, yang pasti, ibu harus segera mengosongkan payudara yang keras dan penuh ini supaya produksi ASI ibu tidak terhambat. Konon, payudara yang sering dibiarkan penuh lama-lama akan mengurangi kapasitas produksinya dan ibu tidak ingin hal itu terjadi pada ibu.

Lalu, bagaimana bisa akhirnya kamu bisa ditinggal ibu seharian setiap hari Sabtu dan Minggu selama 2 tahun terakhir? Pasti kamu penasaran, mengapa kamu masih bisa menjadi Profesor ASI padahal hari pertama ditinggal ibu adalah hari terberat di hidup kita berdua.

Semua itu karena kamu, Nak. Ya, karena kamu. Setelah ibu ajak bicara setiap hari, tentang ibu yang harus kuliah, tentang alasan ibu kembali ke kampus, tetang apa yang bisa kamu konsumsi saat ibu tidak ada di dekatmu, kondisi berangsur-angsur membaik.

Kamu adalah anak sangat kooperatif. Kamu mau makan bubur yang sudah disiapkan sejak semalam untukmu. Kamu mau minum air putih dan aneka jus yang ditawarkan padamu. Dan yang mengejutkan, kamu menolak dan memukul botol susu formula yang diam-diam Enin dan Engki sodorkan padamu (mereka berdua baru memberitahu hal ini setelah kamu berusia setahun, ah, dasar ya.. Hihi).

Terima kasih ya, Nak.. Sudah bisa membantu ibu jadi anak yang baik saat ibu kuliah dan sudah setia menunggu ASI setiap ibu tak ada di rumah.

Kamu lah satu-satunya alasan ibu tetap memerah ASI selama beberapa kali di kampus, walaupun ibu tau kamu tidak akan mau meminum ASI perah ini. Kamu alasan ibu tidak mengonsumsi kopi saat ibu harus begadang semalaman mengerjakan tugas kuliah, walaupun mata ibu sudah berat seperti ada beban 1 ton yang menggelayut di mata ini. Hal ini ibu lakukan karena kamu sangat sensitif dengan kopi. Ya, ada beberapa bayi sepertimu yang akan rewel dan ikut terjaga saat meminum ASI yang mengandung kopi.

Terima kasih ya, Nak. Karena pengorbananmu, ibu sekarang bisa mencapai pendidikan yang lebih tinggi untuk bekal masa depan kita.

Oia, Nak, kata Enin, baju batikmu sudah beres dijahit oleh Mas Tukang Jahit langganan. Nanti, pakai ya bajunya saat ibu wisuda.

Iya, dua hari lagi ibu akan diwisuda bersama beberapa teman ibu. Awalnya ibu tidak mau, tapi Enin-mu memaksa. Katanya, ibu harus diwisuda, untuk merayakan keberhasilan kuliah sambil mengasuh dan menyusuimu. Masa mau lulus biasa saja? Ah, Enin ada-ada saja. Mengasuh dan menyusuimu kan memang sudah kewajiban ibu, iya kan?

Ahza sayang,
Terima kasih ya sudah hadir di hidup ibu.
Semoga ASI yang ibu berikan selama 2 tahun terakhir ini jadi bekal kebaikan untuk masa depanmu kelak.

Peluk, cium,
Ibu

Bandung, 27 Agustus 2017

34 comments :

  1. Perjuangan banget buat kasih asi ke bayi ya, mba. Semoga ahza tumbuh jadi anak cerdas dan shalih kebanggaan ibu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba.. Tapi insya Allah bahagia bisa ngasih ASI :)
      Ayok mba ila.. Semoga nanti bisa lancar ngasih ASI yaa..
      Ea ea..

      Delete
  2. Kalau dipikirkan kadang memang terasa berat, tapi kalau dijalani Alhamdulillah bisa ya. Hebat Ahza dan Ibunya! Selamat untuk Ahza dan Dessy!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya teh.. Kalau nggak dicoba da nggak akan tau yaa :)
      Hatur nuhun teteh sayang :)

      Delete
  3. Salam kenal dari Fathir ya Ahza!

    Salam kenal dari Ummu Fathir juga buat Ibunya Ahza, :)
    Baca tulisan mbak jadi inget pengalaman saya pribadi, ada kesamaan antara kita, sesama Single Fighter. Hanya saja saya tak mampu selesaikan tugas awal saya sebagai ibu, memberi ASI pun tak sanggup.

    Salut untuk mbak, semangat terus!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal Ummu Fathir..
      Tetap semangat mba sayang.. Setiap ibu pasti tau yg terbaik untuk anak-anaknya. Dan saya yakin mba juga pasti akan selalu memberi yg terbaik untuk Fathir.

      Peluk cium dari Bandung :)

      Delete
  4. Replies
    1. Cie nay bentar lagi nikah.. Punya anak.. Terus punya cerita menyusui juga deh. Ihihi :)

      Delete
  5. Selamat Ahza atas wisuda ASInya.. selamat DC wisuda magisternya..

    Ibu anak hebaat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah.. Hatur nuhun Uni sayang :*

      Delete
  6. Terharuuu bacanyaa..dessi sayang tetap semangad yaa..tegar..dan selalu jd ibu yang membanggakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Tika sayang.. Makasih yaa semangatnya.. Bakal selalu inget sama nasehat & kebaikan mba tika pas di asrama dulu :*
      Hatur nuhun :)

      Delete
  7. Wow..hebat euy perjuangannya mba..selamat atas keberhasilannya ya..keep strong! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahzanya hebat ya mba :)
      Insya Allah.. Semangaaat :*

      Delete
  8. Teh dessy...saya cirambay bacanya...teteh ibu yang luar biasa, sangat mengispirasi, tetap menjadi ibu yang membanggakan dan selalu tegar dalam setiap keadaan ya teh. Peluk dari jauh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hola teh novi.. makasih yaa sudah berkunjung ke rumah saya :)
      aamiin, belum seperti yang teteh tulis, tapi saya aamiinkan yaaa.. :)
      hatur nuhun teteh..
      peyuk peyuuk

      Delete
  9. Selamat teh dc perayaan yg luarbiasa,terharu saya membacanya 😭😭
    Ceritanya hampir sama persis dgn saya dan anak kedua saya, sama2 sedang mengalami perpisahan, sama2 berjuang dalam mengASI anak,disaat berjuang sendiri dan harus bekerja sampai larut.semangat itu kekuatan untuk memberikan yang terbaik untuk buah hati.
    Peluk jauh....😙

    ReplyDelete
    Replies
    1. hola mba hasna, salam kenal..
      duuuh ketemu ibu hebat di sini :)
      insya Allah, semoga kita selalu bisa ngasih yang terbaik untuk anak2 ya mba :) aamiin
      peluuuk

      Delete
  10. Teh dessy...saya cirambay bacanya...teteh ibu yang luar biasa, sangat mengispirasi, tetap menjadi ibu yang membanggakan dan selalu tegar dalam setiap keadaan ya teh. Peluk dari jauh...

    ReplyDelete
  11. Duuh...nggak terasa pelupuk mataku tergenang waktu baca ini. Ahza, jadilah anak yang kuat dan selalu sehat ya, nak. Ibumu hebat, insyaAllah kamu juga akan jauh lebih hebat.
    Dessy, you're fab Mom !

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin.. makasih doanya ya mba..
      saya mah nggak hebat mba.. duh, masih jauh dari itu. hiks..
      peluk mba ika :)

      Delete
  12. Aku sedih baca ini mba T_T... selamat juga ya mba cumelaude, hebaaaaaat...

    ReplyDelete
  13. hebat banget Mba Dessy *jempol*
    selalu salut dan angkat jempol buat ibu-ibu yang berhasil memberikan ASIX pada bayinya :)

    ReplyDelete
  14. Mba Deciiiii...huhuhu, nangis malem2 baca iniii...barakallah mba, barakallah Ahza, sampai di pencapaian luar biasa ini :*

    ReplyDelete
  15. Masya Allah, aku campur aduk loh rasanya baca ini. Antara takjub terharu ... Super Mbak!

    Aku sendiri baru kuliah S1 meski udah nikah. Apakah aku bakal sekuat Mbak Dessy kalau Allah berkehendak ngasih aku momongan? Wallahu a'lam :'D

    www.hildaikka.com

    ReplyDelete
  16. Ya ampun kampusnya support bgt ya.. ahza... lucky you pny ibu sebaik mba dessy..

    ReplyDelete
  17. Aih...selamat ya mbak...
    peluksss mbak dan Ahza :)
    Ahza..ibu sayang banget nih sama Ahza..kemudian ingat momen di Trans Luxury tempo hari. Momen rangkul dan nangis bareng :")

    ReplyDelete
  18. Aduh Ahza sayang. Kamu pasti bangga punya mama yang telaten, Kelak kalau kamu sudah besar, mampirlah ke postingan ini. Kamu akan tahu betapa Mama Deasy menyayangimu lebih dari apapun. Proud of you mba.

    ReplyDelete
  19. Subhanallah, mbak... Semoga perjuangan memberikan ASI untuk azka, cinta dan kasih sayangnya mengantarkan Ahza menjadi anak yang sholeh, tangguh dan hebat. Ahza pasti bangga dengan ibunya saat ia baca tulisan ini nanti.

    Barakallah,mbak... :)

    ReplyDelete
  20. Selamat ya mba..dah jadi pemenang

    ReplyDelete
  21. MasyaAllah, terharu bacanya Mbak..
    Selamat utk wisudanya, selamat juga jadi pemenang GA.

    Btw, caption fotonya 20017 ya Mbak? :D

    ReplyDelete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...