August 24, 2016

Belajar Menjadi Gurunya Manusia bersama Munif Chatib


Assalamu'alaikum..
Holahalo..

"Alkisah, penghuni hutan sedang membangun sebuah sekolah. Sekolah hutan. 
Layaknya sekolah manusia, hal pertama yang dilakukan adalah membangun sekolah.
Tak perlu kompleks seperti sekolah manusia, cukup menata pepohonan, membersihkan sungai dan menyiapkan area luas untuk belajar.
Langkah selanjutnya adalah membuat kurikulum.
Sekolah dilengkapi kurikulum yang bisa mendukung kemampuan siswa untuk bisa bertahan hidup di hutan. Kurikulumnya sederhana: terbang, berlari, memanjat, berenang dan menggali tanah. 
Sekolah pun dibuka. 
Hewan pertama yang datang adalah kelinci.
"Aku sangat mahir berlari." kata kelinci.
Pemilik sekolah tidak percaya, mereka pun meminta kelinci untuk membuktikannya.
Berlarilah kelinci.
Ternyata benar! Kelinci dapat berlari dengan kencang.
Kemudian, kelinci diterima menjadi siswa di sekolah hutan. 
Kelinci pun diberi pelajaran berenang.
Namun, apa yang terjadi?
Ia tidak lulus saat ujian walaupun sudah rajin berlatih.
Naasnya lagi, setelah berkali-kali mengikuti ujian remedialpun tetap tidak lulus. 
Kelinci menangis.
Tangisannya sangat memilukan.
Apa yang dikatakan kelinci membuat bulu kuduk berdiri, 
"Aku sedih..
Aku sedih bukan karena aku tidak lulus ujian berenang..
Bukan pula karena aku tidak lulus remedial-remedial itu. Bukan..
Aku sedih karena bakat berlariku pelan-pelan menghilang..
Aku sedih karena aku tidak bisa lagi berlari.." 
Dan tragisnya, hal tersebut tidak hanya dialami kelinci, hewan-hewan lainpun mengalami nasib serupa.
Elang yang frustasi karena dipaksa menggali tanah.
Bebek yang stres karena dipaksa berlari.
Tak ketinggalan musang yang sakit karena dipaksa terbang dari ketinggian. 
"Aku yang mahir berenang, bukan si kelinci.
Lalu untuk apa aku yang hidup di air harus belajar berlari?" tanya bebek dalam kepedihan.
Akhirnya mereka menangis tersedu-sedu.
Tangisan yang menyayat hati. 
Lalu, siapa yang salah?
Apakah para hewan yang salah?
Apakah mereka berdosa karena tidak bisa melakukan apa yang memang mereka tidak butuhkan di kehidupan sehari-hari?
Apakah mereka yang bodoh karena terlalu bodoh untuk melakukan hal-hal lain di luar bakat mereka? 
Atau, siapa yang salah?"


Anekdot di atas disampaikan oleh Bapak Munif Chatib saat membuka sesi terakhir di acara Pengampuan Perkuliahan Semester Ganjil 2016/2017 di Telkom University, 18 Agustus 2016 yang lalu. Dalam talkshow yang berjudul "Menjadi Dosen Profesional dan Kreatif" ini, Pak Munif berhasil menyampaikan pembukaan yang amat menohok untuk para dosen dan untuk saya sebagai seorang ibu.



"Jadi, siapa yang salah? Para hewan? Atau kurikulumnya kah yang salah?"
Pagi itu semua peserta serempak menjawab bahwa sekolah lah penyebab ketidaknyamanan dan kesedihan para hewan. Sekolah hutan lah yang menyebabkan para hewan merasa bahwa bakat mereka perlahan-lahan dihilangkan karena mereka harus melakukan sesuatu di luar kemampuan mereka.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan sekolah tempat anak-anak kita dididik? Apakah sudah menjadi sekolahnya manusia atau seperti cerita sekolah hutan di atas, justru mematikan bakat yang dimiliki sang anak? 

Pada hakikatnya, sekolah seharusnya bisa mengungkapkan bakat anak untuk bisa menjadi manusia-manusia produktif dan bermanfaat di kemudian hari. Yang kini terjadi adalah lulusan lembaga pendidikan di Indonesia menjadi orang-orang yang bingung dan gagal.


Nggak usah jauh-jauh. Contohnya saya. Sejak SD sampai SMP saya selalu mendapatkan peringkat lumayan baik di sekolah. Kemudian, karena keinginan Mama, saya melanjutkan sekolah ke SMA unggulan di kota saya. Hasilnya, rangking saya jeblok. Sekarang saya baru sadar, mungkin seharusnya ketika SMA saya masuk ke kelas IPS. Hehe.. Tapi nilai saya yang jelek lumayan tertolong karena 'masih' punya prestasi di bidang seni. Lumayan lah daripada enggak. Haghag..

Lulus SMA, saya menjadi remaja yang bingung. Bingung mau melanjutkan ke mana. Yang saya tau waktu itu, saya harus keluar dari Bandung, harus keluar dari rumah supaya keluar dari 'lingkaran setan' bernama KDRT dan teman-temannya. Akhirnya saya nekat melamar ke UI dan IPB. Itupun, untuk UI, saya benar-benar ngasal saat memilih jurusan. Ah, asal gampang dapet kerja, pikir saya waktu itu. Saya pun memilih Psikologi dan Teknik Industri (dan alhamdulillah saya bersyukur banget nggak keterima, karena kalau masuk ke sana kayaknya nggak tau masih waras atau nggak, hihi). Untuk pilihan IPB lebih absurd lagi. Kala itu IPB sedang uji coba program mayor-minor di mana mahasiswa baru bisa memilih jurusan di tingkat 2.

Qadarullah, masuklah saya ke IPB. Tahun pertama lancar, nilai saya pun lumayan bagus. Memasuki tahun kedua mulai bingung lagi. Mau pilih jurusan apa? Saat itu jurusan yang menempati rangking 1 adalah Agribisnis. Tanpa pikir panjang, saya pun memilih Agribisnis. Toh nilai saya lumayan lah, pikir saya. Ditambah lagi, kakak saya pun lulusan Agribisnis Unpad dan alhamdulillah bisa dapat pekerjaan yang sangat baik. Dan alhamdulillah, saya diterima di Agribisnis.

Tahun kedua sampai keempat, saya baru menyadari kalau saya suka mengolah data. Saya suka dengan angka-angka yang kata orang ngejelimet. Tapi, saya nggak suka mata kuliah Akuntansi dan Keuangan, padahal dua-duanya penuh angka, ya? Hihi.. Karena itu, saya memutuskan untuk memilih Supporting Course Statistika Ekonomi untuk mengobati rasa haus saya akan soal-soal hitungan. Eaa! Haghag..

Dan, tau nggak? Katanya kan gini ya, "Yang kamu sukai belum tentu baik untukmu dan yang kamu benci belum tentu buruk untukmu". Saya lupa surat Al Qur'an yang mana dan ayat berapa, tapi kira-kira begitulah intinya. Saya nggak suka keuangan, tapi hidup saya sampai hari ini selalu berkutat dengan keuangan. Selama dua tahun saya bekerja di bank syariah menjadi staf keuangan, skripsi sampai tesis saya pun tentang keuangan. Lalu, rencana penelitian doktoral saya juga keuangan. Saya nggak suka-suka amat, tapi kenapa jodohnya sama keuangan, nggak ngerti juga gimana.

Dan setelah berbelas tahun saya sekolah, saya baru menemukan passion saya setelah 1 tahun aktif ngeblog. Ya, ternyata passion saya ternyata menulis (selain membaca dan belajar). Jadi, semua ini tentang keuangan dan menulis. Apa coba, kan, nyambung-nyambungnya?

Lalu, apa yang salah? Mengapa saya jadi orang yang bingung? Setelah presentasi Pak Munif, saya menyimpulkan bahwa sekolah tempat saya belajar belum bisa untuk mengungkapkan bakat saya, seperti yang Pak Munif katakan di awal. Kemudian, bagaimana cara membangun sekolahnya manusia? Kampusnya manusia? Bagaimana menjadi gurunya manusia?

Menjadi Gurunya Manusia



Sebelum menjadi gurunya manusia, ada dua hal yang harus diluruskan terlebih dahulu: paradigma dan komitmen kita sebagai pengajar. Paradigma adalah cara kita memandang hidup dan manusia. Paradigma sebagai pengajar adalah bagaimana cara kita memandang arti belajar. Belajar yang seperti apa yang kita maksudkan?

Lalu, pengajar juga harus meluruskan komitmen. Pengajar harus berkomitmen untuk menjadi fasilitator bagi siswa dan menempatkan siswa sebagai subjek, bukan lagi objek. Selain itu, pengajar juga harus memiliki komitmen untuk selalu belajar, belajar dan belajar. Jangan mentang-mentang sudah jadi guru atau dosen, ya sudah, nggak mau membuka mata dengan hal-hal baru, terutama di bidang pengetahuan.

Sebenarnya ada satu faktor lagi yang harus dimiliki pengajar, yaitu kompetensi. Tapi, menurut Pak Munif, kompetensi ini bukan masalah yang besar, karena ilmu itu bisa dipelajari. Setiap orang terlahir menjadi juara, terlahir cerdas, maka masalah mempelajari hal baru bukan lah hal yang sulit, tergantung paradigma dan komitmennya.

Setiap Anak adalah Masterpiece Sang Kuasa



Bicara tentang terlahir menjadi juara, sebenarnya setiap anak adalah masterpiece Allah SWT. Tidak ada ciptaan Allah yang gagal. Semua anak memiliki keistimewaan dan kecerdasan masing-masing. Sebagai inspirasi, Pak Munif menampilkan video tentang Lena Maria. Pasti pernah, kan, menonton video atau membaca cerita tentang Lena Maria?

Lena terlahir tanpa tangan. Salah satu kakinya sempurna dan satunya lagi hanya tumbuh sampai pangkal paha. Kini, ia adalah penyanyi yang terkenal di Swedia dan pernah menjuarai Paralympic (olimpiade untuk penyandang disabilitas) pada cabang renang.

Nggak hanya itu, di video juga terlihat ia sangat mahir melukis dengan kakinya, memainkan piano dan.. menyetir! Air mata saya pun tumpah. Saya yang terlahir dengan fisik sempurna, kok ya leyeh-leyeh terus hidupnya. Bisa apa sih saya? Pernah punya prestasi apa, sih? Malu.. Malu banget sama Lena. Malu banget sama Allah.. :(

Meninjau Ulang Makna Kesuksesan



Yang kemudian perlu diperhatikan oleh pengajar (guru dan orangtua) adalah makna kesuksesan. Masyarakat kita sudah kadung menilai apapun dengan angka. Saya jadi teringat dengan apa yang tertulis di buku The Little Prince. Intinya begini, 
Orang dewasa itu selalu menilai segalanya dengan angka. Mereka tidak akan peduli jika kita berkata, "Tadi siang aku melewati rumah yang sangat besar!". Coba katakan ini pada orang dewasa, "Tadi siang aku melewati rumah seharga 1 milyar!". Dijamin mereka akan berhenti dari kegiatannya dan memperhatikan apa yang kamu katakan.
Yap, itu adalah salah satu anekdot dari The Little Prince yang saya rasa nyambung dengan masalah makna kesuksesan ini. Jadi, mari kita tinjau ulang makna kesuksesan ini.

Hal utama yang harus selalu diingat pengajar adalah : kemampuan peserta didik seluas samudera. 

Dari hal ini, barulah kita berangkat ke jenis-jenis kemampuan. Setidaknya ada 3 jenis kemampuan yang dimiliki oleh anak:

Kemampuan kognitif

Kemampuan ini dinilai dari sejauh mana anak mengetahui sesuatu atau ilmu apa yang dimiliki anak. Kemampuan kognitif sangat penting untuk dimiliki anak, namun seringkali pengajar salah kaprah dalam menilai kemampuan kognitif anak. Yang lumrah terjadi adalah anak dianggap sukses berdasarkan nilai dan kecenderungan pemberian kasta pada mata pelajaran. Maksudnya begini, anak yang mendapatkan nilai 10 pada pelajaran Agama belum dianggap pintar, pun anak yang mendapatkan nilai 10 pada pelajaran Seni. Semua itu percuma jika nilai IPA, IPS atau Matematika masih di bawah 8.

Lalu, bagaimana cara menilai kemampuan kognitif anak? Sebenarnya dan yang paling penting adalah bagaimana kemampuan anak untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana kreativitas anak mengambil buku dari rak yang tinggi tampaknya lebih penting dibandingkan dengan pengetahuan anak akan berapa banyak jumlah kuda yang ikut berperang saat Perang Diponegoro berlangsung (misalnya ya, ini mah asli nggak penting banget, hehe). Yah, kira-kira seperti itu.

Kemampuan Motorik

Kemampuan ini dinilai dari keterampilan yang dimiliki anak. Ini yang kadang diacuhkan oleh pengajar, terutama orangtua. Anak nggak suka matematika dikatai bodoh, padahal hasil coretan tangannya mendekati gambar pelukis ternama (misalkan). Atau, bagaimana si anak yang lemah dalam pelajaran menulis tapi punya keberanian untuk tampil di atas Panggung 17 Agustus.

Kemampuan ini dianggap tidak bisa memberikan masa depan yang cerah. Padahal, coba tengok, siapa yang tidak kenal Tex Saverio? Desainer muda Indonesia yang mengglobal. Puncaknya, karya Tex dipakai Jennifer Lawrence a.k.a Katnis Everdeen di sekuel film The Hunger Games: Catching Fire. Kurang cerah apa coba masa depannya?

Sumber: website resmi film Catching Fire

Kemampuan Afektif

Kemampuan ini adalah tentang sejauh mana anak dapat menunjukkan kemampuannya dalam bersikap, seperti mengelola emosi. Kadang, para pengajar menganggap anak yang baik dan sholeh itu hanya sebagai 'bonus' di samping nilai yang tinggi. Padahal, hal ini adalah salah satu kemampuan anak yang dapat dijadikan potensi terbaik dalam dirinya.


Selain tiga kemampuan di atas, dikenal juga Multiple Intelligence-nya Gardner yang telah mematahkan teori kecerdasan anak. Menurut Gaarder, terdapat berbagai jenis kecerdasan anak, mulai dari kecerdasan visual, audio, kinestetik, musikal, dan lain-lain. Totalnya ada tujuh dan masing-masing anak bisa memiliki beberapa kecerdasan yang berbeda. Yang pasti, tiap anak itu unik jadi harus unik juga cara perlakuannya.

Jadi, menurut Pak Munif, PR besar untuk para pengajar adalah bagaimana menciptakan definisi baru tentang kecerdasan. Gol para pengajar di abad ke-21 ini adalah untuk menghasilkan lulusan yang punya karakteristik CREATIVE dan PROBLEM SOLVING. Bukan berarti nilai nggak penting ya, tapi ada yang jauh lebih penting dan bermanfaat daripada nilai.

"Make your classroom as dynamic as the world around us." - ini abad ke-21, bung!

Bakat, Minat dan Sekolah




Jadi, apa sih perbedaan dari bakat dan minat? Apa pentingnya? Dan apa hubungannya dengan sekolah?

Dilihat dari sumbernya, bakat itu bersumber dari internal manusia dan minat datang dari lingkungan luar (eksternal). Urut-urutannya kayak gini:

Potensi --> Hobi --> Bakat --> Minat --> Profesi

Potensi

Potensi ini sudah ada di dalam diri kita sejak lahir. Semua manusia punya potensinya sendiri-sendiri. Ibaratnya, potensi ini sudah 'dikasih' Allah sepaket saat kita dilahirkan.

Hobi

Nah, ketika sudah bisa bermain, anak akan terlihat hobinya. Akan terlihat kegiatan apa yang paling dia sukai. Misalnya, hobi saya baca dan nulis (contohnya saya aja ya supaya ril wkwk).

Bakat

Dari hobi si anak, sebenarnya orangtua bisa melihat apa bakat yang dimiliki anak. Ingat, bakat itu datang dari dalam. Ia adalah representasi dari potensi anak yang merupakan bawaan dari lahir. Misalnya, saya kayaknya (kayaknya lho ya, kayaknyaaa..) punya bakat mempelajari hal yang baru dengan tempo relatif cepat dan bisa menuangkan uneg-uneg melalui tulisan (baca: curhat hihi).

Minat

Seperti yang telah dijelaskan di atas, minat ini datang dari lingkungan luar. Saya kutip lengkap dari Om Wiki yaa..
Minat adalah sumber motif yang mendorong seseorang untuk melakukan apa yang ingin dilakukan ketika bebas memilih. Ketika seseorang menilai bahwa sesuatu akan bermanfaat, maka akan menjadi berminat, kemudian hal tersebut akan mendatangkan kepuasan. Ketika kepuasan menurun, maka minatnya juga akan menurun.
Masih bingung? Saya juga. Wkwk.. Pokoknya gini menurut Pak Munif: kita ambil contoh saya ya. Sampai kuliah, saya sadar kalau saya belum tau bakat saya apa, terbukti dari jurusan yang diambil asal-asalan dan lain-lain. Lalu, karena saya melihat bahwa hal-hal yang berhubungan dengan keuangan itu menarik untuk dipelajari, diulik dan diteliti, maka saya memutuskan untuk mengambil penelitian di bidang keuangan. Lagipula, saya melihat bahwa kesempatan berkarir di bidang ini cukup bagus. Jadi, kesimpulannya, saya punya minat di bidang keuangan.

Profesi

Nah, ini yang menjadi luaran sebenarnya dari rangkaian Potensi --> Hobi --> Bakat --> Minat --> Profesi di atas.

Profesi adalah jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian atau kemampuan dari pelakunya. Profesi ini akan mempresentasikan apa yang menjadi bakat dan minat kita. Nah, sekarang bagaimana cara kita mengetahui apakah profesi yang kita jalani sekarang sudah sesuai dengan bakat dan minat yang kita miliki? Yuk sama-sama kita jawab tiga pertanyaan ini:
  1. Apakah kita sering merasa bosan melakukan pekerjaan kita?
  2. Apakah selama kita berkecimpung di profesi ini sudah ada karya yang kita hasilkan?
  3. Apakah kita bisa menghandle masalah yang kita hadapi pada profesi ini?
Kemarin, Pak Munif mencontohkan dengan profesi dosen. Pernah nggak sih Bapak/Ibu jenuh dengan rutinitas belajar mengajar? Berapa banyak publikasi atau penelitian yang pernah Bapak/Ibu lakukan selama menjadi dosen? Lalu, ketika ada permasalahan di kelas, apakah Bapak/Ibu bisa menyelesaikan dengan baik?

Hayo, lebih baik sadar sekarang sebelum terlambat banget.. :)

Yang enak dan asyik itu adalah ketika kita bisa memiliki profesi yang juga hobi kita, seperti yang dialami Mak Tanti Amelia. Dari hobi doodlingnya, kini ia bisa menghasilkan rupiah. Waaah.. Seru-seruan iya, menghasilkan iya.. Menyenangkan bukan? :)

Terakhir, apa hubungannya semua ini dengan sekolah?

Sekolah, diharapkan bisa menjadi tempat di mana para siswa bisa mengeksplorasi bakat yang ada di dalam dirinya dan menemukan minat akan sesuatu. Sekolah, jangan sampai malah perlahan mematikan bakat yang dimiliki anak, seperti yang terjadi pada cerita sekolah hutan pada awal tulisan ini.

Sedangkan kampus, sebagai tingkat akhir pendidikan, diharapkan bisa menjadi terminal terakhir siswa dalam menemukan bakat dan minatnya, sehingga saat lulus nanti ia akan menjadi manusia yang siap dan tau harus bagaimana, bukan menjadi manusia-manusia yang kebingungan harus apa. Bukan menjadi Sarjana Peternakan yang menjaga toko emas (contoh dari Pak Munif).

PR untuk Kita, Para Ibu



Sepanjang presentasi, saya benar-benar tertohok dengan semua perkataan Pak Munif. Kayaknya seumur hidup baru kali ini saya tau kalau bakat dan minat itu sebenarnya sangat penting untuk dieksplor sejak dini. Bahkan saya baru sadar, kalau saya telat banget tau bakat dan minat saya apa. Di umur mendekati kepala 3 ini saya baru sadar. Ya Allah..

Namun, bukan saatnya lagi saya menyalahkan sekolah, orangtua atau siapapun itu. Saatnya lah saya, sebagai seorang ibu, bisa menggali bakat dan minat Ahza sejak dini.

Saatnya kita, para ibu, membuka semua indera lebar-lebar. Cari tau apa yang menjadi kesukaan si anak, sesepele apapun itu.

Ahza suka sekali dengan binatang. Apapun itu, pasti tentang binatang, terutama kuda. Awalnya saya bingung, duh, masa binatang terus sih. Sampai akhirnya saya curhat dengan seorang teman penjual mainan edukasi. Reaksi si teman malah mendukung Ahza, "Lho, nggak apa-apa toh, Mak. Malah gampang kalau dia udah suka sama sesuatu. Kita tinggal ngarahin belajarnya dengan hal-hal yang dia suka. Nantinya, ketika dia belajar berhitung, ajari lewat binatang. Ketika belajar membaca, ajari dengan nama-nama binatang, dan seterusnya."

Mulanya saya nggak ngeh, tapi tetap saya lakukan saran si teman. Alhasil, mainan, buku, perabotan, apapun barang Ahza, semua berbau binatang, karena Ahza pasti memilih binatang. Kami pun memutuskan untuk memelihara aneka binatang sebagai 'laboratorium hidup'. Sampai akhirnya dia senang sekali meminta saya menggambar aneka binatang sesuai instruksinya.

Ketika ia meminta saya menggambar gerobak kuda, ia marah besar saat saya menggambar roda sebanyak dua pasang. Ngamuk, guling-guling. Marah pokoknya. Lalu saya menawarkan untuk gambar ulang, "Gambarnya ulangi aja ya, di kertas baru ya." Untungnya, anaknya mau.

Saya pun kembali menggambar gerobak, namun terhenti saat akan menggambar rodanya. "Nah, sekarang tinggal rodanya. Rodanya ada di mana?". "Di sini," kata Ahza sambil menunjuk bagian bawah gerobak. Saya pun menggambar roda sesuai instruksinya. "Terus di mana lagi?" tanya saya lagi. "Udah.." jawabnya sambil tersenyum lebar. Selanjutnya adalah ia mengagumi gambar saya, seperti pengagum Leonardo Da Vinci sedang mengagumi Monalisa. "Good, Bu!" kata Ahza. Hahahaha..

Esoknya, kami melihat delman di jalan. Dan ternyata memang benar! Gerobaknya punya roda satu pasang, bukan dua seperti yang saya gambar. Dari sini saya baru sadar, Ahza sudah paham makna jumlah. Ahza sedang belajar berhitung dengan caranya sendiri, dengan mengamati binatang.

Belum lagi, ia sudah hapal semua nama binatang yang ada di kebun binatang dan poster binatang di dinding, yang saya pun nggak tau namanya ketika saya masih kecil. Seriusan. Haha..

Saya belajar banyak dari Ahza, bahwa belajar yang menyenangkan itu saat kita sudah tau apa yang kita senangi. Belajar bisa semenyenangkan seperti bermain, seperti apa yang Ahza lakukan. 

PR saya sekarang adalah tetap membukan indera lebar-lebar untuk mencari tau apa bakat dan minatnya yang lain dan terus memberi stimulasi untuk bakat dan minat yang sudah terlihat. Siapa tau kan, Ahza bisa jadi dokter hewan hebat atau menteri lingkungan hidup gitu. Ahik!

Jadi, mari bersama-sama belajar menjadi GURUNYA MANUSIA :)

p.s.: biografi singkat tentang Pak Munif Chatib bisa dilihat di sini yaa :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

12 comments :

  1. jadi merenung... hehe... pengen ikut juga seminarnya pa munif ini :) Bermanfaat banget. saya bacanya sambil tarik nafas dan berpikir, sudah benarkah perlakuan saya pada anak2? Makasih sharing-nya ya mba...

    ReplyDelete
  2. Makasih sharingnya ya mba.
    Semoga aku bisa mengarahkan bakat dan minat anak2 sejak dini.

    ReplyDelete
  3. Makasih sharingnya ya mba.
    Semoga aku bisa mengarahkan bakat dan minat anak2 sejak dini.

    ReplyDelete
  4. Meninjau ulang makna kesuksesan, ini yang penting. Seringnya saya melihat dan mendapati bahwa sukses itu kalau punya mobil, bisa travelling, punya a b c d e f g, dsb. Padahal banyak loh Mba, anak / remaja jaman sekarang yang krisis identitasnya keterusan sampe dewasa. Itu sebenernya yang harusnya diwaspadai. Karena sukses itu kalau bisa mengenal diri sendiri, bukan malah ga kenal sama diri sendiri.

    Tulisannya membuat saya kembali merenung....terima kasih Mba

    ReplyDelete
  5. Cara belajar yg menyenangkan. Semoga Ahza makin pintar ya, mba. Saya dulu pilih sastra Inggris bisa nggak ketemuan sama Math. Eh sekarang nyari duit salah satunya dg ngajar Math untuk anak SD, haha... That's life

    ReplyDelete
  6. Hai mbak Dessy...ternyata kita sama2 ngajar di Telkom. Hehe...Tulisannya menarik, mengingatkan kita bahwa seringkali kita hanya ikut arus. Tidak sadar, passion kita sebenarnya apa? Mudah2an...Ahza bisa sejak awal mengikuti passionnya yaah...

    ReplyDelete
  7. ah aku jadi tertohok.. semoga nanti bakat dan minat anakku juga bisa terarah

    ReplyDelete
  8. Baru ngeh ternyata lanjut S3 ya jenk? Masya Allah... *maluk

    ReplyDelete
  9. Ahza keren! Kalau jav sukanya sama mobil...

    ReplyDelete
  10. duh tulisannya dalem banget mak, jadi guru manusia...


    :(


    sepertinya aku BELUM jadi guru anak-anakku

    ReplyDelete
  11. Wah panjang banget ceritanya, aku terpesona manggut2..
    Kalo aku suka menghitung apalagi ngitung duit (orang lain) hhahaha

    Yap bener banget dc belajar dari sekitar semiga kelak bisa menjadi gurunya manusia,dan gurunya anak2

    ReplyDelete
  12. seneng bgd pastinya ya mak dapet ilmu sekece ini,
    aku jg lg ngamatin bakal si ken nih, blm kelihatan sih, masih ganti2, ya mungkin krn masih bocah kali yak,
    semangat dna beusaha jd gurunya manusia
    :)

    ReplyDelete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...