June 25, 2016

Happy dan Baper karena Teknologi


Assalamualaikum
Holahalo

Yeay! Akhirnya bisa pegang laptop lagi. Senangnya..

Bulan Ramadhan ini intensitas ngeblog memang menurun karena aktivitas lain. Tapi lumayan lah, masih bisa blogwalking via handphone ke blog teman-teman aja udah senang :)

Ngomong-ngomong laptop dan handphone, bisa dibayangkan nggak sih hidup mereka tanpa kedua benda ini? Saya pernah ketinggalan handphone waktu menginap di rumah saudara di Jakarta selama satu minggu. Apa yang terjadi? Nano-nano rasanya, antara tenang karena nggak ada trang tring trang tring dan merasa ada yang hilang dari hidup. Kayaknya nggak lengkap aja kalau sebelum tidur nggak ngecek notifikasi di handphone. Hihihi..


Pesatnya teknologi nggak bisa dipungkiri memang memberikan dampak pada kehidupan kita sehari-hari. Contoh paling simplenya ya itu tadi. Hidup nggak lengkap kalau belum cek handphone. Padahal mah sebenernya nggak pernah ada yang nelponin juga sih. Hahaha.. :p

Tapi buat saya, berkat adanya teknologi, ibu-ibu di rumah bisa lebih happy karena bisa jauh lebih produktif dibandingkan ibu-ibu zaman dulu. Waktu kecil dulu, aktivitas oma saya selain masak dan beberes ya nggak ada lagi kecuali nonton tivi. Segala macem ditonton, mulai dari kuis Apa Ini Apa Itu sampai acara tinju. Wah, itu mah favoritnya almarhum banget.

Coba bandingkan dengan ibu-ibu hari ini. Setelah beres melakukan semua kewajibannya, ibu bisa menggunakan waktu luangnya untuk menghasilkan uang lewat bisnis online atau menyalurkan hobinya seperti menulis atau mendesain. Semua itu bisa dengan mudah dilakukan dengan adanya teknologi.


Bicara bisnis online, ibu-ibu zaman sekarang nggak usah keluar rumah untuk jualan. Cukup di dalam rumah, jagain anak-anak tidur tapi bisa menjual barang seantero Indonesia. Yup, ini kejadian sama saya dan saya sangat bersyukur sekali akan hal ini.

Saya masih ingat, beberapa tahun silam, masih ada lho ibu-ibu yang harus keliling dari rumah ke rumah dan dari kompleks ke komplek untuk menawarkan barang-barang yang ia jual, seperti hijab atau baju gamis. Duh, kebayang ya.. Udah mah capek, kasian juga anak-anak yang ditinggal di rumah. Makanya, saya sangat bersyukur dengan adanya teknologi yang bisa memungkinkan ibu produktif di rumah. Yeah!

Dan, saya sangat berterima kasih kepada siapapun yang menciptakan YouTube. Hihi.. Beberapa minggu yang lalu, saat saya terpaksa menyetir di tengah hujan badai, saya sangat terbantu banget oleh YouTube? Lho kok bisa?


Iya, jadi ceritanya, walaupun udah bisa nyetir, saya nggak pernah bawa mobil kemana-mana. Alasannya dua, pertama karena saya nggak pede dan kedua karena orang serumah nggak ada yang mau saya bawa mobil. Haha ya sudah lah..

Singkat cerita, ketika saya, mama dan adik sedang bepergian, tiba-tiba adik mengeluhkan perutnya yang sakit dan nggak bisa nyetir. Otomatis hanya tinggal saya yang bisa nyetir di mobil kala itu. Mau nggak mau, mama merelakan saya untuk membawa mobil ke rumah sakit terdekat karena kondisi adik sudah gawat. 

Pulangnya, kami terjebak di hujan badai dan saya nggak tau cara nyalain wiper! Haa.. Kebayang dong paniknya. Akhirnya saya menepi dan menghubungi adik saya yang saat itu harus rawat inap di rumah sakit. Telepon tak kunjung diangkat karena mungkin dia sudah istirahat.

Akhirnya saya putuskan mencari cara untuk menyalakan wiper di Google. Huaa.. Dan akhirnya saya menemukan caranya di YouTube. Makasih YouTube, malam itu kami sampai di rumah dengan selamat, tak kurang satu apapun. Hihihi.. Happy pokoknya!

Ah, masih banyak cerita lainnya tentang dampak teknologi di kehidupan saya. Tapi, selain dampak baiknya, ternyata teknologi juga mengakibatkan punahnya beberapa hal dari kehidupan kita lho. Ya, setidaknya itu yang saya alami. Bikin baper karena sedih kalau mengenang masa-masa hal-hal itu masih ada di sekitar kita.

Sejak ada handphone canggih, wifi kencang dan televisi kabel, setidaknya ada 4 hal yang sudah beranjak punah dari kehidupan saya (atau mungkin teman-teman juga). Apa saja kelima hal tersebut? Ini dia, 4 hal yang beranjak punah karena hadirnya teknologi versi saya:

Buku telepon

Huaa, ayo ngacung, siapa yang sekarang masih punya buku telepon dan ngebawa kemana-mana? Salut untuk kamu.

Saya inget banget, waktu SD, kayaknya semua anak wajib punya buku telepon berisi nomor telepon rumah, kantor mama papa, sekolah dan teman-teman sekelas. Atau, buku kuning dari Telkom itu udah kayak kitab suci kalau mau pesen pizza. Hahaha.. Yaa, secara zaman saya kecil mah handphone belum sengehits sekarang.


Tapi efeknya, saya jadi inget beberapa nomor telepon penting, seperti nomor telepon rumah, kantor mama papa dan nomor handphone kakak. Ini bermanfaat banget ketika kita pulang terlambat atau sedang main ke rumah teman dan harus mengabari orang rumah. Biasanya saya langsung pergi ke wartel terdekat dan mengabari orang rumah.


Kalau sekarang mah, nomor telepon bisa langsung disimpan di handphone. Bagus sih, malah bisa nyimpen buanyak banget nomor telepon. Tapi, pas handphone lobet dan kita ada di antah berantah, hapalan nomor telepon akan sangat bermanfaat untuk kita. Percayalah, karena saya sering ngalamin. Hihi..

Peta

Masih lekat di benak saya, ketika waktu kecil, saya dan sekeluarga pergi ke Pangandaran untuk mengunjungi kolega papa sambil berlibur. Kala itu papa tak pernah absen membawa petanya. Setiap hilang arah, beliau langsung mengecek peta dan dengan lihainya membaca peta.

Sumber: jabarprov.go.id

Coba sekarang, apa kabar peta? Kayaknya cuma Dora aja yang masih punya peta. Hihi.. Semua peta-peta itu digantikan oleh Google Maps atau GPS.

Jujur, saya juga terbantu banget dengan adanya Maps di handphone. Mencari lokasi pernikahan teman kantor yang ada di sebuah tempat terpencil di Tangerang nggak jadi masalah lagi karena ada Maps. Tinggal ikuti saja garis biru yang ada di layar, dan mendadak kita seperti sudah hapal di luar kepala. Sampai tujuan dengan selamat.

Tapi ada banyak cerita juga tentang Maps yang justru menyesatkan. Masuk ke hutan lah, jalan buntu lah, dan lain-lain. 


Sebenarnya, dengan menggunakan peta, kita sedang melatih kecerdasan spasial kita. Kecerdasan spasial ini bermanfaat untuk menuangkan ide kita dalam bentuk gambar atau mengenali bentuk, ruang, garis dan warna. Tapi tenang, om saya masih secara rutin membeli peta ke Museum Geologi, karena untuk profesi tertentu, peta masih merupakan perlengkapan potensial untuk mendukung aktivitas mereka.

Ensiklopedia

Dari kecil saya sukaaa banget baca. Dan hadiah paling keren yang saya terima dari almarhum om adalah satu set "Disney's Ensiklopediku yang Pertama". Itu harta karun banget banget. Walaupun hibahan (karena anak-anaknya nggak ada yang suka baca), tapi saya tergila-gila dengan ensiklopedi ini.

Sumber: bukapalak.com

Setiap ada kata-kata baru atau sulit yang saya temui di buku pelajaran atau buku cerita, saya buru-buku membuka lemari dan mengeluarkan ensiklopedi saya. Dari sana saya banyak sekali belajar hal-hal baru. Saya cinta mati dengan ensiklopedi itu. Sekarang set tersebut masih bertengger cantik di lemari kaca di rumah papa. Sudah berdebu karena bertahun-tahun tidak ada yang menyentuh. Hiks..

Ya, memang dengan adanya Mbah Google, anak-anak zaman sekarang (termasuk saya) melupakan ensiklopedia. Toh membuka smartphone lebih mudah dibandingkan mencari ensiklopedia. Iya, kan?


Tinggal mengetik apa yang kita cari dan voila! Ribuan artikel siap menambah wawasan kita tentang hal baru. Namun bukan berarti semua yang ada di Google itu benar adanya. Kita harus bijak dalam memilih informasi. Saat ini, banyak sekali hoax yang beredar baik dalam konteks ilmu pengetahuan atau berita sehari-hari.

Sahabat pena

Dulu saya keranjingan dengan sahabat pena. Betapa tidak, mendapatkan surat dari orang yang tidak kita kenal, berkenalan, berbagi kisah, dan menunggu Pak Pos! Waah, seru banget!

Sumber: reallifeglobal.com

Sahabat pena saya waktu itu berasal dari Bali. Karena waktu itu saya belum pernah ke Bali, saya begitu exxcited bertanya tentang Bali kepadanya. Ah, pokoknya seru deh ya. Saya yakin teman-teman juga pasti pernah kan merasakan punya sahabat pena dan bertukar surat?

Smber: crillylaw.co.au

Walaupun hingga kini masih ada komunitas sahabat pena, namun keberadaan surat sudah digantikan dengan e-mail, sms atau social media chat. Semua sudah serba online dan instan. Nggak ada ceritanya lagi menunggu jawaban selama dua minggu. Saat ini, dalam waktu 1 menit pun kita sudah bisa berbagi banyak kisah dengan teman-teman kita.

Oh, how i miss the pen pal moment.. Baper deh :(

Nah, itu tadi hal-hal yang bikin happy dan baper dari teknologi.
Sebenanya teknologi itu memang penting untuk kehidupan kita, dan hanya orang-orang yang mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi lah yang akan maju. Namun, kata Aa Gym, diperlukan iman dan akal untuk menggunakan teknologi secara bijak supaya teknologi bisa membawa manfaat dan amal untuk hidup kita.

Sahabat punya cerita menarik juga nggak seputar teknologi? Yuk share di kolom komentar yaa :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-


Lomba ini diselenggarakan oleh IDCopy.net dan Eliska.id

30 comments :

  1. Ceritanya daleemm, de..
    Sama.
    Baper juga nungguin Pak Pos di depan rumah.

    Sampe bela-belain bikin perangko yg pake foto sendiri (limited edition) waktu itu...daripada nyetak foto terus terusaan...
    Hiihhii...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha itu nah narsis mba :p
      Iya yah kangen nunggu pak pos sambil deg2an haha

      Delete
  2. hihi iyaaaa, setuju. Teknologi manfaatnya banyak banget yaaaaaa. Untung ada youtube ya mak, kalo nggak gimana ya cara nyalain wiper saat itu? jamannya belom ada teknologi secanggih ini, nanya orang lewat kali yaaa.. Hihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hadeeh sebenernya malu banget mama dian. Masa nualaij wiper aja ga tau. Hadeeh.. Wkwk
      Untung ada yutub deh. I love yutub :*

      Delete
  3. dulu juga suka surat2an
    sampai punya sahabat pena di luar negri, terus itu sahabat protes kok aku nggak banyak cerita..
    lah iya wong baru bisa how do you do aja he..he...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wiiih keren pelpalnya sampai ke luar negeriii..
      Penpalan lagi lah yuk mba :)

      Delete
    2. Wiiih keren pelpalnya sampai ke luar negeriii..
      Penpalan lagi lah yuk mba :)

      Delete
  4. Sukses mbakkk...
    Kalau saya dari dulu suka yang konvensional, sering dibilang cupu sama temen-temen kalau suka surat-suratan sama penpal. Saya sendiri suka yang kuno2 :p wkkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi iyaa saya juga jadul orangnyaa ga kekinian. Wkwk
      Eh katanya ada klub sahabat pena lho. Aku mau daftar ah!

      Delete
  5. hihihi kocak bgt cerita yg pertama :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg yutub ya teh? Hahahha malu2in banget deh! Aaak

      Delete
  6. Saya masih suka catat nomor telepon di buku nih mbak :D Hahahaha..ya gak tahu kenapa. Senang aja gitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oia kak? Waah rajin euy.. Saya udah ga pernah pakai buku lagi. Dan yg diinget cuma notelpon mama sama ade. Wkwkw

      Delete
  7. Laptop dan hp itu sudah jadi andalan nih sekarang, jangan sampe mudik lupa bawa keduanya ini hehehe.
    Duh aku masih belum bisa nyetir hiks padahal sudah les 6 tahun lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba.. Udah ketergantungan ya kita.. Hmm..
      Ayo mba. Ternyata nyetir seru juga! Hihi

      Delete
  8. Ahahaha, jd ngikik..
    btw, bener banget tuh mba, teknologi ibarat 2 mata pisau ya, jika ga kuat iman, bisa bablas, jangan sampe deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mba. Harus bijak dalam mrnggunakan teknologi. Dan pastinya pakai iman dan akal kayak kata aa gym :)

      Delete
  9. Hihihi aku juga ngalamin bgt tuh mbak ... Keburu tua nungguin pak pos haaha

    ReplyDelete
  10. Teknologi emang pengaruh banget buat kehidupan, banyak manfaatnya ...

    ReplyDelete
  11. Aaaak daku merindukan itu semua Mbak, heuheu, yg paling rindu adalah buku telepon dan Sahabat pena hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba.. Sama.. Anak2 kita mah ga akan kenal lagi yaa kayanya..

      Delete
  12. Hi..hi..iya ya Mbak, kita memang harus lebih bijak menghadapi teknologi yang semakin cepat. Positifnya, ibu rumah tangga tetap bahagia dan jauh lebih produktif dibandingkan dengan IRT jaman dulu. Negatifnya kita suka tergantung dengan sosmed ya... :)
    Bener juga, kita gak perlu bawa buku telepon, peta dan esiklopedia lagi ya. Yang namanya sahabat pena berubah jadi sahabat maya, kali ya...hi..hi..maksaaaa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu banget. Racun sosmeeed argh.. Haha

      Delete
  13. hahah seru yaa zaman dulu... #Eh!
    saya punya lho buku kecil isinya no telp yg masih sy simpen smp sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih disimpen mba? Waa keren. Duh punya saya masih ada ga yah di rumah bapak. Wkwk

      Delete
  14. Hihi. suami suka banget kalau pas pergi nyobain jalan baru, jd kita mengandalkan app drive di HP :)

    btw saya kadang (kalau ingat dan sempat) masih suka backup no HP di buku lho.. masih kebawa jaman dulu, hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba.. Saya juga kalau ga pede suka buka maps juga sih hihi..

      Delete
  15. saya pernah baca berita online, di luar negeri ada mobil yang kecebur sungai gara2 nyari alamat pake aplikasi Maps itu :D, teknologi memang ada dampak negatif dan positif nya ya

    ReplyDelete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...