Ibu Merokok Wajib Menyusui Bayinya


Beberapa teman saya memutuskan untuk berhenti menyusui ketika bayi mereka berusia 2 atau 3 bulan dengan alasan sudah nggak tahan ingin merokok lagi. Maklum, walaupun perokok aktif, mereka berhenti merokok selama 9 bulan kehamilan demi kesehatan si jabang bayi. Setelah bayi lahir dengan sehat dan lucu, keinginan untuk merokok muncul lagi dan tak terbendung. Whoaa udah puasa 9 bulan, sis, begitu kata mereka.

Lalu, apakah memang ibu merokok harus berhenti menyusui? Dan apakah lantas hal tersebut bisa mengurangi dampak buruk nikotin pada bayi? 



Boleh. Malah menurut saya sih, harus ya..

Sesungguhnya, ibu merokok yang tetap memberikan ASI pada bayinya lebih baik dibandingkan ibu merokok yang memberikan susu formula. 

Ini bukan tentang momwar ASI vs sufor lho. Tapi, faktanya, ASI mengandung banyak imunitas yang melindungi bayi untuk memerangi penyakit dan bahkan dapat melindungi bayi dari efek buruk asap rokok. Salah satu contohnya adalah, menyusui dapat mengurangi efek buruk asap rokok pada paru-paru bayi.



Si Kecil Menjadi Perokok Pasif

Semua pasti sudah paham dan tau apa efek buruk nikotin yang terkandung pada rokok. Nah, bagaimana efeknya pada bayi? Berdasarkan Mama Kelly, berikut adalah efek dari merokok terhadap kesehatan si kecil:
  1. Bayi dan anak yang terpapar asap rokok akan memiliki peluang lebih besar terkena pneumonia, asma, infeksi telinga, bronkhitis, infeksi sinus, iritasi mata dan sesak napas.
  2. Bayi yang kedua atau salah satu orang tuanya merokok memiliki kemungkinan terkena kolik lebih sering. Tau kan, kolik? Bayi sakit perut dan jejeritan tengah malam. Oh, no!
  3. Ibu ‘heavy smoking’ alias perokok kelas berat akan menyebabkan gejala-gejala berikut ini pada si kecil : mual, muntah, kram perut dan diare.
  4. Bayi dengan ibu atau ayah perokok memiliki peluang tujuh kali lebih besar untuk terkena Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau sindrom kematian bayi mendadak.
  5. Anak dengan orang tua perokok akan lebih sering mengunjungi dokter. Biasanya keluhan mereka berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan atau penyakit yang terkait alergi.
  6. Anak yang menjadi perokok pasif biasanya akan memiliki tingkat HDL dalam darah yang rendah. HDL adalah kolesterol baik yang berfungsi untuk melindungi arteri dari penyakit koroner.
  7. Anak yang memiliki orang tua perokok kemungkinan juga akan menjadi perokok. Is it true? Papa saya perokok berat, tapi saya nyobain rokok seisep aja udah uhuk uhuk. Haha..
  8. Penelitian terbaru menemukan fakta bahwa anak yang tumbuh dengan perokok akan memiliki risiko dua kali lipat terkena kanker paru-paru di masa depan. Amit-amit ya Allah..
Saya yakin dan tau, semua perokok pasti sudah tau efek merokok dan nikotin pada orang dewasa. Nah, setelah tau efeknya pada si kecil, mudah-mudahan ibu dan ayah bisa berusaha untuk mengurangi dan bahkan berhenti merokok yaa.. Minimal nggak ngerokok di lingkungan rumah lah ya :)

Efek Nikotin pada ASI

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah efek yang diberikan nikotin pada ASI? 

Seperti yang telah saya tulis pada postingan sebelumnya tentang kafein. Ahza sangat sangat sensitif pada kafein, terutama kafein yang berasal dari kopi. Saya nyobain kopi seteguk pagi-pagi aja, efeknya akan berasa sampai malam. Begadang deh sama Bang Haji. Nah, kalau kafein kan keliatan banget ya, terpampang nyata kalau kata Tante Inces. Bagaimana dengan nikotin?

Efek nikotin pada ibu dan bayi adalah;
  1. Penyapihan dini. Suatu penelitian menunjukkan bahwa perokok berat akan menyapih anaknya lebih dini dibandingkan dengan ibu-ibu lainnya. Seperti yang sudah saya ceritakan di awal tentang teman-teman saya. Rokok itu candu. Dan mereka nggak tahan buat mulai ngerokok lagi setelah hampir setahun nggak ngerokok.
  2. Turunnya produksi ASI.
  3. Gangguan pada pengeluaran ASI.
  4. Rendahnya tingkat hormon prolaktin.. Hormon ini diperlukan untuk memproduksi ASI.

Lalu, si nikotin ini bakal pengaruh ke komposisi ASI nggak sih? Berdasarkan hasil penelitian dari Department of Paediatrics at Stockholm Soder Hospital, Karolinska Institute (ngetiknya susah haha) di Stockholm, Sweden, yang saya baca, terdapat 7 microg/kg/d nikotin di ASI dari hasil uji urin bayi yang memiliki ibu perokok. Memang sepertinya sedikit, namun seiring waktu, konsentrasi nikotin tersebut akan semakin meningkat. 

Tapi sekali lagi, ibu perokok yang menyusui jauh lebih baik dibandingkan dengan berhenti menyusui sama sekali.

“Of course, it is better if a breastfeeding mother does not smoke, but if she cannot stop or cut down, then it is better to smoke and breastfeed rather than smoke and formula feed.”

Meminimalisir Risiko Nikotin pada Bayi

Lalu, bagaimana kalau saya merokok dan saya ingin tetap menyusui bayi saya. Boleh banget. Lanjutkan, mam! Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ibu untuk meminimalisir efek buruk nikotin pada si kecil:
  1. Merokoklah segera setelah menyusui. Kandungan nikotin di ASI akan berkurang sekitar 97 menit setelah merokok. Semakin lama jarak antara merokok dan menyusui, akan semakin sedikit jumlah nikotin yang akan terpapar ke bayi. Jadi, kalau memang terpaksa harus merokok, perhatikan jarak antara waktu merokok dan menyusui.
  2. Jangan menyusui di rumah atau mobil. Big NO NO. Okelah tetap merokok, tapi pelis, jagalah agar lingkungan di sekitar bayi tetap bebas asap. Jangan biarkan orang lain merokok di dekat si kecil ya. 
  3. Setiap saat setelah merokok, asap akan menempel di baju, rambut dan kulit. Kalau nggak memungkinkan untuk mandi setiap saat, coba sediakan ‘baju khusus merokok’ dan pergunakan scarf atau slayer untuk menutup rambut. Kalau dokter anaknya pernah bilang, ayahnya Ahza suruh ngerokok di depan rumah (kalo bisa jauh-jauh lah) nanti kalau udah, harus ganti baju, cuci muka, mandi, dll, dsb, yang jelas pas ketemu bayi harus sudah bersih. Susah ya cin? Ya gimana lagi. Hehe..
  4. Berhenti merokok. Ya ini mah pilihan yang palng ideal banget ya. Selain baik untuk bayi, pilihan ini tentunya juga yang terbaik untuk ibu. Pernah dengan hipnoterapi untuk perokok? Ya mungkin bisa dicoba ya :)


Kesimpulan

Tulisan ini dibuat bukan untuk menghakimi ibu-ibu perokok. Teman-teman saya banyak yang perokok (yang perempuan juga banyak), tapi saya tetap makan bareng, minum bareng, jalan bareng. Tapi ya kalau mereka merokok, saya melipir dulu lah. Pun kalau saya bawa Ahza ke kampus, teman-teman akan ngumpet dulu ke tangga darurat hanya untuk merokok, supaya asapnya nggak kena Ahza. Makasih ya, bro sis..

Intinya, saya menghargai keputusan setiap ibu tentang caranya membesarkan anak-anak mereka. Tapi, khususnya untuk ibu perokok, plis jangan jadikan rokok sebagai alasan kalian untuk berhenti menyusui. Saya nggak bosen-bosennya nulis kalau ibu perokok yang menyusui itu jauh-jauh-jauh lebih baik daripada ibu perokok yang berhenti menyusui dan memilih susu formula. Alasannya simpel banget, karena ASI bisa imunitas yang terkandung di dalam ASI memang terbukti bisa memerangi efek negatif dari nikotin.

Jadi, kalau memang terpaksa harus merokok atau belum bisa merokok, plis tetap menyusui ya, bu. Jangan biarkan anak-anak kita terpapar rokok dan tidak diberi apa-apa untuk melindungi dirinya.
Terima kasih sudah membaca,
Silahkan dishare jika bermanfaat..

Baca juga artikel tentang menyusuinya di sini: Seputar Menyusui


Salam ASI,
-Si Ibu Jerapah-

Referensi:
http://www.lalecheleague.org/faq/smoking.html
https://www.breastfeeding.asn.au/bfinfo/breastfeeding-and-smoking
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15244232?dopt=Abstract
http://kellymom.com/bf/can-i-breastfeed/lifestyle/smoking/
Sumber foto:
www.breastfeeding-magazine.com
http://cdn.mamamia.com.au/
Pinterest

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak