Tentang Status Perempuan



Minggu lalu, saya mendengar kabar bahwa adik sepupu saya dicekik oleh ayah tirinya karena persoalan yang sangat sepele. Karena kejadian itu, adik sepupu saya trauma dan si ayah tiri berniat untuk menceraikan tante saya. Beberapa hari yang lalu, di televisi, masyarakat kembali dihebohkan dengan kasus mutilasi. Kali ini menimpa seorang ibu hamil 7 bulan -diduga di luar pernikahan- dan pelakunya, seorang lelaki, masih menjadi buronan polisi. 

Jika mendengar tentang kekerasan pada perempuan seperti dua cerita di atas, memori saya selalu kembali pada malam itu. Malam itu salah satu malam terburuk dalam hidup saya. Sebut saya lebay, tapi malam itu, mungkin malaikat maut masih bermurah hati pada saya. Saya hanya mendapat beberapa benjolan di kepala saja, tidak sampai cacat atau mati. Dan yang lebih melegakan, bayi berumur tiga bulan yang saat itu sedang tertidur lelap di kamar tidak terbangun mendengar keributan di luar kamar. Si bayi tertidur pulas dan sehat sampai sekarang, alhamdulillah :)

Di luaran sana, masih sangat banyak perempuan-perempuan lain yang bernasib sama atau bahkan lebih buruk dari saya. Ada yang mengalami kekerasan itu di luar rumah, dari pacar, orang tua, orang yang tidak dikenal sampai orang yang seharusnya menjadi pelindung, para suami. 

Kemarin, saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah novel karya Mbak Leyla Hana yang berjudul Cinderella Syndrome. Ada beberapa quotes di buku ini yang begitu menohok saya. 
Sebagian besar perempuan terjebak pada perangkap psikologis bahwa mereka akan selamat dalam menjalani kehidupan ini jika memiliki pelindung sejati bernama: laki-laki.
Ketergantungan finansial, kekhawatiran terhadap psikologis anak-anak dan tidak mampu hidup tanpa suami.. aah.. itu semua bisa diatasi jika seorang wanita bisa mengambil sikap!
Dari dua kalimat itu, saya menyimpulkan bahwa ada satu hal yang menjadi persamaan dari semua cerita-cerita di atas: ada saatnya, perempuan rela ditampar bolak-balik, dipukuli sampai babak belur hingga diancam akan dibunuh, demi sebuah status : ISTRI, PACAR, ANAK atau apapun itu.

Menjadi single parents itu memang nggak enak. Apalagi menyandang status janda yang -entah mengapa- punya konotasi buruk di masyarakat kita. Jadi jomblo itu nggak enak, hari gini jomblo? Hmm.. Dan memang, perempuan yang mengutamakan perasaan akan mengesampingkan semuanya demi zona nyaman itu ; menjadi istri seseorang atau menjadi pacar seseorang. Nggak peduli akan kenyataan bahwa untuk mempertahankan status itu dia rela mengorbankan segalanya, termasuk harga diri dan nyawanya. Sepadan kah itu semua?

Dalam kasus saya, perceraian bukanlah sesuatu yang sebenarnya saya inginkan (setidaknya waktu itu). Memang, ada hal-hal yang menurut saya bisa dijadikan alasan untuk pergi dari suami : kekerasan, alkohol, narkoba dan selingkuh. Kenapa empat hal ini? Karena berdasarkan pengalaman, keempat hal ini bersifat adiksi, membuat pelakunya ketagihan dan akan mengulanginya lagi. Sekali nggak akan pernah cukup. Trust me, masa lalu saya kelam, jadi saya tau persis tentang hal-hal seperti ini. Dan walaupun pasangan saya -setidaknya- sudah mengantongi satu dari perilaku tersebut, tetap saja saya tidak mau berpisah. Pura-pura bodoh, pura-pura semua baik-baik saja. Menutupi semuanya dari keluarga. Mengapa? Karena saya ingin punya keluarga yang utuh. Sekali ini saja Tuhan, pinta saya waktu itu.

Namun, Allah ternyata punya cara sendiri untuk melindungi hambaNya, Ternyata benar, perilaku itu terulang lagi, bahkan dengan frekuensi yang lebih sering. Jika tidak ada Ahza, mungkin saat ini saya masih di sana (atau mungkin sudah ditemukan tidak bernyawa?). Akhirnya saya nekat lari dari rumah. Allah dengan caraNya mengirimkan bala bantuan -kakak saya- saat saya ingin pergi dari rumah tapi tak sepeser uang pun ada di kantong saya. Sore itu, saya membakar api yang mungkin tak kunjung padam sampai sekarang. Tapi itu keputusan saya. Keputusan yang sampai saat ini tidak saya sesali.

Saat itu, keputusan saya untuk pergi hanyalah karena ketakutan yang memuncak. Saya tidak bisa berhenti membayangkan, perlakuan apalagi yang akan saya terima malam itu. Saya hanya berharap agar pasangan saya bisa cooling down dan semua akan kembali seperti semula. Namun ternyata, keluarga saya punya pemikiran sendiri. Mereka melarang saya untuk kembali. Mereka tidak peduli jika saya mati. Namun bagaimana jika saya cacat dan menjadi beban? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Ahza? Penyesalan sebesar apa yang akan saya tanggung di sisa hidup saya? Semua hanya karena saya masih ingin mempertahankan mimpi saya tentang 'keluarga kecil dan bahagia' yang ternyata hanya utopia semata.

Butuh waktu belasan bulan untuk saya menyadari bahwa keputusan yang saya ambil ini adalah yang terbaik. Di bulan-bulan awal, saya merasa menjadi wanita paling menyedihkan di seluruh dunia. Ah, bukankah memang itu yang kita rasakan jika sedang sedih? Rasanya seluruh dunia tidak berpihak pada kita. Saya baru tersadar jika mama menunjukkan berita-berita tentang kekerasan pada perempuan atau mengulang ceritanya -yang sudah ratusan atau ribuan kali saya dengar- tentang pengalamannya sendiri membebaskan diri dari cengkraman tangan ayah saya. "Bagaimana kalau yang masuk berita itu kamu? Atau Ahza?", kata-kata mama selalu menampar saya.

Satu-satunya yang membuat saya tetap waras adalah Ahza. Sungguh ajaib, karena 6 bulan pertama kehidupannya, Ahza hanya mengonsumsi ASI saya. Di tengah keterbatasan saya. Di tengah kegilaan saya dengan semua masalah, Ahza tetap bertahan dengan hanya mengandalkan ASI saya, tidak mau dicekoki susu formula atau makanan lainnya. Ahza tumbuh menjadi anak yang aktif, anak yang sangat membutuhkan perhatian khusus karena bayangkan saja, dicuekin sedikit saja, Ahza pasti langsung rewel. Ya, hidup saya memang untuk Ahza dan saya bersyukur punya Ahza :)

Dari cerita yang membosankan ini, sebenarnya saya ingin berpesan teman-teman dan sahabat perempuan : Jangan Takut untuk Menjadi Mandiri. Hal ini berlaku untuk apapun status kalian. Menjadi istri? Jadilah istri yang mandiri. Sebagai anak perempuan? Jadilah anak perempuan yang mandiri. Menjadi perempuan mandiri tidak melulu tentang menjadi perempuan superior, perempuan yang mempunyai segalanya di atas lelakinya. Menurut saya, banyak hal yang bisa membuat perempuan menjadi mandiri dan salah satunya adalah dengan menjadi produktif.

Akhir kata, please, STOP KEKERASAN PADA PEREMPUAN.. Bukankah surga itu masih berada di bawah telapak kaki ibumu?

Dan lagi, menyoal status, buat saya status memang penting, tapi lebih penting lagi menjadi orang yang bahagia, mandiri dan bisa bermanfaat untuk orang lain. :):)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak