April 21, 2016

Tentang Status Perempuan



Minggu lalu, saya mendengar kabar bahwa adik sepupu saya dicekik oleh ayah tirinya karena persoalan yang sangat sepele. Karena kejadian itu, adik sepupu saya trauma dan si ayah tiri berniat untuk menceraikan tante saya. Beberapa hari yang lalu, di televisi, masyarakat kembali dihebohkan dengan kasus mutilasi. Kali ini menimpa seorang ibu hamil 7 bulan -diduga di luar pernikahan- dan pelakunya, seorang lelaki, masih menjadi buronan polisi. 

Jika mendengar tentang kekerasan pada perempuan seperti dua cerita di atas, memori saya selalu kembali pada malam itu. Malam itu salah satu malam terburuk dalam hidup saya. Sebut saya lebay, tapi malam itu, mungkin malaikat maut masih bermurah hati pada saya. Saya hanya mendapat beberapa benjolan di kepala saja, tidak sampai cacat atau mati. Dan yang lebih melegakan, bayi berumur tiga bulan yang saat itu sedang tertidur lelap di kamar tidak terbangun mendengar keributan di luar kamar. Si bayi tertidur pulas dan sehat sampai sekarang, alhamdulillah :)

Di luaran sana, masih sangat banyak perempuan-perempuan lain yang bernasib sama atau bahkan lebih buruk dari saya. Ada yang mengalami kekerasan itu di luar rumah, dari pacar, orang tua, orang yang tidak dikenal sampai orang yang seharusnya menjadi pelindung, para suami. 

Kemarin, saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah novel karya Mbak Leyla Hana yang berjudul Cinderella Syndrome. Ada beberapa quotes di buku ini yang begitu menohok saya. 
Sebagian besar perempuan terjebak pada perangkap psikologis bahwa mereka akan selamat dalam menjalani kehidupan ini jika memiliki pelindung sejati bernama: laki-laki.
Ketergantungan finansial, kekhawatiran terhadap psikologis anak-anak dan tidak mampu hidup tanpa suami.. aah.. itu semua bisa diatasi jika seorang wanita bisa mengambil sikap!
Dari dua kalimat itu, saya menyimpulkan bahwa ada satu hal yang menjadi persamaan dari semua cerita-cerita di atas: ada saatnya, perempuan rela ditampar bolak-balik, dipukuli sampai babak belur hingga diancam akan dibunuh, demi sebuah status : ISTRI, PACAR, ANAK atau apapun itu.

Menjadi single parents itu memang nggak enak. Apalagi menyandang status janda yang -entah mengapa- punya konotasi buruk di masyarakat kita. Jadi jomblo itu nggak enak, hari gini jomblo? Hmm.. Dan memang, perempuan yang mengutamakan perasaan akan mengesampingkan semuanya demi zona nyaman itu ; menjadi istri seseorang atau menjadi pacar seseorang. Nggak peduli akan kenyataan bahwa untuk mempertahankan status itu dia rela mengorbankan segalanya, termasuk harga diri dan nyawanya. Sepadan kah itu semua?

Dalam kasus saya, perceraian bukanlah sesuatu yang sebenarnya saya inginkan (setidaknya waktu itu). Memang, ada hal-hal yang menurut saya bisa dijadikan alasan untuk pergi dari suami : kekerasan, alkohol, narkoba dan selingkuh. Kenapa empat hal ini? Karena berdasarkan pengalaman, keempat hal ini bersifat adiksi, membuat pelakunya ketagihan dan akan mengulanginya lagi. Sekali nggak akan pernah cukup. Trust me, masa lalu saya kelam, jadi saya tau persis tentang hal-hal seperti ini. Dan walaupun pasangan saya -setidaknya- sudah mengantongi satu dari perilaku tersebut, tetap saja saya tidak mau berpisah. Pura-pura bodoh, pura-pura semua baik-baik saja. Menutupi semuanya dari keluarga. Mengapa? Karena saya ingin punya keluarga yang utuh. Sekali ini saja Tuhan, pinta saya waktu itu.

Namun, Allah ternyata punya cara sendiri untuk melindungi hambaNya, Ternyata benar, perilaku itu terulang lagi, bahkan dengan frekuensi yang lebih sering. Jika tidak ada Ahza, mungkin saat ini saya masih di sana (atau mungkin sudah ditemukan tidak bernyawa?). Akhirnya saya nekat lari dari rumah. Allah dengan caraNya mengirimkan bala bantuan -kakak saya- saat saya ingin pergi dari rumah tapi tak sepeser uang pun ada di kantong saya. Sore itu, saya membakar api yang mungkin tak kunjung padam sampai sekarang. Tapi itu keputusan saya. Keputusan yang sampai saat ini tidak saya sesali.

Saat itu, keputusan saya untuk pergi hanyalah karena ketakutan yang memuncak. Saya tidak bisa berhenti membayangkan, perlakuan apalagi yang akan saya terima malam itu. Saya hanya berharap agar pasangan saya bisa cooling down dan semua akan kembali seperti semula. Namun ternyata, keluarga saya punya pemikiran sendiri. Mereka melarang saya untuk kembali. Mereka tidak peduli jika saya mati. Namun bagaimana jika saya cacat dan menjadi beban? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Ahza? Penyesalan sebesar apa yang akan saya tanggung di sisa hidup saya? Semua hanya karena saya masih ingin mempertahankan mimpi saya tentang 'keluarga kecil dan bahagia' yang ternyata hanya utopia semata.

Butuh waktu belasan bulan untuk saya menyadari bahwa keputusan yang saya ambil ini adalah yang terbaik. Di bulan-bulan awal, saya merasa menjadi wanita paling menyedihkan di seluruh dunia. Ah, bukankah memang itu yang kita rasakan jika sedang sedih? Rasanya seluruh dunia tidak berpihak pada kita. Saya baru tersadar jika mama menunjukkan berita-berita tentang kekerasan pada perempuan atau mengulang ceritanya -yang sudah ratusan atau ribuan kali saya dengar- tentang pengalamannya sendiri membebaskan diri dari cengkraman tangan ayah saya. "Bagaimana kalau yang masuk berita itu kamu? Atau Ahza?", kata-kata mama selalu menampar saya.

Satu-satunya yang membuat saya tetap waras adalah Ahza. Sungguh ajaib, karena 6 bulan pertama kehidupannya, Ahza hanya mengonsumsi ASI saya. Di tengah keterbatasan saya. Di tengah kegilaan saya dengan semua masalah, Ahza tetap bertahan dengan hanya mengandalkan ASI saya, tidak mau dicekoki susu formula atau makanan lainnya. Ahza tumbuh menjadi anak yang aktif, anak yang sangat membutuhkan perhatian khusus karena bayangkan saja, dicuekin sedikit saja, Ahza pasti langsung rewel. Ya, hidup saya memang untuk Ahza dan saya bersyukur punya Ahza :)

Dari cerita yang membosankan ini, sebenarnya saya ingin berpesan teman-teman dan sahabat perempuan : Jangan Takut untuk Menjadi Mandiri. Hal ini berlaku untuk apapun status kalian. Menjadi istri? Jadilah istri yang mandiri. Sebagai anak perempuan? Jadilah anak perempuan yang mandiri. Menjadi perempuan mandiri tidak melulu tentang menjadi perempuan superior, perempuan yang mempunyai segalanya di atas lelakinya. Menurut saya, banyak hal yang bisa membuat perempuan menjadi mandiri dan salah satunya adalah dengan menjadi produktif.

Akhir kata, please, STOP KEKERASAN PADA PEREMPUAN.. Bukankah surga itu masih berada di bawah telapak kaki ibumu?

Dan lagi, menyoal status, buat saya status memang penting, tapi lebih penting lagi menjadi orang yang bahagia, mandiri dan bisa bermanfaat untuk orang lain. :):)

27 comments :

  1. Aaaaaah terharu bacanya Mbak, aku yang bukan siapa-siapa Mbak pun kayanya ikut bangga juga sama mbak. Aku tau pasti keputusan itu berat banget ya, tapi ternyata mbak bisa melewati semuanya.. Alhamdulillah.. Dibalik setiap kesusahan pasti akan datang kemudahan juga ya Mbak, dan Allah nggak akan memberi ujian melebihi kesanggupan hambaNya.. Semangat terus ya Mbak.. Salam kenal, salam juga untuk Ahza dari duo krucil aku.. Hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbaaa, makasih yaa sudah baca.. duh, seneng banget dapet semangat dari mbak :)
      insya Allah terus semangat.. :D
      salam buat kakak2 dari ahza.. asyiiik punya teman baru :)

      Delete
  2. Merinding dan emosional aku bacanya :(

    ReplyDelete
  3. Dessyyyyy....peluuuuuuuk :'). Makasih sudah mau berbagi ya. Ciyum untuk Ahza :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. peluk nyak jugaaa.. :)
      makasih sudah mau baca nyak :)
      kiss2 dari ahza :)

      Delete
  4. Aku suka ngeri sendiri dengan segala hal seperti kekerasan, KDRT, dan semacamnya.
    Turut bersimpati dg pengalaman Mbak. Stay strong :).

    ReplyDelete
  5. Semangat mba' Dessy, saya terharu membacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih banyak mba :)
      makasih sudah membaca :)

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  6. Entah kenapa ya, yg aku lihat banyak orang yg kalo udah menunjukkan tanda2 kekerasan, biar janji mau berubah akhirnya gak pernah berubah dan mengulangi perbuatannya..

    Mbak dessy hebat.. keputusannya tepat kok, aku tau bgt rasanya seumur hidup bersama pelaku KDRT.. awalnya istri, ntar anak2nya udah gede jadi korbannya jg..

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga kita dihindarkan dari hal2 semacam ini ya mbak mer :)
      makasih sudah mampir :)

      Delete
  7. Ya Allah mbak, ternyata mbak pernah mengalami hal ini. Mbak begitu kuat. Strong!
    Lewat tulisan mbak, saya ngerti kalau mjd seorang ibu-khususnya- tdk mudah. Alhamdulillah, suami saya tak pernah main tangan mbak. Tapi saya juga gak mau berpangku tangan mengandalkan apa yg diberikan suami. Aku mau tetap berjuang karena aku punya Kak Ghifa yg baru menginjak 8bln. Sekali lg makasih mbak sudah menguatkan kami-khususnya saya- agar menjadi ibu yg strong.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, yang penting kita senantiasa mencoba jadi perempuan yang mandiri ya mba.. :)
      ayo semangat untuk kakak ghifa :)

      Delete
  8. Trenyuh saya membaca kisah Mba. Menurut saya juga begitu mba, susah bagi sebagian perempuan utk melepas status meski ia sebenarnya berdarah-darah dg status itu.
    Melepaskan diri juga beresiko besar, biasanya sih sanksi sosial yg kerap memandang miring perempuan janda.
    Karena nya jadi perempuan itu harus tangguh, saya sepakat banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sudah mampir ya mbak :)
      semoga kita bisa jadi perempuan2 tangguh ya mbak :)

      Delete
  9. Semangat ya Dessy!!! Aku pikir bener bahwa perempuan harus punya kemandirian. Ngga usah peduliin apa yang diomongin orang mengenai status and ngga usah minder menjadi being alone or single parent. Salut dengan keputusannya. Perlu keberanian besar untuk melakukan semua itu. Semoga Allah memberikan yg terbaik buat kita semua ya. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo mbak le.. makasih yaa sudah mampir.. terima kasih sudah dengerin cerita akuuu :)
      semangaaattt :d

      Delete
  10. Ya. Perempuan itu memang harus mandiri. Bukan karena ingin menindas atau berada di atas laki-laki,tetapi untuk mengimbangi dan memberi tantangan baru, agar tetap menarik. Begitukah Mba?

    ReplyDelete
  11. Kamu memang wanita yang kuat. Des. *peluuk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin teh uwien.. Semoga..
      Peluuuk :*

      Delete
  12. Ya rabb... mbak Dessy bener2 wanita kuat. Mungkin ahza tau kalau dia tak ingin merepotkan mbak dan bisa diajak kompromi. Smngat trus ya mbak dessy...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya Allah..
      Makasih ya mbaa sudah mrnguatkan :)

      Delete
  13. Hiks. Mewek aku mba.. :'(

    *Peluk Mba Dessy* Smg Ahza jd anak shalih yg jd penyejuk mata dan pelindung ibunya. Aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan mewek mba sayang :)
      Aamiin ya Allah :)')

      Delete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...