April 07, 2016

#HappySingleMom : Tentang Pendidikan Anak


Menjadi orangtua tunggal memang menggandakan semua tanggung jawab, termasuk saat harus mengambil keputusan tentang anak. Sejak menjadi orang tua tunggal, saya belajar mengambil keputusan sendiri.Rasanya? Lumayan enak sih, nggak pusing karena nggak ada perbedaan pendapat. Hehe.. Tapi ya itu dia, segala sesuatu harus saya pertimbangkan sendiri baik dan buruknya. Mencari referensi dari berbagai sudut pandang dan siap menanggung risiko. Ada kalanya juga saya bingung harus berbuat apa dan perlu teman untuk berdiskusi. Orang yang selalu saya ajak berdiskusi tentang tumbuh kembang, kesehatan atau pendidikan Ahza adalah mama. Walaupun selalu berakhir dengan perdebatan panjang karena pemikiran mama yang 'cara orangtua dulu yang terbaik' dan nggak mau mempertimbangkan perkembangan zaman, tapi setidaknya saya punya temen ngobrol, daripada bengong sendiri. Wkwk..

Contohnya adalah masalah kesehatan. Karena saya pernah trauma dengan dokter anak dan antibiotik karena punya pengalaman yang sangat tidak mengenakkan dengan keduanya saat Ahza masih berumur kurang dari 30 hari. Sejak saat itu, perlu keberanian untuk membawa Ahza ke dokter ketika sakit. Sebisa mungkin saya tidak membawa Ahza ke dokter. Saya membawa Ahza ke dokter kalau memang sudah ada tanda-tanda kegawatan atau mama sudah memohon-mohon saya untuk membawa Ahza ke dokter. Hehe..

Masalah pendidikan, sebenarnya saya tertarik dengan konsep homeschooling atau home education (HS/HE), apalagi setelah selesai membaca buku "Apa Itu Homeschooling"-nya Pak Sumardiono dari Rumah Inspirasi. Saya selalu kagum dengan para orangtua yang menerapkan HS/HE di rumah bersama anak-anaknya. Saya selalu bertanya-tanya, apakah para orangtua tersebut memang punya keahlian khusus di bidang pendidikan? Maksud saya, apakah mereka harus mengambil kursus khusus sebelum mengajar anak-anak mereka di rumah? Lalu, berdasarkan kurikulum apa pelajaran yang dipelajari oleh anak-anak HS/HE di rumah? Apakah HS/HE diakui oleh pemerintah? Apakah anak-anak HS/HE bisa kuliah dan bekerja sebagaimana lulusan sekolah? Dan yang paling penting bagaimana tentang sosialisasi anak-anak HS/HE. Poin terakhir ini selalu menjadi bahan perdebatan saya dan mama (neneknya Ahza).

Ini dia penampakan bukunya
Sumber: www.rumahinspirasi.com

Saya tertarik dengan konsep HS/HE ini karena saya merasa saya adalah salah satu korban dari metode pembelajaran di sekolah yang berfokus pada guru, bukan pada murid. Contohnya saya, walaupun saya bekerja di bidang keuangan dan tugas akhir S1 dan S2 saya adalah tentang keuangan, saya tidak suka akuntansi, cenderung benci. Keuangan dan akuntansi memang dua bidang yang berbeda namun tidak dapat dipisahkan antara satu dan lain. Sehingga adalah sebuah pekerjaan berat untuk saya ketika harus mempelajari akuntansi dari nol supaya bisa lebih mendalami tugas akhir saya. Apa yang salah dengan akuntansi? Nggak ada yang salah, dia mah anaknya baek kok. Hehe, garing. Yang salah (menurut saya), gurunya. 

Guru akuntansi pertama saya adalah Pak Sinaga yang terkenal dan terbukti galak. Serem banget pokoknya. Saya takut. Tidak peduli murid-muridnya mengerti atau tidak, cara mengajarnya tetap sama. Ah, pokoknya menyeramkan. Dan sejak itu saya nggak mau masuk IPS dan saya benci akuntansi. Begitupun ketika kuliah dan bertemu lagi dengan mata kuliah Pengantar Akuntansi. Lagi-lagi saya mendapat dosen yang begitulah. Mungkin mindset saya tentang akuntansi sudah sedemikian rupa sehingga ketika mendapatkan dosen yang kurang berkenan, lagi-lagi saya tambah membenci akuntansi. Masuk kuliah hanya untuk mengisi absen dan mengerjakan tugas mencontek kepada teman yang pintar dan baik (uhuk! Cuma buat pelajaran ini doang kok. Suer haha). Sampai akhirnya, di perkuliahan S2 saya bertemu dosen yang "pas" dan membuat saya berpikir bahwa akuntansi tidak seburuk yang saya pikirkan. Dosen itu berhasil menjelaskan dengan cara bercerita, mengungkapkan contoh-contoh nyata yang biasa ditemui, menggunakan bahasa-bahasa yang familiar di telinga dan ah pokoknya menyenangkan.

Itu baru akuntansi. Masih ada beberapa pelajaran lain yang sampai sekarang saya masih "trauma" hanya karena alasan yang sebenarnya sepele : gurunya nggak enakeun ngajarnya. Ada yang pernah mengalami hal yang sama? Haha..

Nah, dari buku ini saya mendapat cara pandang baru dari dunia pendidikan. Pada HS/HE, yang menjadi pusat adalah anak, bukan pendidik. Dan pendidik, yaitu orang tua, bukanlah orang yang paling mengetahui segala sesuatu, tapi lebih ke motivator dan inspirator. Anak diberi kebebasan dan kesempatan seluas-luasnya untuk bereksplorasi tentang suatu materi pelajaran. Dan asyiknya, pada HS/HE, orangtua bebas memilih metode apa yang cocok untuk anaknya. Misalnya, Ahza kan anaknya kinestetik taktil. Dia lebih cenderung sedang belajar dengan metode gerakan, merasakan langsung, perabaan atau praktek. Nah, bisa banget tuh di HS/HE menggunakan metode pelajaran yang disesuaikan dengan kondisi anak. 

Menurut saya, di sinilah kelebihan HS/HE dibandingkan sekolah. Di sekolah, semua dipukul rata, metode yang dipakai sama, guru berceramah di depan kelas dan anak-anak mendengarkan serta mencatat. Anak-anak kinestetik seperti Ahza yang cenderung nggak bisa diam akan dicap sebagai anak nakal karena tidak bisa diam dan mungkin mengganggu temannya. Sudah banyak contohnya kan yang seperti ini? Saudara dan teman saya juga ada yang pernah mengalaminya. Mereka dicap nakal, dimaki-maki guru, nggak naik kelas bahkan harus pindah sekolah berkali-kali sebelum orangtuanya sadar bahwa anaknya memerlukan metode pembelajaran lain yang berbeda dengan di sekolah pada umumnya. Seperti saudara saya, akhirnya dia dimasukkan ke sekolah alam di bagian utara Bandung. Dan viola! Terakhir saya bertemu dengan anak tersebut -yang tadinya bandelnya nggak ketulungan-, dia sudah lebih tenang, bisa duduk diam, bahkan bisa ngasuh Ahza. Tubuhnya yang tadinya kurus juga sudah lebih berisi. Ibunya bercerita, bahwa di sekolah alam, dia lebih banyak aktif dan diharuskan menghabiskan makanan. Ketika sampai rumah, anak sudah tidak punya tenaga untuk 'nakal' dan badannya pun lebih berisi karena makan sehat dan rutin.

Setelah membaca buku Pak Sumardiono ini, ada pertanyaan yang mengusik saya, terkait dengan kondisi saya sebagai single moms. Jika pada HS/HE dibutuhkan kehadiran orang tua sebagai pendidik, bagaimana dengan kondisi orang tua tunggal? Saat ini saya memang belum bekerja karena masih menyelesaikan kuliah saya. Namun, setelah sidang, saya akan segera mencari pekerjaan. Mengapa nggak kerja dari rumah aja? Sudah dua tahun ini saya melakoni hal tersebut dengan jualan online atau membantu membuat laporan keuangan atau menerima tawaran job review. Namun semua itu tidak bisa memenuhi kebutuhan Ahza. Saya ingin punya tabungan untuk Ahza dan saya. Minimal, kalau ada apa-apa, saya punya uang simpanan, yang mana sangat sulit untuk saya penuhi saat ini. Nah, dengan kondisi kerja di luar rumah, apakah mungkin orang tua dapat melaksanakan HS/HE dengan anak-anaknya? Jika memang memungkinkan, bagaimanakah caranya? Anggap saja saya bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, belum ditambah perjalanan. Mungkin saya hanya sempat bertemu Ahza di malam hari sebelum tidur. Nah, bagaimana cara memberikan Ahza 'pelajaran' di waktu-waktu kritis tersebut? Lalu, apabila tidak memungkinkan, apakah ada cara lain yang memungkinkan saya tetap bisa belajar bersama Ahza? Mungkin pada saat weekend? Ah, mungkin keinginan saya terlalu tinggi. Mungkin kami memang harus menjadi salah satu konsumen sekolah di Indonesia.

Saya membaca buku ini di perjalanan pulang dan pergi dari sebuah interview pekerjaan, beberapa hari yang lalu. Dan jujur saja, hari itu menjadi hari yang berat untuk saya, lahir dan batin. Secara fisik melelahkan karena lokasinya yang jauh dari rumah. Lumayan sih, 14 km kalau liat di aplikasi Gojek mah. Hehehe.. Dan juga batin saya lelah. Bagaimana tidak? Setelah di perjalanan saya membaca buku ini, timbul percik-percik api semangat untuk dapat mempraktekkannya dengan Ahza suatu saat nanti. Betapa saya sangat antusias dengan metode ini yang memungkinkan kami bisa mengeksplorasi minat dan bakat tanpa batasan-batasan mengganggu yang seringkali hadir di sekolah. Namun, ketika saya berada di ruang interview dan menunggu interviewer, saya ingin menangis. Rasanya air mata sudah bergelayut di mata, namun saya seka dan tahan-tahan karena nggak lucu banget kan kalau saya kegeplagi nangis. Hehehe.. Kenapa saya sedih? Nggak tega aja ngebayangin nanti bakal pisah seharian sama Ahza. Setelah 2 tahun ini hampir selalu bareng-bareng terus 24 jam. Sediiih.. Tapi saya harus bisa, harus tegar. Karena saya adalah kepala keluarga di keluarga kecil kami.

Sepertinya masalah pendidikan ini kembali saya serahkan ke sekolah. Namun saya berjanji, akan memberikan Ahza kesempatan untuk bisa mengembangkan bakatnya seluas-luasnya dan mencari sekolah yang paling pas dengan metode belajar Ahza. Pun, saya berjanji untuk mempersembahkan semua waktu saya di rumah untuk belajar bersama Ahza. Aamiin..

Ah, sekian curhat saya. Panjang bener ya. Hehehehehe.. Maaf ini curhatan menye-menye cengeng banget zzzz..

Ah iya, sepertinya saya akan membuat tulisan-tulisan serupa dengan hestek #HappySingleMom yang berisikan curhatan saya dalam melihat sesuatu dari sudut pandang seorang single mom :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

-------

Saya mendapatkan masukkan dari ibu-ibu hebat di komunitas Single Moms Indonesia yang sangat mencerahkan, sengaja saya salin di sini supaya bisa saya baca-baca lagi kalau nanti diperlukan. Makasih yaa buibu, peluk sayang :)

Dari Mama Eryka Dwi Surya Purnama
Dessy, tulisannya bagus sekali. Pasti Ibu2 disini banyak yang mengalami pengalaman yang sama. Tapi kembali lagi ke keadaan masing2, ada yang secara finansial bisa mensupport anak2 tanpa harus bekerja full time dikantor (misalnya ada yang punya bisnis dirumah dll), ada juga yang harus bekerja kantoran dan tidak bisa bersama anak 24/7. Menurut saya first thing first, disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan masing2 keluarga karena ga ada yang salah dan benar dalam hal ini. Saya yakin apapun keputusannya mudah2an utk kebaikan anak juga.

Dari Mama Rika Setiawan
Salam kenal Mbak Dessy. Nama sy Rika. Terenyuh bgt yah baca tulisan Mbak Dessy keliatan skl kasih sayang dan perhatian Mbak yg sgt besar kpd Ahza. Sy dulu adl seorg idealis dmn sy merasa seorg Ibu hrs selalu hadir & mandapingi anak2 nya apalg stl join salah 1 seminar yg menyatakan untuk anak2 usia dini yg dibutuhkan adl quantity time krn mereka blm memahami quality time. Rasanya kok jleb bgt lgs nusuk ke hati. Eh gak lama terjadilah perceraian sy dmn skrg sy hrs bekerja full time krn sang Bpk yg tdk mau bertanggung jawab scr financial sm skl. HS adl konsep yg sgt baik namun sbg single working parent HS adl sesuatu yg imposible u/ diterapkan. Sigh seandainya sy bs membelah diri. Smp skrg pun (anak2 sy usia 8 th dan 10 th) sy tdk yakin apakah hal2 yg sy lakukan u/ mereka cukup bs dinyatakan sbg seorg Ibu yg baik. Anyways sy cuma mau sharing aja sih tips2 yg saya lakukan untuk anak2 sy, semoga walau sdkt bs membantu:
1.walau bekerja tetap usahakan komunikasi maksimal dmn sy melakukan nya dlm bbg bentuk spt menulis di post it note yg berbentuk lucu & warna-i sapaan cinta yg pendek ke mereka sblm sy pergi kerja atau saat kita pulang mereka sudah tertidur & kitanya sudah hrs pergi lg sblm mereka bangun pagi, kata2 yg simple sj spt I love you, You mean the world to me, Thank you for being in my life dan gambar2 lucu simple diri kita masing2 (skrg mereka jg melakukan hal yg sama ke sy), dr kantor sy suka menelp mereka bila sempat namun saat mereka lbh kecil nampaknya mengirimkan voice note yg pendek atau video kita lbh efektif. Skrg anak2 sy sudah terbiasa mengirimkan video2 pendek kegiatan mereka atau simple voice note simply to let me know how they do 
2. Wajib ada rutin dlm apapun yg disetujui bersama. Jd sy sm anak2 membuat janji rutin dmn stp malam entah sy bacakan mereka cerita kesukaan mereka masing2, membicarakan achievements ataupun mslh di sekolah mereka bahkan di kerjaan sy (spy komunikasi 2 arah) ataupun doa harian, sebulan sekali kita mengadakan activity outdoor and di google bersama tempat yg sama2 disetujui, mengadakan family movie night stp hari Jumat, les melukis stp sabtu sore dg anak perempuan saya dan berolah raga (apapun itu jg) as a family stp hari minggu, seminggu 1-2× pasti sy menyempatkan mengantar anak2 kesekolah lalu lgs ke kantor
3. Walau sesibuk apapun sy sgt terlibat dlm urusan sekolah mereka, sy menjalin komunikasi yg baik dg guru kelas mereka (tentunya menjelaskan status kita dan potential kendala yg dihadapi krn kita adl single parent), me-lobby smp dpt no telp pribadi mereka haha, berkenalan dg kepsek, selalu berusaha hadir dlm stp kegiatan/performance anak2 disekolah.
4.Cara sy mendidik anak2 saat mereka lbh kecil adl melalui dongeng. Kebetulan anak sy yg kecil itu agak sulit berbagi alias pelit, sy akan mengajarkan value u/ berbagi lwt dongeng misal nya cerita "si landak yg pelit" dan dampaknya thd si landak krn tdk mau berbagi-sy jrg memarahi anak apalg kita working moms yg cuma punya waktu terbatas dg anak kita masak mau dihabiskan u/ marah2, anak sy yg besar menyukai hal2 yg logis dan berhub dg science jd kdg srg saya bawakan pulang berita2 singkat dr koran atau majalah yg berhub dg interest nya.
5.bnyk membelikan buku2 terutama yg berhubungan dg self improvement. Sy hampir tdk pernah membelikan mereka mainan tp mereka memiliki koleksi buku yg lumayan. Kdg mslh dg meminta anak rajin menggosok gigi stl diberikan buku dg judul "going to the dentist" anak2 menjadi lbh coorperative 
6. Tips ini simple tp sesering mungkin lah menyentuh anak2 kita scr fisik entah itu membelai, memeluk atau mencium and alway tell them how much you love them and how precious they are to you every single day. 
7. Ajarkan mereka sjk dini u/ bs membedakan wants and needs. Ini sgt penting terlebih kita sbg single parent cenderung merasa bersalah dan berakhir dg memanjakan anak2 kita dg hal2 yg tdk tepat. Contoh (krn anak2 sy sudah cukup besar) sy biasakan bila mereka menginginkan sesuatu mereka hrs memikirkan setidak nya 3 hal yg bs meyakinkan sy knp mereka "perlu" bukan sekedar "mau" atas brg tsbt.
8.Sy biasakan anak2 turut berperan serta dlm mengeluarkan biaya thd brg2 yg dipakai sbg keluarga, contoh anak2 meminta sy membelikan mereka trampoline. Mereka sudah memberikan 3 alasan yg tepat: 1. Mereka bs berolah raga 2. Melompat bs menguatkan tulang 3. Bersosialisasi dg teman bkn dg game tp olah raga 4. Mama bs lbh sehat jg hahaha. Lalu sy minta kontribusi dr uang jajan mereka u/ membeli trampoline itu ssdkt apapun jumlah yg mereka berikan.
9. Beramal bersama scr berkala. Stp ada kesempatan atau hari libur sy mengajak mereka ke panti asuhan atau yg sejenis nya (yysan kanker anak indonesia, yysan down syndrome, panti jompo) dan berkegiatan bersama disana tdk hanya menyumbangkan materi sj. 
10. The best gift you could give your kids is to be yourself. Be honest and happy about who you are. That you are not perfect but you always try your best for yourself, for them and for the society.
Sekiranya sekian sharing dr sy, semoga bs membantu.

7 comments :

  1. Sebenarnya apa saja kelebihan home schooling ya mbak?

    ReplyDelete
  2. aku kan home school yah, kalau menurutku sih, buat yang khawatir aja tentang pendidikan indo yang bebas banget yah, trus kl home school bisa lebih kepantau aja, sebenernya sih dua-duanya ada plus minus nya, itu aja sih, mungkin bisa membantu

    ReplyDelete
  3. saya belum terllau paham dg konsep HS mba

    ReplyDelete
  4. ustad saya pendidikanya cm smpai SD tapi pola pikir dan pemikiranya sangat jauh sekali dari yang sarjana, setelah saya tanya2 lebih dalam ternyata beliau lebih mementingkan aqidah dan ahlaq yang membuatnya lebih memahami ilmu dunia dan akhirat

    ReplyDelete
  5. Bagaimana kalau anak tidak mau di ajak belajar ilmu aqidah, sedangkah usianya sudah beranjak 13 tahun?? makasih

    ReplyDelete
  6. homeschooling bagus hnya sebagai syarat aja memiliki pendidikan formal, biar bisa blajar ilmu agama lebih dalam lagi

    ReplyDelete
  7. anak seperti kaca berdebu, jangan terlalu keras membersihkannya juga jangan terlalu lembut :)

    nice post, thanks mom :)

    ReplyDelete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...