March 11, 2016

Berkunjung ke Kantor Pos Besar Bandung



Awalnya, hari ini saya nggak ada rencana untuk pergi. Rencananya mau di rumah aja, beres-beres dan ngelengkapin perlengkapan tesis. Menjelang jam 10, nyonya negara alias mama bilang mau ke Kantor Pos Besar di Alun-Alun Bandung. Sebenernya saya suka nggak tega kalau mama pergi sendiri ngangkot, tapi kan mau nganterin juga saya belum lancar nyetirnya. Huhu.. Jadilah saya menawarkan diri untuk pergi ke Alun-Alun Bandung pakai angkot. Dan inilah pengalaman pertama saya ke Kantor Pos Besar Bandung.. :D


Perjalanan diawali dengan kebakaran truk di depan kantor Samsat Bandung.
Sereemm.. Apinya besar dan sempat bikin panik pengguna jalan.
Untungnya dengan cepat api bisa dipadamkan dan jalanan kembali normal walaupun tersendat.

Kantor Pos Besar Bandung berada di Jalan Asia Afrika, tepat berada di Alun-Alun Kota Bandung di seberang Mesjid Agung Bandung. Untuk mencapainya, saya harus menggunakan bis supaya bisa sampai tepat di lokasi, nggak usah jalan kaki atau berganti-ganti kendaraan lain.

Di Jalan Jakarta saya menaiki bis baru pengganti bis Damri yang butut itu. Alhamdulillah kondisi aman dan nyaman. Full AC. ACnya malah dingin banget buat saya. Untuk rute yang saya naiki ini, ongkosnya Rp. 4.000 jauh dekat. Wah, lumayan banget ya.. :)

Akhirnya kesampean juga naik bis ini. Aye Aye..

Nggak pakai lama akhirnya sampailah saya di Alun-Alun Kota Bandung tercinta yang berhasil disulap oleh Kang Emil menjadi cantik. Untuk haltenya, di sepanjang halte ada huruf besar-besar : ALUN-ALUN BANDUNG menggunakan warna merah dan putih. Di depan huruf raksasa itu disediakan bangku untuk menunggu dan ada ayunannya juga lho.

Halte Alun-Alun Bandung

Karena Kantor Pos Besar ada di seberang Alun-Alun Bandung tempat bis saya berhenti, otomatis saya harus menyebrangi jalan. Selain saya suka takut kalau mau nyebrang, di sini pun memang tidak ada yang nyebrang di jalan, jadilah akhirnya saya menggunakan jembatan penyebrangan yang tersedia.

Ada spanduk berisi apresiasi masyarakat akan keputusan Kang Emil untuk menyelesaikan amanah di Kota Bandung 

Alun-Alun Kota Bandung dari atas jembatan

OOh.. ternyata ini toh Kantor Pos Besar yang dimaksud mama. Biasanya, jika hari libur, halaman Kantor Pos sering digunakan bis-bis wisata untuk parkir. Seperti namanya, kantor pos ini memang besaaar dan termasuk ke dalam bangunan bersejarah di Kota Bandung. Bangunan yang diarsiteki oleh J Van Gendt, arsitek asal Belanda, sudah dalam bentuk seperti ini sejak tahun 1928 dan tidak pernah berubah. Wah, masih asli seasli-aslinya yah..

Ini dia potret Kantor Pos Besar Bandung zaman dahulu dan zaman sekarang :)

Dahulu
Sumber : infobdg.com

Sekarang
Sumber : infobdg.com

Ada fakta unik yang melekat pada gedung ini. Saat terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, gedung ini pun sempat akan dibakar oleh pegawai Kantor Pos. Namun hal tersebut tidak pernah berhasil. Bensin yang diguyur malah semakin membuat marmer di gedung ini semakin kinclong. Hehehe.. Gedung ini juga merupakan bangunan yang sangat kokoh. Konon katanya, bangunan ini akan sangat sulit jika diruntuhkan karena pada loket-loketnya dipasangi besi dan kawat serta dinding beton dan langit-langit ruangan yang tinggi. Wow..

Di halaman parkir ada semacam tugu yang di atasnya ada bola dunia.
Sepertinya masih berhubungan dengan perayaan Konferensi Asia Afrika tahun lalu.

Salah satu kotak pos peninggalan Belanda yang disimpan di tengah-tengah ruangan Kantor Pos Besar Bandung

Oia, di sini jug ada sudut khusus untuk filateli alias hobi mengoleksi perangko. Saya juga dulu suka ngoleksi perangko lho. Tapi nggak tau sekarang di mana. Huhu..

Ada koleksi terbaru dari perangko di Kantor Pos Besar Bandung ini yang bertema Gerhana Matahari Total 2016 seharga Rp. 72.000 per pak. Belum lagi koleksi lain, seperti Wonderful Indonesia yang menurut saya wajib dikoleksi oleh para kolektor perangko.

Banner Perangko Gerhana Matahari Total

Sekarang perangko pun ada aplikasi Augmented Realitynya. Keren bangeeett...

Tujuan saya ke Kantor Pos Besar adalah untuk melakukan legalisasi dari fotokopi dokumen-dokumen mama. Ternyata prosesnya sangat mudah. Ada satu loket yang khusus melayani legalisir dokumen, sehingga kita tidak perlu ikut mengantri dengan konsumen yang lain. Di loket, petugas akan menanyakan apakah dokumen sudah dilengkapi dengan materai atau belum. Jika belum, materai bisa dibeli di sini sekaligus ditempelkan oleh petugas. Dan kita cukup membayar biaya materai seharga Rp. 6.000 per materai saja, sedangkan untuk legalisirnya gratis. Asyik!

Misi selesai. Yeay..

Sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, saya berkunjung ke Mesjid Agung Bandung yang masih berlokasi di Alun-Alun karena kebetulan adzan Dzuhur sedang berkumandang saat saya keluar dari Kantor Pos Besar.

Saat selesai shalat, ternyata hujan turun dengan deras sehingga saya memutuskan untuk tinggal sejenak di dalam mesjid sambil mendengarkan Kuliah Ma'rifatullah yang disediakan untuk umum. Wah, sudah lama sekali nggak menghadiri majelis ilmu seperti ini. Kangen.. :(

Mesjid dipenuhi anak-anak sekolah yang akan melaksanakan shalat Dzuhur di mesjid.

Rehat sejenak menunggu hujan sambil mendengar kuliah dari pak haji..

Akhirnya hujan mereda. Saya pun melangkah keluar  dari mesjid. Semoga bisa shalat di sini lagi yaa.. Aamiin..

Di luar mesjid, terdapat taman Alun-Alun yang dialasi dengan rumput sintetis atau rumput buatan. Taman yang luas buanget ini nggak pernah sepi dari pengunjung apalagi jika hari libur datang. Banyak orangtua yang mengajak anak-anak bermain di sini. Namun karena baru saja turun hujan, taman hanya dipakai oleh sekelompok anak SMP yang bermain bola. Seru banget yah..

Untuk menggunakan fasilitas taman ini juga harus disiplin. Seperti alas kaki yang harus dimasukkan ke plastik atau disimpan rapi, tidak boleh ditaruh di rumput. Pun kita tidak boleh membuang sampah sembarangan. Ada petugas keamanan yang selalu mengawasi para pengunjung taman dan akan menegur dengan toa jika ada yang melanggar. Hehehe..

Pemandangan cantik siang ini

Bis yang akan saya gunakan ternyata masih belum lewat dan saya harus menunggu bersama penumpang yang lain di halte Alun-Alun Bandung. Udara yang dingin dan perut kosong membuat saya "kabita" saat melihat ketan bakar. Hmmm.. Ketan bakar ini dibelah dan diisi oncom dan serundeng. Rasanya? Enaaak.. Apalagi udara sedang dingin dan ketan bakar masih panas, berasa ada di Lembang atau di Puncak Bogor. Hehehe..

Ketan bakar menjadi makan siang saya hari ini. Nyaaam!
Ah, memang nggak pernah bosan menjelajah Bandung di sudut-sudut bersejarah seperti tempat-tempat yang saya datangi hari ini. Untuk para penggemar wisata sejarah, Bandung bisa dijadikan pilihan yang baik untuk berkunjung, karena kota ini memiliki banyak sekali bangunan bersejarah yang menarik dikunjungi.

Saya tunggu kunjungannya ke Bandung yaa :)

Salam dari kota kembang,
-Si Ibu Jerapah-

8 comments :

  1. Cobain berkunjung ke museum pos indonesia jg teh ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya teh.. itu mah deket banget dari rumah.. favorit banget :)

      Delete
  2. saya tahun lalu sering banget kemari, hampir setiap minggu, prangkonya paling lengkap soalnya :D

    ReplyDelete
  3. Gedungnya keren ya, bener2 terlihat dirawat dan dijaga

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbae.. ini pertama kali ke sini dan ternyata ga horor. rapi, bersih dan terawat :)

      Delete
  4. kantor pos nya sudah maju tidak seperti jaman dulu.
    ramai juga ya di bandung, ingin rasanya ke sana menginjakkan kaki melihat indahnya kota.

    ReplyDelete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...