February 09, 2016

Putih Abu dalam Ingatan


Tiada masa paling indah..
Masa-masa di sekolah..
Tiada kisah paling indah..
Kisah kasih di sekolah..
Eaa.. Siapa yang setuju dengan lirik lagu Alm. Chrisye ini? Aku sih iyes :D

Di kantor, teman-teman banyak yang berpendapat kalau masa-masa yang paling seru itu waktu kuliah. Bebas bisa ngapain aja dan berekspresi. Seru bisa main ke sana-ke sini dengan teman-teman. Dan berbagai alasan lainnya.

Buat saya, masa-masa paling seru dan tak terlupakan di hidup saya justru ada di masa-masa putih abu, alias masa SMA dulu. Bahkan, masa-masa di SMA ini membawa dampak yang cukup besar untuk hidup saya sampai saat ini.


-----

Setelah menerima nilai UAN SMP, orang yang paling heboh adalah mama. Mama langsung heboh menentukan sekolah mana yang akan dijadikan pilihan saya untuk melanjutkan pendidikan. Saya? Dengan santainya bilang ke mama, "Udah ma, aku mau masuk SMAnya Tita (kakak saya) aja. Kan enak, ada di Dago. Biar gaul kayak Tita."

Ya, pertimbangan saya saat itu adalah hanya ingin bersekolah di tempat yang bisa menjadikan saya anak gaul. Maklum, waktu SMP saya cupu. Baju kegedean, pakai kacamata, rambut selalu diiket, yaa gitu lah. Hehehehe..

Keinginan saya ditolak keras-keras oleh mama. Alasannya, karena nilai saya cukup tinggi untuk bisa masuk ke sekolah unggulan di kota kami. Dan mama pun nggak terima kalau nilai saya dikorbankan begitu saja demi karena keinginan untuk menjadi anak gaul. Ih, si mama mah! Misuh-misuh dalam hati.

Akhirnya, saya (tentunya di bawah pengawasan mama) mengisi formulir isian sekolah dengan mengisi nama sekolah unggulan di kota kami sebagai pilihan pertama dan sekolah yang cukup bagus yang terletak di dekat ruma sebagai pilihan kedua. Saya pasrah. Pikir saya waktu itu, Ah, ya sudahlah terserah mama. Toh nanti kalau nggak keterima, mama juga yang sedih. Hehehe. Memang, saya kurang PD untuk memilih sekolah unggulan tersebut. Sekolah tersebut dikenal dengan murid-muridnya yang kutu buku dan pintar, bahkan sejak zaman orang tua saya dulu.

Hari pengumuman pun tiba, ternyata saya diterima masuk ke sekolah tersebut. Ayeee.. Alhamdulillah.. Mama luar biasa senang dan bangga, begitupun dengan papa dan anggota keluarga yang lain. Maklum, saya anggota keluarga pertama dan satu-satunya (sampai saat ini) yang diterima di sana. *kibas jilbab dulu*

Entahlah, sepertinya saya hanya beruntung. Atau, inikah keajaiban doa seorang ibu?

-----

Yang dinanti pun tiba, menjadi anak SMA. Lengkap dengan perintilannya : PR yang banyak dan ujian yang sulit. Dua hal yang identik sekali dengan sekolah saya. Hehehe..

Sekolahku dulu. Sumber: rinaldimunir.wordpress.com
Setelah sempat kesal karena nggak bisa masuk SMA gaul, saya pun akhirnya merasa senang masuk ke sini setelah menyaksikan sesuatu. Ya, saat itu sedang ada penampilan ekstrakulikuler pada saat ospek. Dari beberapa ekstrakulikuler yang menampilkan karyanya, ada satu ekstrakulikuler yang berhasil mencuri hati saya. Dia adalah Keluarga Paduan Angklung 3 (KPA 3).

Saat itu, kebetulan, mereka membawakan lagu favorit saya (You'll be in My Heart-nya Phill Collins) dalam aransemen angklung yang anggun dan membahana. Terpincut lah saya, lahir dan batin. Akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftar menjadi anggota KPA 3.

Singkat cerita, setelah menjalani masa perkenalan, saya menjadi bagian dari tim festival, sebuah tim yang diberikan tanggung jawab untuk mengikuti lomba paduan angklung yang diadakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat itu, kami selalu sibuk berlatih karena kami harus mampu membawakan tiga lagu dengan sempurna agar bisa memenangkan lomba. Waktu itu, selain memegang beberapa angklung seperti teman-teman lain, saya juga diberikan tanggung jawab untuk memegang cuk (sejenis angklung namun lebih banyak dan menjadi alat pendukung tim).

Alhamdulillah, tim kami berhasil memenangkan lomba dengan membawa pulang piala juara kedua. Sangat bangga. Itulah yang kami rasakan, karena untuk tim yang baru dibentuk beberapa bulan, kami mampu mendapatkan juara kedua dengan membawakan lagu yang biasa dibilang cukup sulit untuk kami. Hore!

Dan ternyata, kemenangan kami dan kerajinan saya berlatih membawa saya ke Eropa. Lho kok bisa? Iya, bisa banget.. Beberapa bulan setelah festival, KPA 3 mengadakan seleksi untuk menjaring anggotanya dalam rangka pelaksanaan Expand the Sound of Angklung (ESA) 2004. ESA sebelumnya, berkesempatan untuk memperkenalkan angklung ke Eropa dan berhasil memenangkan beberapa kompetisi di sana. Dan rencananya, ESA 2004 ini akan mengunjungi enam negara di Eropa dan mengikuti beberapa kompetisi untuk memperkenalkan angklung ke lebih banyak lagi masyarakat dunia. Sungguh kesempatan yang sangat berharga sekali.

Awalnya saya iseng-iseng ngarep berhadiah ikut seleksinya. Toh, siapa lah saya? Anak cupu yang skillnya pas-pasan.. *ini serius* Nyanyi fals, nari nggak bisa, bahasa Inggris blah bloh. Ya semacam itulah. Tapi, karena niatnya nothing to lose, jadi ya enjoy-enjoy aja melalui seleksinya. Tapi, ternyata pelatih saya di tim festival memberikan saya rekomendasi (saya juga sebenarnya bingung karena apa). Dan akhirnya, saya terpilih menjadi satu dari 25 anak yang akan membawa misi mulia ke Eropa. Alhamdulillah..

Dari situ, kehidupan -anak kelas 1 SMA- saya berubah. Pagi sampai siang, mengikuti pelajaran seperti biasa. Siang sampai sore bahkan malam, mengikuti latihan angklung. Weekend, datang ke sekolah untuk mengikuti latihan vokal, olahraga dan latihan angklung. Di sela-sela waktu istirahat pun, saya pergunakan untuk menghubungi alumni dan calon sponsor dalam rangka mencari dana untuk misi kami. Ya, memang setiap anak diwajibkan untuk ikut serta dalam mencari dana karena kami memang tidak dibiayai siapapun untuk program ini.

Begituuu terus sampai kira-kira enam bulan ke depan.

Jatuh bangun kami lakukan dalam banyak hal. Berlatih banyak lagu. Berlatih nyanyi. Berlatih ini itu. Mencari uang.
Belum lagi, PR dan ujian yang level kesulitannya bisa dibilang di atas rata-rata sekolah lain.
Hal ini tentunya membuat semangat kami diuji. Namun, alhamdulillah, kami semua bisa menghadapinya. Akhirnya kami mendapatkan sponsor, walaupun tidak 100%.


Singkat cerita. Sampailah di bulan Juli 2004. Bulan di mana kami akan menorehkan sejarah hidup kami di benua nun jauh di sana. Tempat yang selama ini hanya bisa saya bayangkan lewat novel Lima Sekawan: EROPA. Namun, ada masalah di sini. Kami hanya memiliki dana untuk tiket pergi saya. Kami belum mempunya dana untuk transportasi di sana, biaya kompetisi dan tiket pulang. Wah, bagaimana ini? Namun, para alumni meyakinkan kami bahwa kami bisa menggalang dana di sana dengan menjual suvenir yang kami bawa dari Indonesia serta berharap bantuan dari WNI yang berada di sana. Menyedihkan? Iya, ini kisah nyata.

Akhirnya, berangkatlah kami. Dan berhasil mengunjungi enam negara dan belasan kota di Eropa. Dan ajaibnya, bisa pulang ke Indonesia dengan selamat.

Berfoto sebelum meninggalkan Aberdeen, UK
Kami berhasil menghimpun dana sehingga kami bisa pulang ke Indonesia. Namun, ternyata kami masih meninggalkan beberapa utang kepada penyelenggara kompetisi di Inggris. Utang yang cukup besar. Dan karenanya, kami harus rela mencari dana lagi di Indonesia. Namun, takdir berkata lain. Tahun itu Indonesia dilanda bencara super dahsyat : Tsunami di Aceh. Karena itulah, akhirnya pihak kompetisi di Inggris memutihkan utang kami sebagai bentuk belasungkawa terhadap apa yang terjadi di Indonesia. Karena itulah, sampai saat ini saya selalu teringat jika hari peringatan tsunami itu datang. Ternyata, ada hikmah di setiap apa yang digariskan Allah. Termasuk bencana ini. Ada hikmah yang bisa kami ambil manfaatnya.

Dari situlah saya mempelajari banyak hal yang mempengaruhi hidup saya sampai saat ini. Salah satunya adalah prinsip saya:
Kalau belum dicoba, mana tau hasilnya seperti apa? Coba saja dulu, rezeki itu sudah ada yang mengatur. Jangan sampai takut ketuker dengan orang lain.
Dari prinsip ini, saya belajar bahwa jangan pernah takut untuk mencoba. Apalagi mencoba sesuatu yang akan membawa manfaat untuk hidup kita. Saya mencoba mempraktekkan ini ketika saya SPMB (nekat memilih jurusan yang melampaui kemampuan saya), mencoba apply beasiswa favorit anak sekuliahan atau mencoba melamar pekerjaan ke tempat impian. Semua saya coba, ada yang berhasil dan ada pula yang gagal. Jika berhasil, alhamdulillah. Namun, jika gagal, saya mencoba untuk tidak lama-lama terpuruk karena saya yakin bahwa rezeki saya sudah ada namun mungkin ini jalannya.

Alhamdulillah, saya bisa bersekolah di tempat yang baik, dikelilingi orang-orang yang baik dan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif.

Masa-masa putih abu saya adalah masa-masa terindah dalam hidup saya.
Masa-masa yang banyak memberikan pengalaman berharga.

Ini nostalgia putih abu saya.
Kalau kamu?

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway Nostalgia Putih-Abu 

-----

10 comments :

  1. kereeen mbk! udh nginjakin kaki kw eropa. iyaa, intinya harus berani mencoba. dimana ada kemaun, disitu pasti ada jalan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul mba..
      jangan pernah takut untuk mewujudkan mimpi, semangaattt!!!

      Delete
  2. Wah, jd 40 days in europe itu kisah nyata mbak dessy dkk?

    ReplyDelete
  3. aaa sampe dikirim ke yurop, kereeennnn....

    ReplyDelete
    Replies
    1. mba zata bisa ajaahhh...
      jadi enak.. *lho hihihi

      Delete
  4. setuju masa paling indah memang masa putih abu ^___^

    ReplyDelete
  5. Pengalaman yang paling berharga ketika pake seragam putih abu2 ya Mba.. Yang jelas kesempatan seperti itu gak mungkin datang duakali dalam hidup kita..

    ReplyDelete
  6. Waaah... keren banget deh sampe ke europe :D

    semoga menginspirasi anak SMA skrg biar berjuang dg passion-nya, ga cuma ngurusin hura-hura. hehe

    makasih banyak Mba.. ^^

    ReplyDelete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...