Inspirasi Mompreneur: Menebarkan Kebaikan Lewat Usaha


Awal mula saya mengenal Mbak Uti adalah ketika saya menjadi admin kegiatan saling promote di sebuah komunitas onlineshop. Saat itu Mbak Uti belum menjadi anggota komunitas saya, tapi karena biasanya setelah kegiatan selalu saja ada anggota baru, hari itu kami kedatangan beberapa anggota baru dan Mbak Uti adalah salah satunya.
Akun instagram @rifarakids milik Mbak Uti
Salah satu keisengan saya di saat luang adalah "ngepoin" akun-akun instagram milik anggota komunitas untuk memantau bagaimana perkembangan jualan atau jumlah followernya atau sekedar ingin tau barang apa saja yang dijual oleh para anggota (yaa siapa tau ada yang nyantol haha). Setelah beberapa bulan menjadi anggota komunitas, saya melihat bahwa onlineshop Mbak Uti ini majunya pesat sekali. Ini saya lihat dari jumlah reseller yang dimiliki Mbak Uti. Dalam beberapa bulan ia bisa memiliki reseller dengan jumlah yang cukup banyak dan ternyata dia membuat sendiri produk-produk yang dijualnya. Dari situlah saya memutuskan untuk mengundang Mbak Uti untuk berbagi kisah onlineshopnya untuk teman-teman di komunitas supaya bisa menginspirasi anggota yang lain. Sharing ini memang rutin kami lakukan supaya semua anggota komunitas dapat berkembang dan bisa saling menginspirasi.

Sharing malam itu berhasil membuat kami, para ibu-ibu galau peserta sharing, terbakar semangatnya karena sharing yang diberikan oleh Mbak Uti. Saya pun ingin memberikan semangat itu kepada ibu-ibu yang lain. Semoga 'terbakar' juga ya.. :)

Rumahnya Sudah Mau Roboh, Tapi Ia Tetap Rela Bekerja untuk Pendidikan Anak-anaknya

Sebelum memulai usahanya sekarang, yaitu sebagai produsen jilbab anak, Mbak Uti terlebih dahulu berkecimpung dalam usaha kerajinan tangan yang terbuat dari kain flanel secara online pada tahun 2008. Namun, pada tahun 2012, beliau menyadari bahwa kerajinan tangan bukanlah produk yang rutin dibeli, bisa jadi hanya sesekali bahkan hanya sekali beli saja. Mbak Uti pun memutar otak agar usahanya terus berjalan dengan mempertahankan kerajinan flanel tersebut. Salah satu alasan untuk mempertahankan ibu-ibu pembuat topping (kerajinan flanel) yang menggantungkan hidupnya dari usaha Mbak Uti. Ibu tersebut harus membiayai putranya yang kuliah di luar negeri dan putrinya di pondok pesantren. Bayangkan! Dengan kondisi rumah yang masih menggunakan batako asli bahkan gentengnya sudah tidak beraturan dan hampir roboh, ibu tersebut rela bekerja apa saja demi membiayai pendidikan putra putrinya.

Keteguhan ibu tersebutlah yang akhirnya menginspirasi Mbak Uti untuk membuat jilbab anak bertopping karena jilbab akan menjadi aksesoris yang rutin dikenakan. Selain itu, dengan menjual jilbab anak juga berarti menyebarkan syariat Islam untuk mendidik anak belajar berhijab sejak dini.
Salah satu produk jilbab anak Rifara
Tapi ternyata jalan untuk memproduksi jilbab anak bertopping ini bukanlah jalan yang mulus. Mbak Uti sudah berganti penjahit sebanyak enam sampai tujuh kali sebelum bertemu dengan penjahit yang benar-benar cocok dengan Mbak Uti. Namun, setiap gagal, setiap itu pula Mbak Uti bangkit dan beralih ke handmade. Begitu terus sampai tahun 2014 pencarian Mbak Uti berakhir dengan bertemunya ia dengan penjahit yang bisa menjahit jilbab dengan cara yang berbeda dengan yang lain dan cocok dengan karakteristik jilbab bayi Mbak Uti. Hasil produksipun dijadikan display picture di BBM dan alhamdulillah, banyak yang tertarik dan memesan jilbab anak tersebut. Dari situlah awal mula perjalanan jilbab anak bertopping Rifara (akronim dari nama keempat anak Mbak Uti: Rizqi, Fauza, Rafa dan Afkar)

Mbak Uti menjadi pemenang Inspiring Womenpreneur Competition tahun 2013
Kontribusinya dalam memberdayakan perempuan untuk bekerja dan membuka peluang usaha untuk orang lain itulah yang akhirnya mengantarkan Mbak Uti menjadi pemenang pertama dari Inspiring Womenpreneur Competition pada tahun 2013 yang lalu. Dan pssst.. di tengah kesibukannya memproduksi jilbab anak Rifara dan melakukan pemasaran, ternyata ibu dari empat orang anak ini tidak memiliki asisten rumah tangga (ART) untuk mengurus rumah tangganya. Mungkin inilah sebenar-benarnya sosok full mom yang mengabdi pada keluarga dan juga menjadi ibu produktif seta bermanfaat bagi lingkungan.. Keren!

Jadi Produsen, Mengapa Tidak?

Banyak di antara kita yang takut untuk menjadi produsen.
"Ah, ga ada modal", "Takut produknya ga laku lalu rugi dong", "Duh, saya ga tau harus produksi apa.", dan banyak lagi alasan kita. Termasuk saya. Saya belum berani menjadi produsen. Karena memang modal pas-pasan, saya juga memang belum kepikiran harus memproduksi apa. Hehehe..

Namun, menurut Mbak Uti, mengapa harus ragu untuk menjadi produsen? Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh jika kita menjadi produsen.
  1. Produsen bisa mengambil laba sebesar apapun yang diinginkan (namun masih dalam batas kewajaran).
  2. Dengan menjadi produsen, kita bisa membuka lapangan pekerjaan untuk banyak orang.
  3. Kita bisa berkontribusi untuk masyarakat. Untuk kasus Mbak Uti, Mbak Uti bisa mengajak ibu muda yang ingin mengajarkan putrinya berhijab sejak dini untuk menciptakan generasi Islami.
Selain alasan-alasan di atas, dengan menjadi produsen juga kita bisa menciptakan produk yang sesuai dengan karakter kita. Membuat produk dengan branding baru yang unik dan belum ada di pasaran. Bukankah saat ini semua orang suka yang unik-unik? :)

Apa Saja yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Berproduksi

Nah, jika niat kita sudah bulat untuk menjadi produsen dan menciptakan produk kita sendiri, lantas apa yang harus dipertimbangkan sebelum mulai berproduksi? Atau langsung jedar jeder produksi ini itu? Tentu tidak.

Salah satu hal yang harus dipertimbangkan sebelum memulai berproduksi adalah menetapkan target market dari produk kita. Target market adalah kepada siapa produk yang kita produksi akan dijual. Kita juga harus menguji target market kita sebelum berproduksi besar-besaran. Produksi beberapa buah produk dan jual kepada target kita. Jika responnya baik, maka usaha tersebut layak untuk dikembangkan. Selain itu, kita harus menentukan bagaimana kualitas produk yang akan diproduksi (tinggi, cukup atau rendah), kapasitas produksi dan masih banyak lagi.

Memilih mitra usaha dalam menunjang produksi kita pun adalah hal yang sangat penting dan tidak mudah. Pilihlah mitra yang amanah, bertanggung jawab dan mau menerima kritik dan masukan dari kita. Untuk kasus Mbak Uti, beliau sudah ke sana ke sini mencari penjahit dan setelah mendapatkan penjahit yang pas di hati, kita harus paham betul tentang bentuk kerja sama dengan pihak kedua tersebut. Jangan lupa untuk menyiapkan Standar Prosedur Operasi (SPO) dan MOU dengan penjahit. Kedua hal ini sangat penting untuk keberlangsungan kerja sama dan kualitas dari produk yang dihasilkan oleh penjahit. Hal itu menjadi patokan penjahit dalam membuat produk yang sesuai dengan keinginan kita sebagai pencipta produk.

Yang pasti, kita harus memiliki mental yang kuat dan cukup ilmu yang berhubungan dengan apa yang akan kita produksi. Kita juga harus siap jika menghadapi kegagalan (yaa mudah-mudahan kita dilindungi dari kegagaln-kegagalan itu ya), karena kegagalan kan kesuksesan yang tertunda. Hehe..

Membangun Brand

Apa sih brand itu? Brand itu merek. Dan apa itu merek? Menurut para ahli, merek itu adalah...
Merek adalah nama, tanda, istilah, simbol, desain atau kombinasinya yang ditujukan untuk mengidentifikasi dan mendiferensiasi (membedakan) barang atau layanan suatu penjual dari barang atau layanan penjual lain (Simamora)
Merek adalah suatu nama, istilah, simbol, desain, atau gabungan keempatnya, yang mengidentifikasi produk para penjual dan membedakannya dari produk pesaing (Lamb, Hair, dan McDaniel)
Merek adalah suatu nama, kata, simbol, tanda, atau desain, atau kombinasi dari semuanya yang mengidentifikasi pembuat atau penjual produk dan jasa tertentu (Kotler)
Penting ga merek itu? Penting pake banget.
Bandingkan aja. Pilih tas merek Gucci atau merek Gucie? Walau beda-beda tipis, Princess Syahrini pasti akan milih Gucci. Kenapa? Iya dong, kan jaminan kualitas.
Dan, merek ini lah yang membedakan produk kita dari produk lain, bahkan produk yang sejenis. Merek ini akan menjadi citra dari produk kita sekaligus identitas produk.

Lantas, bagaimana Mbak Uti membangun brand Rifara?

Untuk kasus Mbak Uti, beliau membangun brand dengan perlahan-lahan, bertahun-tahun, dengan metode soft selling. Soft selling itu adalah jualan tapi ga kaya jualan (bingung ga? Hehehe). Mbak Uti sering membuat status di media sosial tentang kehidupannya, tentang latar belakangnya dan tentang cerita-cerita seperti ini..
Saya ini berasal dari keluarga miskin, bapak saya Rahimahullaah hanya seorang tukang becak, sejak kecil saya sdh bekerja untuk biaya sekolah saya sendiri.
Cerita-cerita polos dan apa adanya tersebut ternyata berhasil mencuri hari para konsumen. Menurut Mbak Uti, konsumen membeli jilbab Rifara bukan hanya karena bagus atau bukan karena sengaja ingin beli, tapi karena merasa termotivasi dari status-status yang ditulis olehnya. Ternyata branding yang dibuat Mbak Uti ini selain bisa menarik pembeli juga bisa bermanfaat dengan memotivasi orang lain ya..

Untuk masalah branding ini ternyata Mbak Uti tidak main-main, Rifara telah terdaftar pada lembaga terkait yang berhubungan dengan hak cipta produk di negeri ini. Hal ini dilakukannya karena Mbak Uti merasa bahwa merek adalah suatu aset yang penting bagi usahanya.

Bagaimana Menjual Produk?

Yang namanya produksi  itu biasanya punya kapasitas besar. Bukan hanya satu atau dua buah barang, tapi buanyaaakk.. Dan kayaknya akan lebih efisien dan menguntungkan jika memiliki sistem distribusi yang menunjang penjualan produk kita.

Syarat keagenan Rifara, berminat?
Dalam penjualannya, Rifara memiliki sistem distribusi berupa sistem keagenan yang terdiri dari distributor, agen dan subagen. Jadi, konsumen akan diarahkan untuk membeli ke agen atau distributor yang terdekat dengan konsumen tersebut. Selain hemat ongkos kirim, agen dan distributor juga akan diuntungkan dengan hal ini.


Dengan kata lain, saat ini Rifara hanya melayani pembelian grosir. Sedangkan untuk pembeli eceran langsung diarahkan ke agen atau distributor di wilayah konsumen. Kalau gini mah, enak banget ya. Setiap hari melayani pembelian grosir, plek langsung banyak. Untungnya juga banyak dong? Iya dong, makanya jadi produsen yuk. Hehehe..

Ini Rahasianya...

Ingin tetap konsisten dengan usaha walaupun harus mendaki gunung lewati lembah? Ingin bisa berhasil seperti Mbak Uti setelah melewati bertahun-tahun cobaan dalam berusaha?

Ini rahasia Mbak Uti:
Yang harus diingat saat jatuh bangun supaya tetap semangat adalah : 
"di dunia ini (segala sesuatunya) sudah ada yang mengatur, sebelum kita lahir, Allah sudah menuliskan jodoh, rizki dan lain-lain. Kalau sudah ditakdirkan sukses, Insya Allah kita sukses"  
Ikuti alurnya seperti air mengalir, pasrahkan kepada Allah, yang penting adalah kita sudah berusaha dan berdoa, selanjutnya Allah yang atur.
Allah dulu, Allah sekarang, Allah selamanya..
----- 
Sudah termotivasi untuk jadi produsen belum?
Yuk bersama-sama berkontribusi lebih banyak untuk keluarga dan negeri tercinta ini dengan menjadi mompreneur.

Salam sayang selalu,
-Si Ibu Jerapah-

-----

#odopfor99days #day22

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak