February 27, 2016

Bukan Bambu Biasa


Sampurasun...

Perkenalkan, saya Dessy, mojang asli Bandung.
Izinkan saya memperkenalkan alat musik tradisional kebanggaan kami, warga Jawa Barat..
Angklung..

Angklung: Asli Sunda Rasa Internasional

Angklung adalah alat musik yang terbuat dari bambu. Alat musik ini dikenal sejak abad ke-12 atau saat Kerajaan Sunda sedang berjaya di bumi nusantara. Awalnya, angklung adalah bagian yang tak terpisahkan dari ritual yang dilakukan untuk mengawali masa panen padi. Dengan memainkan angklung, rakyat berharap agar Dewi Sri tturun ke bumi dan memberikan kesuburan pada tanaman padi.

Pada zaman pendudukan Belanda di Indonesia, angklung sempat dilarang untuk dimainkan karena dianggap sebagai bentuk propaganda yang bisa menyulut semangat pemuda dan pejuang untuk melakukan pemberontakan. Angklung juga menjadi hiburan bagi para gerilyawan dengan memainkan lagu-lagu perjuangan.

Angklung dan para pemainnya di awal abad ke-20
Sumber : wikipedia



Seperti halnya alat musik lain, angklung juga memiliki beberapa jenis yang menghasilkan nada-nada berbeda. Awalnya, angklung yang digunakan pada masyarakat Sunda adalah angklung yang menghasilkan nada pentatonis atau nada-nada tradisional Sunda. Namun, pada perkembangannya, Bapak Daeng Soetigna (yang namanya digunakan untuk menamai jenis angklung ciptaannya) membuat sebuah inovasi yang sangat berpengaruh pada dunia keangklungan sampai saat ini. Pak Daeng menciptakan angklung diatonis yang menghasilkan nada-nada berstandar internasional atau yang bisa kita kenal sebagai do-re-mi-fa-dol-la-si. Angklung menjadi alat musik tradisional asli Indonesia yang bisa membawakan lagu-lagu internasional dan mampu memainkan berbagai genre musik.

Anatomi angklung diatonis karya Pak Daeng
Sumber : wikipedia

Dari situlah angklung mendapatkan tempat di berbagai event kebangsaan, seperti Perjanjian Linggarjati dan Konferensi Asia Afrika. Angklung menjadi salah satu alat perjuangan Indonesia di mata dunia internasional. Dan karena kekhasannya inilah, angklung menjadi salah satu benda yang wajib ada di setiap kantor kedutaan besar Indonesia di luar negeri. 

Dan tahukah kamu? Angklung adalah alat musik yang tepat untuk melatih kekompakan dan kedisiplinan tim, karena hanya tim yang solid dan disiplinlah yang bisa membawakan lagu-lagu dengan baik. Angklung memang bukan bambu biasa.. :)

---o---

Angklung : Bukan Sekedar Musik tetapi Inspirasi

Bagi saya, angklung bukan hanya alat musik kebanggaan Indonesia, namun lebih dari itu. Dalam hidup saya, ada masa-masa di mana angklung menjadi api semangat untuk menjalani kehidupan dengan cara yang baik. Dalam hidup saya, angklung pernah menjadi alasan untuk saya agar tidak mudah menyerah. Dalam hidup saya, angklung membuat saya berani untuk mencoba hal-hal baru yang menakutkan. Dan dalam hidup saya, angklung bisa membuat saya dan teman-teman saya rela melakukan apapun agar kami bisa memperkenalkan angklung kepada dunia.

Saya dan teman-teman tergabung dalam suatu kelompok duta kebudayaan yang bernama Expand the Sound of Angklung (ESA). Misi kami sederhana: memperkenalkan angklung kepada dunia. Misi sederhana dengan implementasi mati-matian.

Kami, yang waktu itu notabene pelajar SMA, dibantu oleh beberapa kakak alumni, berusaha mewujudkan mimpi kami untuk memperkenalkan angklung melalui konser-konser dan berpartisipasi dalam berbagai kompetisi yang diadakan beberapa organisasi di negara-negara Eropa Barat dan Inggris. Hal yang menjadi kendala terbesar kami saat itu adalah dana yang sangat besar yang kami pun tidak tau bagaimana cara mendapatkannya.

Berbagai cara kami lakukan: menghubungi para alumni sekolah kami untuk menggalang dana, menghubungi perusahaan-perusahaan besar di Indonesia untuk menawarkan kerja sama sponsorship dan mengadakan konser-konser untuk memikat para calon sponsor. Namun hal tersebut ternyata mengalami masalah yang tidak kecil. Pada saat itu, angklung masih dianggap sebelah mata. Para perusahaan besar di negeri ini menganggap bahwa tidak ada manfaatnya untuk mendukung serombongan anak muda dalam menggapai misi mulianya. Angklung dianggap hanya alat musik dari bambu yang menjadi warisan budaya bangsa, sudah  cukup di situ. Saat itu, angklung belum mencapai masa kejayaannya seperti hari ini.

Hingga akhirnya mendekati waktu keberangkatan pun, kami masih mengalami masalah finansial yang krusial. Walaupun berhasil mendapatkan beberapa sponsor, bukan berarti kami sudah bisa menutupi biaya-biaya yang kami butuhkan selama di Eropa. Meskipun masing-masing dari kami sudah pula menyumbangkan beberapa rupiah, dana yang kami miliki belum cukup untuk menutupi lubang anggaran di sana dan di sini. Namun, tekad sudah bulat. Kaki-kaki sudah siap melangkah dan tangan-tangan sudah siap untuk menggetarkan angklung ke tanah Eropa.

22 Juli 2004. Pagi itu kami diantarkan orang tua tercinta untuk menaiki bis yang akan mengantar kami ke bandara Soekarno Hatta. Ini menjadi pengalaman terbang pertama dan terjauh di hidup saya. Diiringi air mata dan lambaian tangan orang tua dan teman-teman, akhirnya berangkatlah bis kami yang menandai dimulainya petualangan kami dalam mewujudkan mimpi kami: membawa alunan suara angklung ke negeri-negeri Eropa.

---

Ah, lihatlah, betapa mereka mencintai budaya kita (iya, ini budaya saya, kami dan kamu: KITA). Mereka takjub. Bagaimana alat musik yang berasal dari tanaman pakan panda ini bisa membawakan lagu-lagu klasik gubahan Bacht dan Mozart yang menjadi kebanggaan benua ini. Bagaimana meriahnya musik dan tari-tarian asli dari Indonesia yang membuat mereka terkesima. Dan bagaimana mereka bertepuk tangan dan mengatakan "Encore.. Encore.. Encore.." yang berarti bahwa mereka meminta kami untuk membawakan lagu-lagu tambahan.

Saya terharu. Melihat bagaimana orang-orang asing ini menganggap bahwa kebudayaan kita adalah sesuatu yang sangat indah dan menakjubkan. Bagaimana bisa sekelompok anak muda membawakan karya-karya seni dunia hanya dengan sebilah bambu?

Menjadi satu-satunya negara yang diberi kesempatan untuk membawakan lagu kebangsaannya sendiri tanpa diiringi orkestra
Abserdeen, Skotlandia, 2004

Dari beberapa kompetisi yang kami ikuti, kami selalu bisa merebut hati penonton dan juri. Bahkan dalam suatu kompetisi, kami mendapatkan anugerah sebagai peserta terfavorit. Beberapa juara pun kami kantongi, sebagai bukti bahwa Indonesia bisa unggul dengan negara-negara lain.

Semua ini. Hal yang tidak bisa kami nikmati di negeri sendiri saat itu. Membayangkan bagaimana berjalan-jalan menggunakan blangkon saja adalah sebuah hal yang absurd di negara ini. Namun, di Eropa sana, mereka sangat menghargai bahkan sangat tertarik untuk mengeksplor lebih jauh akan pakaian yang kami kenakan atau musik yang kami bawakan.

Penampilan terakhir sebelum pulang ke tanah air
Muenchen, Jerman, 2004

Dari sana, kekhawatiran kami akan masalah finansial sedikit demi sedikit mulai terkikis. Suvenir yang kami bawa dari tanah air laku keras. Kami pun mendapatkan donasi dari mereka yang peduli akan misi kami. Namun, bukan berarti kami terbebas dari masalah finansial ini. Sampai pada kepulangan kami, kami menyisakan hutang yang cukup besar kepada salah satu penyelenggara kompetisi di Inggris. Akibatnya, kami harus rela bekerja keras lagi di tanah air untuk mengumpulkan uang dan melunasi hutang kami. Beruntungnya, panitia yang terkesan dengan penampilan kami, memberikan kelonggaran waktu bagi kami untuk melunasi hutang-hutang tersebut.

Tapi takdir berkata lain. Hanya beberapa bulan setelah kepulang kami, Tanah Serambi Mekah dilanda bencana maha dahsyat: tsunami. Bencana yang menghilangkan ratusan ribu korban nyawa ini ternyata telah menyentuh hati panitia di Inggris. Dan sebagai tanda bela sungkawa, hutang-hutang kami dihapuskan. Antara tersayat sedih dan bersyukur, ternyata Tuhan punya caranya sendiri untuk menolong umatnya. Dan bantuan Tuhan datang dari arah yang tidak teduga. Seperti yang terjadi kepada kami.

---

Di tahun 2010, salah satu anggota rombongan berhasil menerbitkan novel yang diadaptasi dari kisah perjuangan kami. Novel tersebut sepertinya telah menginspirasi orang-orang karena perjuangan kami dalam meujudkan misi kebudayaan kami. Penulis dan beberapa anggota kelompok kami bahkan pernah diundang oleh salah satu televisi swasta untuk menjadi bintang tamu acara talkshow kenamaan di negara ini. Sayang, saat itu saya melanglang buana ke pelosok Kota Bogor sehingga sudah tidak mengikuti perkembangan di Bandung.

Yang menarik adalah ada seorang siswi SMA di Jambi yang mengirimkan pesan kepada saya melalui sosial media. Lewat pesan itu, dia menyatakan kekagumannya dengan perjuangan kami dan menginspirasinya dalam memberikan kontribusi nyata untuk negara ini. Sampai saat ini saya masih terhubung dengannya. Dan gadis itu kini sudah menjadi salah satu anggota Indonesia Mengajar besutan Pak Anies Baswedan dan sudab pergi ke Amerika sebagai anggota sebuah kongres. Saya sangat bangga padanya. Terus berkarya ya, dik..

Kabar terbaru dari kisah ini adalah, buku novel yang saya ceritakan di atas sedang ditransformasikan menjadi film layar lebar. Dan diharapkan nantinya dapat mengisnpirasi lebih banyak orang untuk bisa mewujudkan mimpinya, walaupun terasa berat dan sulit untuk dijangkau.


Semoga tulisan ini bisa menginspirasi kita semua, bahwa apapun mimpi kamu, bagunlah dari tidurmu dan mulailah mewujudkan mimpimu. Karena Tuhan pasti menolong hamba-hambaNya untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang baik.

Seperti kami yang mendapatkan banyak sekali inspirasi dan semangat dari angklung. Ya, bagi kami, angklung memang bukan bambu biasa...

Semoga menginspirasi,

Salam hangat dari saya :)

Bandung, Februari 2016

8 comments :

  1. woow ..angklung emang selalu kereen dan bikin bangga ko malahan orang luar yg sering memuji kebudayaan kita yaa..

    Sukses ya emak jerapah

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya keren banget teh hehehe..
      makasih teteh :)

      Delete
  2. Kalau denger angklung langsung inget saung Udjo hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa saung udjo udah jadi top of mind dunia perangklungan ya :)

      Delete
  3. Ternyata bumbunya benar-benar tak biasa :P
    BTW abi tikapungkur zaman SD teu tiasa2 main angklung *Huaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. buahaha.. iya emang rada susah teh.. harus ngapalin soalnya hihi

      Delete
  4. waktu kuliah pernah ikutan KABUMI dan berlatih angklung, sayang nggak dilanjutkan hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. kabumi teh upi ya teh? saya juga nggak dilanjutin abis sma huhu

      Delete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...