Setelah Satu Tahun: UHT, Susu Formula atau Tidak Keduanya?


ASI atau susu formula yang paling baik untuk bayi? Tentu jawabannya ASI.
Namun, seiring dengan tumbuh kembang si kecil, biasanya ibu memberikan tambahan susu pada si kecil berupa susu formula atau UHT. Lantas, mana yang terbaik di antara keduanya?


Saya dilahirkan sebagai generasi susu. Generasi di mana minum susu adalah sebuah kewajiban sebagaimana makan pagi, siang dan malam. Ya, sejak kecil, saya dibiasakan minum susu setelah bangun pagi dan setelah bangun dari tidur siang, dua kali sehari. Susu yang saya minum adalah susu-susu untuk anak-anak pada umumnya, seperti M**o atau D****w.

Bagaimana dengan Ahza?
Di atas satu tahun, saya sudah memperkenalkan Ahza dengan susu UHT rasa tawar. Hal ini saya lakukan karena saat saya kuliah, Ahza tidak mau minum susu formula sedangkan ASI saya tidak bisa diperah. Untungnya Ahza mau minum UHT, jadi UHT adalah penyelamat kami saat itu. Tapi, makin ke sini, konsumsi UHT Ahza malah lebih besar daripada konsumsi ASI-nya. Ah, tapi biarin aja deh, toh Ahza sudah besar ini, sebentar lagi kan mau disapih, pikir saya.

Lalu, mengapa saya memilih UHT dibandingkan dengan susu formula? Pertama, penyajian UHT sangat praktis dibandingkan dengan susu formula. Cukup colok sedotan atau tuangkan ke gelas minum Ahza dan langsung bisa dinikmati. Hehe.. Kedua, sependek pengetahuan saya, UHT itu lebih alami daripada susu formula yang sudah diproses sedemikian rupa sampai menjadi bentuk bubuk. Bukankah yang alami itu lebih baik toh? Ini pendapat pribadi saya yah..

Tapi kan, susu formula itu lengkap. Ada vitaminnya, ada ininya, ada itunya, liat aja, harganya kan selangit. Anak susu formula kan gendut-gendut, lincah-lincah. Kenapa ga susu formula aja?

Nah, kalau bicara masalah vitamin endebra, endebra, saya lebih memilih dari sumbernya langsung, yaitu dari makanan. Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari dr. Siti Nur Fatimah, bahwasanya susu hanyalah pelengkap dari menu makan si kecil. Dalam menu makan si kecil (termasuk emak dan bapaknya), harus terdapat empat macam makanan, yaitu sepertiga berupa sayuran, sepertiga berupa serealia dan sisanya adalah protein dan buah-buahan.

Sayur memiliki kandungan serat yang baik bagi tubuh kita. Fungsi serat? Buanyaaakk.. Apalagi untuk pencernaan dan masalah buang hajat yaa.. Hehehe..
Buah-buahan mengandung banyak vitamin yang dibutuhkan tubuh. Bermacam-macam warna buah menggambarkan beragam vitamin yang terkandung di dalamnya. Wow..
Serealia, seperti beras, jagung, gandum, memiliki kandungan karbohidrat yang berperan sebagai penyumbang energi dan berfungsi untuk memelihara sel-sel dalam tubuh kita. Sel-sel otak yang tumbuh dan berkembang juga memerlukan karbohidrat sebagai bahan bakar utamanya.
Sedangkan protein bermanfaat untuk pertumbuhan, imunitas serta pemeliharaan tubuh. Protein ini juga berperan untuk mengganti darah setiap tiga bulan sekali, kulit setiap 21 hari sekali serta sel usus setiap beberapa jam sekali. Bayangkan, betapa banyak protein yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menunjang fungsi-fungsinya tersebut.

Menurut dr. Siti, hal ini pulalah yang menjawab pertanyaan: “Kok anak saya ga gendut-gendut ya, padahal minum susunya buanyak?”
Organ yang paling berkembang saat anak-anak adalah otak. Dan pertumbuhan otak memerlukan karbohidrat, sedangkan susu mengandung protein hewani. Nah, bagaimana jadinya kalau si anak hanya minum susu saja tanpa dibarengi dengan asupan makanan lain, termasuk karbohidrat?
Yang terjadi adalah protein yang diperoleh tubuh dari susu akan dikonversi menjadi karbohidrat untuk mencukupi kebutuhan karbo pada otak. Karena zatnya berbeda, maka protein yang dikonversi menjadi karbo akan boros, butuh sekitar 70% protein untuk diubah menjadi karbo. Sehingga protein yang dimiliki tubuh pun akan menjadi sangat sedikit. Protein sedikit, karbo ga ada. Jadilah ga ada lemak. Hasilnya? Ya, anaknya cungkring-cungkring aja. *Ini Ahza banget hiks*

Lagipula, sangat penting bagi anak untuk mendapatkan asupan makanan bergizi terutama dalam 1.000 hari pertama dalam kehidupannya. Mengapa? Karena 1.000 hari pertama anak akan menentukan tumbuh kembangnya sampai akhir hayat nanti. Dalam enam bulan pertama, makanan terbaik bagi anak adalah Air Susu Ibu yang dapat digantikan dengan susu formula jika ada indikasi medis. Setelah enam bulan, ASI tetap diberikan kepada anak disertai dengan makanan pendamping ASI (MPASI) yang memiliki komposisi seimbang seperti yang telah dijelaskan di atas.

Oia, ada juga hasil penelitian dari Perkumpulan Ahli Jantung, yaitu orang yang mengonsumsi 40 zat makanan per minggu akan menurunkan penyakit di pembuluh darah seperti hipertensi dan serangan jantung. 40? Banyak amat. Enggak kok. Misalnya aja kita makan sop ayam, kan itu sudah ada ayam, bawang merah, bawang putih, kentang, wortel, sosis, seledri, dan lain-lain. Jadi inget lagi: perbanyak variasi makanan.

Nah, kemudian ada fenomena lain mengenai pola penyakit yang bergeser karena kurang aktifnya anak-anak zaman sekarang. Hal ini akan berpengaruh pada pertumbuhan anak yang tidak maksimal, sehingga hormon-hormon yang dihasilkan tubuh akan dikonversi menjadi lemak dan menghasilkan anak-anak gemuk yang tidak sehat. Dan karena apa kira-kira hal ini terjadi? Karena gadget! Huhu.. Gadget memang terbukti bikin anak-anak jadi malas bergerak ya. Dan tanpa disadari ibu, ternyata hal ini bisa berpengaruh pada tumbuh kembang dan kesehatan anak-anak kita.

Kembali lagi ke masalah persusuan. Kalau saya memilih UHT, lantas bagaimana pendapat dokter dalam menyikapi kegalauan ibu-ibu ini? Setidaknya sudah ada dua dokter yang memiliki kesamaan pendapat dalam hal ini. Dokter pertama adalah dr. David yang saya temui pada saat seminar “Menjadi Ibu Bijak” kemarin Sabtu. Dr. David tidak menyarankan pemberian susu kepada anak di atas dua tahun. Susu hanya penting diberikan untuk  anak dengan panjang badan 50 cm. “Ibu mau anak ibu panjangnya 50 cm doang?”, tanya dr. David. Atuh enggak dok -___-“

Lagipula, kata beliau, beliau pernah meneliti susu-susu yang beredar di pasaran Indonesia, dan hasilnya, hampir semua susu tersebut mengandung hormon binatang yang berasal dari sapi. What? Jadi, kalau dulu sapi perah menghasilkan 2 liter susu per hari, sekarang sapi-sapi itu bisa menghasilkan sampai 20 liter susu per hari. Apa rahasianya? Ternyata sapi-sapi tersebut diberi hormon agar dapat memproduksi susu dengan jumlah yang wow tersebut. Dan, seperti kita –ibu menyusui- yang biasanya akan lecet jika bayi menyusu terus, sapi-sapi itu juga memiliki risiko luka dan menyebabkan infeksi, oleh karena itu, sapi-sapi perah itu diberikan antibiotik untuk meminimalisir luka yang diakibatkan oleh proses perah yang tak kunjung henti. Kasian ya sapinya. Tapi, lebih kasian mana dengan anak-anak kita yang mengonsumsi susu dengan hormon binatang? Huhu.. Hormon binatang inilah yang disinyalir mengakibatkan kegemukan pada anak-anak yang mengonsumsi susu.

sumber:antarafoto.com
Dokter kedua adalah dokter ahli penyakit dalam yang menangani si Kakak (keponakan) waktu (maaf) pupupnya berdarah. Kata dokter spesialis itu, zaman sekarang banyak sekali anak-anak kecil yang sudah mengalami gangguan usus, bahkan kanker usus (naudzubillahimindzalik). Hal ini dikarenakan kualitas susu yang dikonsumsi anak-anak sudah tidak sama lagi dengan kualitas susu pada zaman dulu. Susu zaman sekarang sudah ‘kemasukan’ zat-zat seperti hormon binatang yang cenderung tidak cocok dengan usus anak manusia. Hal ini mengakibatkan dinding usus teriritasi sehingga menyebabkan gangguan usus. Saudara-saudara si Kakak memang bermasalah semua dengan masalah pupup. Adik-adiknya langganan sembelit, bahkan harus dirangsang dulu kalau mau pup, duh kasian! Akhirnya, Bunda (ibu si Kakak) memutuskan untuk membatasi konsumsi susu pada anak-anaknya. Susu formula distop peredarannya dari dapur rumah dan diganti dengan susu UHT. Susu UHT yang diberikan kepada si kecil pun dicampur dengan air terlebih dahulu agar tidak terlalu kental. Hasilnya signifikan, anak-anak Bunda tidak lagi sembelit atau drama saat mau pup. Dan akhirnya saya juga menerapkan hal yang sama dengan Ahza. Toh Ahza minum susu UHT bukan karena butuh tapi karena hanya suka dengan rasanya saja. Jadi ya gapapa kan ya saya ‘oplos’ pakai air putih. Hohoho..

Dari kedua penjelasan dokter itu, saya jadi makin galau karena sampai hari ini Ahza masih mengonsumsi susu UHT. Karena tidak mungkin saya menyetop sama sekali konsumsi UHT Ahza, jadi saya hanya bisa meminimalisir konsumsi susu UHT pada Ahza, ya salah satunya dengan meng’oplos’ susu Ahza :D
Selain itu, kalau sudah mau 2 tahun, saya juga mau menyapih Ahza dari segala macam susu. Niatnya, saya ingin menjadikan susu ini sebagai minuman rekreasional saja untuk Ahza, bukan sebagai minuman wajib yang harus kudu diminum. Asupan vitamin dan segala macamnya saya harap bisa dipenuhi dengan makanan yang sehat dan bervariasi.

Hayyaahh.. Ayo semangat yaaa ibu-ibu!!!
Ternyata seorang ibu itu selain harus tangguh juga harus kreatif ya. Kreatif supaya anak-anak kita ga bosen dan mau untuk makan apa saja yang kita hidangkan di meja makan. Dan tentunya jadi teladan makan sehat buat anak-anaknya. Kayaknya sekarang saya harus dadah dadah ke mie instan karena saya hobi banget makan mie. Takut kebiasaannya nular ke Ahza.

Nah, balik lagi ah ke persusuan. Jadi, ibu-ibu pilih mana? UHT? Susu formula? Atau tidak keduanya?
Apapun pilihannya, pastikan itu yang terbaik untuk anak dan keluarga yaa...

Yuk, sharing-sharing dong di kolom komentar. Siapa tau bisa jadi pencerahan untuk saya dan ibu-ibu lainnya..

Salam sayang,
-Si Ibu Jeparah-

-----
#odopfor99days #day16

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak