January 06, 2016

Pohon Mangga Tidak Akan Berbuah Rambutan



Sehabis makan siang, saya dan Ahza duduk-duduk di teras depan rumah. Hari ini langit mendung, pertanda akan turun hujan.

Seperti biasa, saya memanggil kucing 'peliharaan' kami, Si Mengki. Sebenarnya, Si Mengki adalah kucing jalanan yang sering nongkrong di rumah kami karena sering diberi sisa-sisa makanan oleh saya atau mama. Si Mengki lahir ketika kami baru saja pindah ke rumah ini. Ahza dan Si Mengki seperti sahabat karib yang sering pukul-cakar. Ahza pukul Mengki dan Mengki cakar Ahza. Tapi so far mereka tetap bersahabat walaupun sering terlibat drama. Hehehe..


Pada panggilan ketiga, Si Mengki berlari menghampiri kami. Mungkin dia pikir kami akan memberi makanan untuknya tapi ternyata tidak. Tidak ada makanan sisa bekas Ahza tadi. Maaf ya, Meng..

Terlihat kecewa, akhirnya Si Mengki memutuskan untuk mandi alias jilat-jilat. Si Mengki memulai mandinya dengan menjilat bagian -maaf- pant*t dengan mengangkat kaki. Kira-kira seperti gambar ini lah. Hihihi..

Sumber dari sini

Kemudian Ahza mengikuti Si Mengki. Ahza mengangkat kakinya sambil terhuyung-huyung. Maklum, masih kicik jadi belum terlalu seimbang ya kalau harus ngangkat-ngangkat kaki kaya Mengki. Hihi..

Begitupun ketika Si Mengki mengganti gaya seperti ini.

Sumber dari sini

Ahza ikut-ikutan menjilat-jilat tangannya sambil semangat. Saya pun ngakak. Lucu banget soalnya. Hihi..
"Ih Ahza.. Jorok atuh...", kata saya yang tidak dihiraukan oleh Ahza. Ahza tetap melanjutkan menjilat-jilat mengikuti Mengki.

Deg!  
Saya berhenti tertawa dan malah tertohok. Tertohok karena Ahza bisa dengan cepatnya menirukan gerakan Si Mengki.

Duh, Gusti..
Kalau Mengki saja yang hanya bertemu sekali-sekali dengan gampang ia tirukan, bagaimana dengan perbuatan dan perkataan ibunya yang hampir setiap saat ada di dekatnya ya?
Huhu..
Langsung lemes..

Kata orang, usia-usia Ahza ini adalah fase golden age. Anak bisa dengan mudah menyerap informasi apapun yang ia terima, termasuk perihal tiru meniru.

Saya memang sudah tau hal ini sejak masa-masa kehamilan, tapi kok susah banget ya untuk mempraktekkannya. Saya masih sering sekali melakukan perbuatan atau perkataan yang saya ga mau ditiru oleh Ahza. Misalnya aja, shalat mepet-mepet waktu atau pegang handphone saat main dengan Ahza atau mungkin suka gosip ini itu sama mama. Hiks..

Saya jadi teringat dengan quotes ini.

Sumber dari sini

Dan yang ini..

Sumber dari sini

Serem ga?
Buat saya yang kelakuannya masih kaya anak kecil mah serem banget. Huhu..

Anak itu 'melihat'. Kalau melihat aja sih gapapa, yang bahaya itu kalau 'melihat'. 'Melihat' di sini itu adalah saat anak melihat apa yang kita lakukan dan menganggap bahwa yang kita lakukan itu pasti benar (padahal belum tentu yang kita lakukan baik untuk dicontoh). Mengapa bisa gitu? Ya karena anak kecil seumuran Ahza kan masih belum tau yang baik dan yang buruk. Mereka anggap yang dilakukan orang tuanya pasti benar dan patut ditiru. 

Saya juga pernah baca di sebuah artikel parenting tentang bagaimana mengajarkan anak shalat sejak dini. Kuncinya cuma satu: pembiasaan. Pembiasaan ini dapat dilakukan dengan memberikan teladan bagi anak. Kalau mau anak shalat dengan baik, ya orang tuanya dulu lah yang kasih contoh. Shalat di awal waktu, shalat dengan khusyuk dan mengajak anak untuk ikut shalat walaupun dia belum paham. Hal ini juga berlaku untuk hal lainnya. Seperti makan, nonton tv, masalah gadget dan lainnya. Ya intinya, kalau mau anak jadi A, orang tuanya dulu yang harus A. Ingat, pohon mangga tidak akan berbuah rambutan.

Duh, saya kan pengen Ahza jadi anak sholeh, berbakti sama orang tua, bermanfaat untuk orang lain, pinter, rajin, ga pelit dan 1001 harapan orang tua lainnya. Berarti saya harus ngasih contoh dulu ya sama dia? Huhu, PR berat. Semangat, pasti bisa!

Sumber dari sini
Ya Allah, mudahkanlah kami untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. Mudahkanlah kami untuk senantiasa memperbaiki diri kami agar bisa menjadi teladan bagi anak-anak kami.
Jadikanlah anak-anak kami menjadi anak-anak yang sholeh/sholehah, anak-anak yang senantiasa menjadi penyejuk hati orang tuanya dan anak-anak yang senantiasa berjuang di jalan-Mu.

Ahza, sehat-sehat terus ya, Nak..
Bubu sayang Ahza :D

-----
#ODOPfor99days #Day3

5 comments :

  1. Ya ampun, Ahzaaaa....

    Aaamiiin... semoga Ahza sehat selalu yaah...

    ReplyDelete
  2. Setuju Ma, anak-anak memang lebih mudah meniru kita dibanding mendengar apa yang kita katakan. Terima kasih sudah mengingatkan.

    ReplyDelete
  3. Aamiin... Anak2 adalah peniru ulung, kita sebagai orangtua memang harus berhati2 banget dlm bicara maupun bersikap

    ReplyDelete
  4. Sehat-sehaat terus ya...
    Zafa juga baru usia 1 th dan banyak yang saya khawatirkan jika melihat sekeliling karena dia sangat suka mengamati dan explorasi.
    Semoga selalu dilindungi ALLAH SWT.

    ReplyDelete
  5. heheheh Zafa lucu..., gemeees..

    Sepakat.. anak-anak adalah peniru paling ulung,, , so keluargalah yang menjadi madrasah pertama untuk membentuk mereka dengan hal2 yang positive...
    semangaat yaa bunda..semoga dd zafa sehat selalu ^_^

    ReplyDelete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...