January 11, 2016

Mitos dan Fakta Menyusui yang Wajib Diketahui


Jika ada 1001 cara untuk memberikan ASI Eksklusif kepada si kecil, ada juga 1001 mitos tentang ASI dan menyusui yang bisa menjadi penghambat ibu untuk memberikan ASI kepada si kecil. Mitos-mitos yang super banyak dan -sebagian- super absurd ini masih banyak beredar di masyarakat kita. Turun temurun dari generasi ke generasi. Jangan dikira masyarakat di kota sudah bebas dari berbagai mitos ini lho. Sering sekali kita mendengar nasihat dari ibu, nenek atau bahkan dari sesama ibu menyusui tentang mitos-mitos ASI dan menyusui.

Seperti di postingan saya tentang ibu cerdas yang lalu, ibu menyusui juga harus membuka wawasan seluas-luasnya tentang fakta ASI dan menyusui. Fakta yang didapat dari sumber terpercaya ya tentunya, seperti dokter, konselor laktasi, penelitian mengenai ASI dan menyusui, konselor laktasi atau buku-buku panduan menyusui yang sekarang semakin mudah didapatkan.

Mitos vs Fakta ASI dan Menyusui

Adapun 10 mitos dan fakta tentang ASI dan menyusui yang wajib diketahui oleh semua ibu (dan ayah) menyusui adalah sebagai berikut:

1. MITOS: Ibu dengan ukuran payudara yang kecil tidak bisa memproduksi ASI yang cukup untuk bayinya.

FAKTA: 
Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan produksi. Apapun ukuran payudara ibu, ASI akan selalu cukup untuk bayi jika ibunya rajin menyusui/memerah dan selalu berpikir positif. Besar/kecilnya payudara pada dasarnya tergantung dari jaringan lemak di dalam payudara.

2. MITOS: Wanita dengan puting datar atau terbenam tidak bisa menyusui.

FAKTA: 
Bayi tidak menyusui pada puting susu, mereka menyusu pada payudara. Meskipun mungkin lebih mudah bagi bayi untuk melekat pada payudara dengan puting menonjol, puting tidak harus tetap keluar. Sebuah awal yang tepat biasanya akan mencegah masalah menyusui dan ibu dengan berbagai bentuk puting bisa menyusui dengan baik. Nipple shield atau penyambung puting tidak dianjurkan karena walau kelihatannya bisa menyelesaikan masalah, penggunaannya dapat mengakibatkan proses menyusui yang buruk karena pelekatan yang tidak tepat. Jika pelekatan tidak tepat, maka ASI yang diperoleh bayi juga tidak akan optimal.

3. MITOS: Payudara yang “lembek” adalah payudara yang tidak ada ASInya.

FAKTA: 
Payudara “lembek” adalah tanda pengeluaran ASI (baik menyusui dan memerah) lancar. Payudara yang keras justru menandakan pengeluaran ASI tidak lancar, apabila hal ini dibiarkan justru akan mengganggu produksi ASI bahkan bisa menyebabkan radang payudara (mastitis)

4. MITOS: Menyusui adalah perjuangan atau jihadnya seorang ibu, makanya adalah normal jika proses menyusu menimbulkan rasa sakit Dan ibu harus menahan rasa sakitnya karena menyusui agar si bayi bisa tetap mendapatkan ASI.

FAKTA: 
Walaupun bukan sesuatu hal yang aneh jika pada hari-hari pertama menyusui seorang ibu akan merasa sedikit kurang nyaman pada payudaranya, tapi kondisi ini seharusnya hanya berlangsung selama beberapa waktu saja, dan tidak boleh menjadi sedemikian parahnya sehingga seorang ibu menjadi takut untuk menyusui bayinya. Rasa sakit yang amat sangat pada puting ketika sedang menyusui menandakan bahwa bayi belum sempurna pelekatannya. Sakit atau lecet pada puting yang berlangsung selama lebih dari 3-4 hari tidak boleh diabaikan, harus dicari tahu penyebabnya. Perbaiki pelekatan menyusui jika payudara lecet. Jika payudara lecet terus terjadi meski pelekatan sudah diperbaiki, segera bawa bayi ke dokter yang paham tentang tongue tie untuk melihat jika ada kemungkinan si bayi mengalami tongue tie. Menyusui adalah momen yang indah dan intim antara ibu dan bayi, sehingga prosesnyapun harus bebas dari rasa sakit.

5. MITOS: ASI pagi hari itu basi jadi harus diperah dulu dan dibuang baru boleh menyusui bayi.

FAKTA: 
ASI kapanpun selalu dalam kondisi yang baik dan siap disajikan untuk bayi.

6. MITOS: Kalau sudah berhubungan suami istri, kualitas ASI tidak akan baik bagi bayi.

FAKTA: 
Ibu bisa tetap berhubungan badan dengan suami. Berhubungan badan seringkali justru bisa meningkatkan kinerja hormon oksitosin dan memperlancar ASI.

7. MITOS: Kalau ibu keluar rumah ASI harus dibuang dulu sebelum menyusui lagi. Jika tidak nanti bayinya masuk angin.

FAKTA: 

ASI dalam payudara selalu dalam kondisi baik dan siap disajikan untuk bayi.

8. MITOS: Ibu menyusui yang jarang makan sayur membuat bayinya sembelit

FAKTA: 
Bayi ASIX tidak akan sembelit karena ASI mengandung zat pencahar/ laksatif. Frekuensi BAB yang kadang jarang pada bayi ASIX disebabkan karena ASI yang dia konsumsi terserap semua sesuai dengan kebutuhannya saat itu. Kalau ibunya makan makanan berserat seperti sayur dan buah, yang akan lancar buang air besar adalah ibunya. Namun bagaimanapun juga ibu menyusui harus makan makanan yang bernutrisi untuk menjaga kondisi tubuhnya dan menjaga asupan micronutrients (vitamin dan mineral) dalam ASI.

9. MITOS: Ibu menyusui tidak boleh makan berbau amis seperti ikan, daging dan telur

FAKTA: 
Ibu menyusui boleh mengkonsumsi sumber-sumber protein seperti ikan, daging, dan telur selama si bayi tidak menunjukkan ciri-ciri alergi.

10. MITOS: Ibu menyusui harus makan daun katuk atau pare agar ASI-nya deras

FAKTA: 
Produksi ASI ditentukan oleh seringnya ibu menyusui atau memerah, ditambah dengan pikiran positif ibu bahwa ASI-nya cukup. Tidak ada yang salah dengan mengkonsumsi daun katuk atau pare, karena konsumsi sayuran baik untuk ibu menyusui. Tetapi pada dasarnya ibu bisa makan apapun yang dia sukai. Kalau ibu menikmati apa yang dia makan, ASI-nya akan deras karena hati ibu merasa senang. Jadi, apapun makanan favorit atau bahkan aktivitas yang disukai ibu bisa jadi booster ASI yang baik bagi ibu yang bersangkutan.
sumber: AIMI

Ini adalah sebagian kecil dari mitos tentang ASI dan menyusui yang beredar di masyarakat. Saya sudah sering sekali mendengar cerita tentang ibu menyusui yang gagal memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya karena termakan mitos tentang ASI dan menyusui.

Mari Menjadi Ibu Cerdas

Memang sulit untuk menghapus mitos-mitos tersebut dari masyarakat. Mitos-mitos tersebut mungkin telah diwariskan turun temurun selama beberapa generasi sehingga dianggap sebagai fakta. Satu-satunya cara untuk mengatasi dan menghadapi mitos-mitos tersebut adalah dengan menjadi ibu cerdas yang terbuka akan informasi-informasi terbaru pada dunia menyusui.

Saya terlahir di keluarga yang menomorsatukan susu formula. Namun saya beruntung karena di kantor tempat saya bekerja dulu, saya bertemu dengan seorang Ayah ASI yang berhasil membuka mata saya tentang keajaiban ASI. Dari situlah saya berkenalan dengan ASI dan mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang dunia menyusui. Ternyata apa yang saya tau dari keluarga saya salah. Ternyata, makanan yang terbaik untuk bayi adalah ASI. Gratis dan terbaik! 

Bukan hal yang mudah untuk meyakinkan keluarga saya tentang keputusan saya memberikan Ahza full ASI selama 6 bulan. Semua menganggap saya jahat sama Ahza. Semua memandang kasihan pada Ahza. "Tega banget nih bubunya," begitu kata orang-orang. Berkat sedikit edukASI yang saya miliki, akhirnya saya memilih tutup telinga jika ada orang yang menceramahi saya tentang susu formula. Saya tidak suka berdebat, jadi biasanya kalau sudah keterlaluan saya selalu bilang kalau nanti saya akan kasih susu formula untuk Ahza. Biasanya sih berhasil menghentikan ceramah ilmiah orang-orang. Hehehe..

Yuk share mitos tentang ASI dan menyusui apa yang beredar di lingkungan ibu? Dan sejauh apa mitos tersebut berdampak pada usaha ibu dalam memberikan ASI Eksklusif?

Sharing is caring :)

#ODOPfor99days #Day6

2 comments :

  1. iya, dlu wktu msih ngasi si ken, sering dgr kalinat2 bgitu yg trnyata cm mitos aja,

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhu iya mba.. masih banyak yaa mitos menyesatkan yang beredar :(

      Delete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...