January 29, 2016

Ketika Si Kecil Terlambat Bicara




Saya yakin semua ibu pasti pernah merasakan kegalauan yang sama tentang tumbuh kembang putra-putrinya. Entah itu masalah berjalan, makan, nonton televisi, termasuk masalah berbicara.

Idealnya, umur berapa sih anak mulai bicara?

Menurut saya, jawabannya relatif, karena masing-masing anak istimewa. Anak yang satu berbeda dengan anak yang lain. Jelas berbeda, asupan makanan dan lingkungannya pun pasti berbeda. Tidak ada patokan kapan anak harus bisa bicara atau berjalan.


-----

"Bu... Bu... Nin.. King.."
"Makang.."
"Meng.."
"Nenen.."
"Ee.."

Itu adalah kata-kata yang biasa keluar dari mulut si kecil Ahza. Sebenarnya ibunya ga begitu khawatir dengan kondisi Ahza yang belum lancar bicara seperti anak seusianya. Ahza baru saja bisa cuap-cuap akhir-akhir ini, sekitar 2-3 minggu ke belakang di usianya yang menginjak 1,5 tahun. 

Berbeda dengan saya, mama cenderung khawatir dan 'panas' jika bertemu anak lain yang seusia dengan Ahza tapi sudah ceriwis. Kalau sudah begitu, pasti beliau langsung bawel, menyuruh saya membawa Ahza untuk terapi. Jujur, semenjak Ahza ikut terapi merangkak, saya agak ga tega kalau membawa Ahza terapi lagi. Terapinya memang tidak menyakitkan, tapi Ahza ga nyaman dengan terapi yang diberikan oleh terapisnya, sehingga bisa-bisa nonstop nangis selama satu jam. Hiks..

Kalau sudah begitu, saya coba menjelaskan pada mama, kalau tumbuh kembang anak pasti berbeda. Mungkin Ahza lebih cepat berjalan daripada bicara. 

"Mama yang sabar ya, Einstein juga baru bisa ngomong umur 4 tahun kok.." *kemudian dikeplak sama mama*
Ketidakkhawatiran saya ini bukan berarti saya diam saja. Berbagai macam jenis rangsangan saya lakukan pada Ahza. Mulai mengajak ngobrol, memancing Ahza untuk berkata-kata atau membac beraneka macam buku. Tapi ya, nihil hasilnya. Tapi, sebagai ibu, kita ga boleh gampang menyerah. Harus tetap sabar dan memberikan rangsangan yang sesuai dengan umur anak.

Walaupun belum bisa berbalas pantun kata, Ahza sudah bisa disuruh-suruh dan diajak berkomunikasi. Dia sudah bisa membantu mama merapikan belanjaan mie instan dan susu bubuk di lemari makanan. Ahza juga sudah bisa memilih buku favorit saat ditawari membaca buku. Atau Ahza juga sudah bisa menyampaikan keinginannya walaupun ujung-ujungnya kami dan Ahza seperti bermain "Tebak Kata". Itu lho, games di tv yang para pesertanya saling menebak gerakan badan peserta lainnya. Haha.. Melihat Ahza yang sudah komunikatif, saya pun merasa bahwa Ahza baik-baik saja dan hanya menunggu waktu untuk bisa membuatnya bicara. Ehem..

Mengapa Anak Saya Belum Juga Mau Bicara?

Walaupun setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda, namun ada batasan-batasan di mana orang tua boleh merasa khawatir jika anaknya masih belum menunjukkan perkembangan dalam berbahasa pada batasan umur tertentu. Batasan-batasan itu bisa dilihat secara lengkap di website Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di sini.

Sebagai contoh saja, pada rentang umur Ahza, orang tua harus waspada jika anak belum bisa mengucapkan kalimat dua kata yang bisa dimengerti oleh orang tuanya. Misalnya: "Makan ayam" atau "Main bola".

Lantas, apa yang menyebabkan keterlambatan bicara pada anak?

Dilansir dari website IDAI, bahwasanya keterlambatan bicara pada anak dapat disebabkan oleh gangguan pendengaran, gangguan pada otak, autisme atau gangguan pada organ mulut yang menyebabkan anak sulit melafalkan kata-kata (gangguan artikulasi). Diperlukan pemeriksaan yang teliti oleh dokter untuk mengetahui diagnosis penyebab keterlambatan bicara tersebut yang nantinya akan diketahui terapi apa yang dapat diberikan kepada si anak. Selain penyebab-penyebab di atas, terdapat juga penyebab lain dari keterlambatan bicara pada anak, yaitu:

1. Faktor keturunan. Biasanya, anak yang terlambat bicara memiliki riwayat keluarga yang memiliki gangguan yang sama.
2. Minimnya komunikasi. Hal ini terjadi jika orangtua atau orang-orang di lingkungan kecil minim dalam memberikan rangsangan pada si kecil. Komunikasi dengan anak bisa menstimulasi si kecil untuk belajar kosa kata baru setiap harinya.
3. Pengaruh televisi. Selain karena tayangan televisi yang buruk untuk anak, televisi juga menjadikan anak pendengar yang pasif, yang hanya menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk.

Terapi Bicara Sederhana untuk Si Kecil

Saya menemukan video ini saat browsing tentang keterlambatan bicara pada anak. Tips-tips ini bisa dengan mudah dipraktekkan kepada anak setiap harinya. Berikut adalah beberapa tips untuk terapi bicara pada balita:

1. Ceritakan tentang apa yang sedang ibu lakukan

Lakukanlah seperti bicara pada diri sendiri. Ceritakan apa yang ibu lakukan, rasakan, dengar atau lihat. Pastikan ibu memilih kata-kata yang pendek, sederhana namun tetap menyenangkan.

"Eh, lihat. Itu ada kucing. Kucingnya lucu ya, Dek? Kucingnya lagi mandi ya. Adik mau pegang kucing?"

atau

"Dek, sekarang mama lagi jemur baju nih. Ini celananya adik ya? Yang ini bajunya ayah ya. Baju ayah warnanya biru. Bagus ya?"

dan lain-lain. Tapi, jangan mengharapkan si kecil mengulangi kalimat yang ibu sampaikan.
Setidaknya, aktivitas ini dapat memberikan gambaran berbahasa untuk si kecil dan memberikan pengertian kepada si kecil bahwa berbicara adalah sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat.

2. Ceritakan tentang apa yang sedang si kecil lakukan

Ketika melihat si kecil sedang bermain, ceritakanlah apa yang sedang ia lakukan. Lakukan dengan kata-kata yang dimengerti si kecil dan pastikan kalimat yang ibu gunakan tetap pendek dan sederhana.

Misalnya:
"Wah! Adik jagoan ya nendang bolanya. Bolanya jadi jauh ya.."

3. Jangan memberikan terlalu banyak pertanyaan

Nah, biasanya ibu-ibu bermaksud untuk menstimulasi anaknya dengan beribu pertanyaan semacam, "Dek, itu apa ya?" "Dek, ini warna apa?" "Mau makan apa, Dek?" dan lain-lain.
Padahal, ternyata pertanyaan-pertanyaan itu membuat anak menjadi bingung dan merasa seperti dites oleh ibunya. Daripada memberikan pertanyaan, lebih baik ibu memberikan komentar terhadap sesuatu. Misalnya, daripada bertanya, "Itu apa ya, Dek?", lebih baik berkata,
"Truknya cepet banget yaa jalannya.."
...tunggu reaksinya...
"Ibu suka deh truknya Adek.."
...tunggu reaksinya...
"Truknya mau ke mana ya?"

Jangan kecewa bila ia tidak menjawab pertanyaan ibu karena baginya, menjawab pertanyaan ibu adalah sebuah tes pemilihan kata yang menantang baginya.

4. Berikan pilihan

Jika si kecil tidak merespon pertanyaan ibu, coba berikan dia pilihan. Dengan memilih, si kecil juga dilatih untuk membuat keputusan dan melningkatkan kemampuan berbahasanya. Dengan menunjuk benda yang dipilih si kecil, dia pun akan berlatih untuk dapat menunjuk sesuatu jika ia belum mampu untuk mengucapkan benda tersebut.

Misalkan,
"Ahza mau main kereta atau baca buku?"
*Sambil menunjuk benda yang disebutkan agar si kecil tau mana yang dimaksud oleh ibu.

5. Mengembangkan bahasa si kecil

Di video ini dicontohkan seperti ini. Saat si kecil sudah bisa merangkai dua kata dalam satu kalimat, maka ibu dapat membantu si kecil untuk memperbaiki bahasa mereka.

Contohnya, jika si kecil berkata "Mama masak", perbaiki kalimatnya menjadi "Mama lagi masak". Dan sebagainya.

Untuk lebih jelasnya cuss saksikan video ini yaa.. :)


Nah, semoga tulisan singkat ini bisa mengurangi kegalauan para ibu yang anaknya masih "malas" untuk bicara yaa.. Tetap stimulasi dan jangan patah semangat. Insya Allah semua akan terjadi pada waktu yang tepat (eaa!)

Baca juga: Mitos dan Fakta Menyusui yang Wajib Diketahui

Selamat bermain dengan si kecil,

Salam sayang,
-si ibu jerapah-

-----
#odopfor99days #day20

14 comments :

  1. ini untuk saya, si kecil juga masih belepotan ngomongnya. makasih infonya mbak, saya suka lho baca-baca blog ini

    ReplyDelete
  2. Wahhh berguna bgt post ini mba. Anakku skrg 15 bln. Blom lancar jg bicara 2 kata. Sy mau coba tipsnya nih

    ReplyDelete
  3. iyak, mertua aku jg dlu, ibuk aku jg, khawatir knp si ken blm2 mulai ngomong di usianya yg hampir dua tahun. Sementara emaknye santai aja sih, tp ttp ngasih stimulus. tp yg bikin emaknye jd gk santai tuh saat dgr perkataan yg makjleb dr seseorng. langsung nyolot dah. gk terima donk yak, masak si ken dibilang bisu. *malah tsurhat. hehe..
    tengkiu infonya bermanfaat bgd nih terutama bwt buibu yg mengalami problema yg sama :)

    ReplyDelete
  4. sepakat Mbak, setiap anak istimewa dan berbeda tumbuh kembangnya, jadi kita gak bisa membandingkan anak kita dengan anak orang lain..
    anak saya baru pandai bicara saat usianya hampir tiga tahun dan selama itu saya menerima berbagai macam kata2 yang gak enak dikuping, dan saya down banget saat mendengar omongan2 gak enak itu :(

    alhamdulillah setelah pandai bicara, dia jadi cerewet banget, sekalinya ngommong gak akan brenti-brenti :)

    ReplyDelete
  5. Mbaaa...
    Manfaat banget postingannya
    Dua anakku juga "males ngomong" niih
    Mau praktekkan tips tipsnya aaaaahhh
    Makasiih ya seharingnya

    ReplyDelete
  6. Kadanh d tetanggaku jg ada balita yang seperti itu mbk. Trus kadang dibeda2in sma yg spantaran.

    Smoga adek ahza bisa segera lancar bicaranya ya mbk.ee
    Saya sudah follow blognya ya mbk..hhhe

    Bpers

    ReplyDelete
  7. Terima kasih untuk postingannya.. anak ku baru mau setahun bulan depan, tp suka deg2an aja kalau dia blm bisa ini atau itu.. kadang omongan orang memang suka kejam.. hehehe..

    ReplyDelete
  8. Terima kasih untuk postingannya.. anak ku baru mau setahun bulan depan, tp suka deg2an aja kalau dia blm bisa ini atau itu.. kadang omongan orang memang suka kejam.. hehehe..

    ReplyDelete
  9. memang tergantung masing2 anak ya. Anak pertamaku terlambat ngomong tapi cepat berjalan. Anak keduaku terlalu cepat bisa ngoming tapi mulai jalan telat. tapi terbukti anak pertama saya irit ngomong sekarangd an anak kedua saya cerewet , apa ada hubungan dengan cepat aatu lambat bicaranya ya

    ReplyDelete
  10. kedua anakku lancarnya pas 3,5 th, kayanya kondisinya bukan krn lambat, tapi mmg tipe pendengar selanjutnya baru siap ngomong

    ReplyDelete
  11. Bungsuku juga telat, Mak. Tapi, alhamdulillah sekarang dah lancar. Cerewet malahan.

    ReplyDelete
  12. Semangaat! Kalau komunikasi baik, tinggal tunggu waktu aja Ahza pasti ceriwis..

    Diana mengucap kata pertamanya usia 25 bulan. Emaknya senewen nungguinnya. :)))

    ReplyDelete
  13. Anak saya sekarang usianya hampir 22 bulan tapi juga belum lancar ngomongnya, Mbak. Belum jelas malah. Tapi saya dan suami bisa menangkap apa maksud kata-katany :D anaknya juga komunikatif, ngerti kalo disuruh ini-itu atau inisiatif sendiri kalo kami lagi ngomongin sesuatu (tanggap).
    Jadi saya ya santai aja meski ibu juga agak gak sabar gitu kepengen liat cucunya lancar ngomong. Tiap anak emang beda2 perkembangannya ya, Mbak. Sulung saya 18 bulan sudah bisa ngomong, ini adiknya beda :)

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah, Juna udah ceriwis ngomongnya
    Tapi kadang juga belum mudheng ngomong apa, ada kata2 yang udah bisa, ada juga yang masih asal

    ReplyDelete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...