January 17, 2016

Berdamai dengan Kehilangan



Berdamai dengan Kehilangan

Ih, berat banget bahasannya. Haha..

Sebenarnya, salah satu tujuan saya menulis di blog adalah untuk sharing perjalanan single mom yang saya lalui hampir 2 tahun ini. Kenapa? Karena dengan sharing saya berharap bisa menguatkan diri saya sendiri dan ibu-ibu di luar sana yang sedang dalam proses menjadi single mom atau yang sedang menjalani hidup sebagai orang tua tunggal seperti saya. Jujur aja, saya sendiri susaaah sekali untuk menemukan teman atau seseorang yang bisa diajak berbagi. Iya lah, jarang banget kan seumuran saya yang masih imut ini udah menyandang gelar single mom ini. Jadi ya otomatis hanya bisa menguatkan diri sendiri aja. Hehehe..

Tapi, saya belum punya keberanian untuk menulis. Kenapa? Malu? Takut dikatain? Takut disangka yang engga-engga? Takut dicap negatif? Takut bla bla bla?

Eh, engga kok.. Saya ga takut untuk dikatain. Saya juga ikhlas kalau ada yang ngejudge saya negatif. Toh saya ga berbuat kesalahan. Dan saya yakin hal ini adalah yang terbaik untuk saya dan Ahza.

Yang saya takuti adalah karena saya belum punya keahlian menulis dengan baik. Tujuan awal saya kan pengen sharing untuk menguatkan hati dan orang lain, tapi takutnya malah tulisan yang saya buat jadi malah bikin tambah sedih. Karena saya cengeng. Hehehe..

Tapi kalau ga dicoba kan ga pernah bisa ya.. Bisa karena biasa, kan?
Jadi, inilah dia cerita perdana saya tentang perjalanan saya menjadi single mom yang mudah-mudahan ga berlangsung lama-lama yaa.. Aamiin *pake toa mesjid*


Kehilangan

Apa yang dirasakan ketika pertama kali menjadi single mom
Sedih, patah hati, kecewa? Mungkin.
Marah? Mungkin.

Kehilangan? Pasti.

Sejelek-jeleknya, senyebelin-nyebelinnya mantan pacar kita, pasti kita bakal kehilangan ketika kita putus kan?
Yang biasanya ada yang nyapa pagi, siang, malam via telepon atau chat, mendadak ga ada.
Yang biasanya ada yang nganter pulang. Mendadak ga ada.
Yang biasanya ada yang pengen ditemuin setiap hari. Mendadak jadi dihindari.

Itu baru pacaran. Bisa dibayangkan kalau putus sama suami.
Yaa rasanya berkali-kali lipatlah.
Jangankan hal-hal manis yang dia lakukan setiap hari, kita akan merasa kehilangan sifat-sifat terburuknya kayak suka makan upil, kentut sembarangan dan lain-lain.
Haha..

Karena si mantan saya ini orangnya saya banget sama saya (baca: posesif banget), saya hampir 2 tahunan ga berkomunikasi sama teman-teman. Terbatas banget lah. Lengkapnya bisa dibaca di sini.
Nah, pas suda pisah pun, saya kepalang sudah terbiasa dengan 'aturan' dia. Sampai-sampai saya meneruskan kehidupan antisosial itu sampai hampir 3 tahun.

Ih, lebay yah..
Ih, engga sih kata saya mah.

Mungkin, secara ga langsung, saya kehilangan dengan dia. Dan saya sudah sangat terbiasa dengan kondisi saya seperti saat saya bersama dia. Saking sudah terbiasanya, saya jalani terus. Sampai kebablasan.

Menurut saya, itu dampak paling dahsyat dari sebuah kehilangan yang pernah saya rasakan.
Kehilangan membuat kita susah move on
Kehilangan membuat kita sulit untuk merubah kondisi.
Yang paling parah, kehilangan membuat kita merasa kita ga pantas lagi untuk bahagia.

Ibu saya khawatir dengan kondisi saya.
Secara fisik saya jadi kurus banget. Secara batin ya ga usah ditanya lagi. Pedih, Jendral.
Secara sosial, saya menutup diri dari orang lain.

Apakah saya akan begini terus?
Apakah saya ga pantas untuk bahagia?
Apakah saya ga bisa mendapatkan hidup yang saya impikan?

Setelah diam sampai lumutan dan jadi ijo lumut (ikatan jomlo lucu dan imut, haha), tepatnya sekitar 2 tahun kurang beberapa bulan, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan ini..

Berdamai dengan Kehilangan

Oke, saya ga mengalami ini sendirian. Masih banyak ibu-ibu single mom lain di seluruh dunia. Dan tidak sedikit dari mereka yang menjadi orang sukses. Mereka berhasil hidup dengan kebahagiaan versi mereka. Mungkin tidak sempurna, tapi itu yang terbaik.

Yah ga usah jauh-jauh. Mama saya adalah contoh nyatanya. Mama berpisah dengan papa saat saya kelas 1 SMA. Memang hidup mama setelah itu jadi serba kesulitan. Tapi setelah tahun-tahun terkelam, mama bisa bangkit dan akhirnya bisa bertemu seseorang yang bisa menyayangi mama apa adanya dan bikin mama bahagia.

Ih tuh kan, kalau si mama aja bisa, apalagi aku kan. Harusnya lebih mudah move on. Tapi ya gimana ya.. Hemm..

Akhirnya, saya memutuskan untuk kembali merajut jalinan kasih silaturahim dengan teman-teman saya yang sudah lama terputus. Sulit sekali awalnya. Bertemu dengan teman-teman sama deg-degannya dengan saat pertama kali ngedate dengan pacara pertama. Haha.. Malu, takut, ga PD, ya semacam itulah.

Titik balik saya adalah pada saat berani menulis status di Facebook (Makasih Facebook!).
Dari situ teman-teman mulai menghubungi saya. Alhamdulillah, ternyata tidak sesulit dan semenyeramkan yang dibayangkan

Begitupun ketika saya memutuskan untuk menghadiri pernikahan besties saya waktu SMA. Kira-kira sudah lama sekali ga ketemu. Ada hampir 10 tahun kali yah.. Tua amat sayaaa.. x_x
Karena tidak ada yang mengantar, saya pergi ke resepsi pernikahan menggunakan Gojek. Sesampainya di lokasi, saya tak henti-hentinya bertanya kepada driver Gojek, "Mas, ini kerudung saya udah rapih? Mas, ini berantakan ga? Mas, ini make up saya gimana?" Haha.. Untungnya si driver Gojek punya kesabaran tingkat tinggi dan menyemangati saya untuk masuk ke gedung. Ih, asli nervous banget deh pokoknya.

Alhamdulillah, Allah memang baik. Teman-teman saya menyambut saya dengan hangat. Sambil bertanya kabar, mereka masih suka melucu seperti dulu. Teman-teman saya memang tukang lawak semua. Malam itu jadi malam yang paling menyenangkan untuk saya :D

Sejak saat itu, Allah terus menerus memberikan saya jalan dan kesempatan untuk meperbaiki silaturahim saya dengan teman-teman. Yang tadinya ga pernah ketemu, tiba-tiba ketemu di ATM pas ngambil uang karena disuruh mama. Yang tadinya udah ga tau kemana, tiba-tiba jadi sering komen-komenan di Facebook. Hal-hal yang menurut orang lain sederhana itu, buat saya adalah sebuah kemewahan yang bertahun-tahun ini saya tidak pernah memilikinya.

Ya, saya sudah berhasil berdamai dengan kehilangan.
Saya sudah berhasil melawan rasa kehilangan dan hal-hal negatif yang membuat saya sulit move on.
a saya dan saya pun bisa meneruskan aksi damai saya melawan kehilangan.

Tapi bukan berarti aksi damai saya berhenti sampai di sini.
Hati saya belum bisa berdamai dengan beberapa hal.
Jujur saja, sampai saat ini saya belum mampu memulai komunikasi dengan ayahnya Ahza atau keluarganya. Bukan saya bermaksud jahat, tapi hati saya masih terlalu rapuh untuk bisa melakukan aksi damai garis keras. Untuk bisa menganggap kalau semua sudah baik-baik saja seperti biasa.


Semua memang perlu waktu.
Dan semoga waktu bisa mengobati luka-luka hati saya.. (eaa!)
Yang pasti, jangan pernah menyerah dan berhenti berjuang. Ada Ahza yang membutuhkan ibu yang kuat dan tangguh. Ada Ahza yang membutuhkan figur ibu sekaligus ayah dari seorang dc. Dan akan ada Allah yang akan selalu mendengar doa-doa hambaNya dan memberi pertolongan pada saat kita butuhkan.

Oia, saya sekarang sudah baik-baik saja.
Sudah move on.
Dan sudah hidup jauh lebih bahagia :D

Jadi, apakah kamu sudah berdamai dengan kehilangan?

Tetap semangat ya..

19 comments :

  1. Aku pernah merasakan kehilangan banget orang terdekat.. Bedanya, dulu masih statusnya pacaran belum berkeluarga.. Pasti byk orang menganggap aku lebay ya, masa sih putus pacar koq sampe segitunya.. Bisa aja sih, soalnya aku pacaran dah sepuluh tahunan trus bubaran, rasanya sedih banget..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, 10 tahun, ga kebayang rasanya mba..
      Sabar ya.. Semoga digantikan dngan yang lebih baik.. aamiin :)

      Delete
  2. emang berat ya mbak kalau merelakan dan ikhlas atas kehilangan ;(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba.. tapi insya Allah lega ya kalau ikhlas :D

      Delete
  3. Mbaa, semoga kuat dan makin semangat menjalani hidup. Memang tak semua teman mengerti apa yang kita rasakan. Semangat, mbaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbaaa.. makasih sudah berkunjung yaa :)

      Delete
  4. mantap sekali, kuat ya mbak, salut aku

    ReplyDelete
    Replies
    1. mba, da aku mah apa atuh.
      makasih yaa sudah berkunjung :D

      Delete
  5. Alhamdulillah, sudah bahagia, keep move on mbak hehe
    Oh ya, soal kehilangan, saya selalu keinget kata Mama Dedeh, manusia itu berdiri di atas dua ketiadaan, awalnya gak punya, skrng punya, bsoknya lagi gak punya :)

    ReplyDelete
  6. Salut Maak. Harus belajar nih biar bs mup on jugak :D

    ReplyDelete
  7. Saluuut..semoga selalu diberi kekuatan mbak..ada Allah yang selalu setia merangkul dan ada Ahza yang membutuhkan kekuatan seorang ibu (y)

    Btw, tadi pas bagian tanya penampilan pada driver gojeknya, untuk dia gak bilang, kenapa gak tanya sama kaca spion aja mbak hehe *peace*

    ReplyDelete
  8. saya baca ini hari minggu, pake hp, nggak bisa komen, ikut sedih, karena tau banget perasaan gini, tapi beda cerita.
    *sekarang pake laptop, baru bisa komen*

    ReplyDelete
  9. Semangat mama Ahza...Semua akan indah pada waktuNya kan des :)

    ReplyDelete
  10. Saya kadang heran sama orang yang menganggap keputusan menjadi singel mom itu negatif. Suami saya juga agak posesif, Mba Dess.. Tapi Alhamdulillah sajauh ini kami masih bisa saling melengkapi. Dan saya juga nggak bisa bayangin, kehidupan saat menjadi singel mom itu kayak gimana. Yang jelas.. Tetap semangat, Mba Des.. Seperti kata orang kebanyakan.. Semua akan indah pada waktunya. :D

    ReplyDelete
  11. Mak, pasangan yg tidak berpisah pun belum tentu bahagia. Justru dgn berpisah malah yg kadang mendapatkan kebahagiaan.

    Menurutku apapun kondisi kita sekarang, slama itu adalah pilihan hati sendiri ..pasti yg terbaik untuk kita.

    Stay strong ya Mak :)

    ReplyDelete
  12. Semangat mba Desi. Semoga segera sembuh dan berdamai dg keluarga mantan ya.
    Btw, ternyata kita seumuran ya. Sama2 kelahiran 88.

    ReplyDelete
  13. Emak jerapah semangat....

    ReplyDelete
  14. Mba, Aku terharu sekaligus merasa bangga banget sama mba, ada perempuan sekuat mba. Semoga selalu diberi kekuatan menjadi orang tua yang baik yah..amiin

    ReplyDelete
  15. Mungkin itu salah cara tuhan untuk membuat kita bahagi,,,

    ReplyDelete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...