January 09, 2016

Mencari Ilmu ke Negeri Sakura


Di penghujung 2015 yang lalu, saya sempat bertemu kangen dengan sahabat saya selama kuliah, Teh Cici namanya. Berbincang dengan sahabat yang sudah lama tidak berjumpa memang mengasyikkan.  Semua hal kami bahas. Dari mulai teman-teman kami semasa kuliah, pekerjaan, kehidupan pribadi, ah pokoknya segalanya. 


Perbincangan kami bertambah seru saat Teh Cici menceritakan pengalamannya selama mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang. Dia bercerita bagaimana keramahan masyarakat Jepang kepada dirinya dan masyarakat pendatang Indonesia lainnya. Masyarakat Jepang juga tidak pernah mempermasalahkan keyakinan yang kita anut dan pilihan yang kita ambil. Sebagai contohnya saja, teman-teman Teteh menghormati keputusan Teh Cici untuk tidak ikut serta pada acara pesta atau makan malam yang ada agenda ‘minum-minum’nya. Teman-temannya memaklumi dan tidak ambil pusing dengan keputusan Teteh tersebut. Ya, bertenab, no matter what, begitulah kira-kira.

Selain itu, ternyata banyak sekali keuntungan yang didapat dari sekolah di Jepang. Salah satunya yang mengejutkan saya adalah betapa mudahnya pergi haji dari Jepang. Kok bisa? Sedangkan di Indonesia untuk pergi haji perlu menunggu bertahun-tahun bahkan belasan tahun. 

Ternyata, karena masyarakat muslim di Jepang bisa dikatakan sedikit, kuota haji di Negara Sakura tersebut tidak pernah terpenuhi. Sehingga, setiap musim haji datang, para agen travel berlomba-lomba untuk menawarkan promo-promo haji kepada para masyarakat muslim di sana. Bahkan, tidak jarang mereka melakukan potongan harga besar-besaran mendekati penutupan kuota haji agar target mereka terpenuhi. Maklum, para agen tersebut kan sudah booking kamar hotel dan catering di Arab Saudi sehingga mereka bisa mengalami kerugian jika peserta haji dari Jepang tidak mencapai target. Subhanallah, ternyata ada cara pergi haji dengan cukup mudah via Negara Jepang ya.. :)

Begitupun dengan beasiswa untuk bersekolah di Jepang. Kata Teh Cici, Jepang mulai kekurangan mahasiswa dan pemuda. Memang benar, dari berita yang saya baca, angka kelahiran di Jepang memang minimalis sekali karena para pasangan menganggap bahwa memiliki anak merupakan bebasn karena harus enginvestasikan uang dengan jumlah yang relatif besar untuk mendidiknya. Diprediksi, beberapa waktu yang akan datang, akan ada kelangkaan generasi muda di negara tersebut. Apalah arti sebuah negara tanpa pemuda, betul?

Maka, pemerintah Jepang memberikan peluang sebesar-besarnya untuk para mahasiswa mancanegara untuk dapat bersekolah di sana. Mereka memfasilitasi dengan program studi khusus mahasiswa asing, beasiswa dan para profesor yang komunikatif pada para calon mahasiswa asing. Ini juga yang membuat saya terkagum. Profesor di Jepang sangat berbeda dengan profesor di Indonesia pada umumnya. Profesor di sana sangat humble, ramah dan komunikatif dengan para calon mahasiswa ataupun pada mahasiswanya. Mereka menganggap mahasiswa sebagai kolega atau partner sehingga para mahasiswa pun dapat lebih mudah berkomunikasi serta menyampaikan ide dan gagasan mereka tentang suatu penelitian. 

Lantas, sulitkah dapat beasiswa ke Jepang? Kata Teh Cici sih engga. Relatif mudah katanya.
Ehem, kalau Teteh yang ngomong saya percaya deh. Hehehe..

Kata Teteh, hanya 3 poin penting yang bisa mengantarkan kita untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri, termasuk ke Jepang:

1. Lengkapi semua persyaratan administrasi. 

Biasanya, untuk mendaftar beasiswa, banyaaak sekali berkas-berkas yang harus kita persiapkan. Seribet apapun itu, lakukanlah. Jika lengkap, dapat dipastikan kamu akan lulus ke tahap selanjutnya.

2. Tahap yang paling menentukan saat seleksi penerimaan beasiswa adalah pada sesi interview

Ada tips dari Teteh untuk menghadapi sesi ini. Jadilah orang yang komunikatif, percaya diri dan yang paling penting: enak untuk diajak ngobrol. Mengapa harus komunikatif? Karena, selain membawa nama negara, kita juga membawa nama lembaga yang mana harus dijaga untuk kelangsungan kerja sama antara lembaga dan Jepang. Oleh karena itu, mereka memerlukan mahasiswa yang komunikatif agar dapat dengan luwes berkomunikasi dengan pribumi di sana. Kemudian, percaya diri. Percaya diri diperlukan agar kita tidak mudah down dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari interviewer. Jawab saja dengan percaya diri! Kata Teteh. Yang terakhir dan yang paling penting adalah: enak diajak ngobrol. Poin ini diketahui Teteh dari hasil bincang-bincang saat Teteh sudah mendapatkan beasiswa. Ternyata, tak perlu orang yang jenius, cerdas atau kutu buku untuk lulus seleksi beasiswa! Kamu hanya harus menjadi orang yang enak untuk diajak ngobrol oleh interviewer karena mungkin (mungkin ya, ini asumsi saya) dari obrolan singkat itu interviewer dapat menilai orang yang seperti apakah kita.


3. Kita harus yakin tentang apa yang akan kita lakukan di sana. 

Ya iya atuh ya ini mah, interviewernya juga bingung kalau kita ga tau mau ngapain nanti sesampainya di luar negeri. Hahaha..

Teteh menyemangati saya untuk mencari beasiswa ke Jepang. Langkah awalnya adalah dengan berkomunikasi dengan profesor yang membidangi hal yang akan saya pelajari. Jika ingin mempelajari tentang bisnis, carilah profesor yang membidangi laboratorium bisnis, dan seterusnya.

Kyoto University (sumber)

Ah, saya pun jadi bersemangat mendengar penjelasan Teteh yang panjang lebar namun tidak membosankan itu. Saya jadi tau, mau apa saya di tahun 2016 ini. Ya, saya harus mendapatkan beasiswa ke Jepang! Beasiswa untuk melanjutkan program doktoral saya di bidang manajemen bisnis.

Saya pun teringat permintaan mama ketika saya baru saja berpisah dengan ayahnya Ahza.
“Ayo, Cie, lanjutkan saja ya sekolahnya. Bukannya kamu dari dulu selalu ingin sekolah ke luar negeri? Ayo lanjutkan pendidikanmu ke luar negeri. Nanti Ahza dan mama ikut ya.. Biar mama yang mengurus Ahza di rumah selama kamu belajar di sana.”
Apalagi kalau bisa menghajikan mama di sana ya. Ah, saya sampai mau menitikkan air mata di depan Teh Cici. Teh Cici pun kembali menyemangati saya dan meyakinkan saya untuk semakin mantap sekolah ke luar negeri.

“Ayo, Ce. Dengan sekolah ke luar negeri, aku jamin kamu akan melupakan semua masa lalumu di sini. Kamu akan terlalu exited saat menemukan hal-hal baru di sana dan terlalu sibuk dengan Ahza sampai-sampai kamu tidak akan lagi kepikiran akan masa lalumu. Ayo Ce, pasti bisa!”, kata Teh Cici semakin mengobarkan api semangat di dada saya.

Oke teh, kalau begitu, ini resolusi terdahsyat saya di tahun 2016: MENDAPATKAN BEASISWA KE LUAR NEGERI.
Siap? Siaaap!!
Kalau kamu, apa resolusi terdahsyat kamu di tahun 2016 ini?


Salam dashyat!

5 comments :

  1. Jeoang memang sesuatu yg misterius dan unik. Dulu sempat pingin sih sekolah di sana, tapi keburu menikah, he,...he,,

    ReplyDelete
  2. Tulisannya mbak bikin terharu di paragraf terakhir... serasa ada selaksa cerita disana^^
    Pun sangat membakar semangat di paragraf awal dan tengah karena ada motivasi disana.. saya jd kangen saudara kembar saya..dia jg skrng sementara kuliah s2di jepang jurusan fisika.. cerita yg sama selalu dibagikan pd saya by phone...

    Semangat menggapai mimpi di negara sakura yaa mbak sayang^^
    Salam kenal..

    ReplyDelete
  3. Semangat mbak Dessy, sayangnya di kampus suamiku rata-rata jurusan teknik, gak bisa rekomendasi profesor deh

    ReplyDelete
  4. pengen bgt bisa ke negeri sakura, apa lagi dapet beasiswa T_T

    ReplyDelete

Komentar anda, Semangat saya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...